Rabu 12 Jan 2022 12:16 WIB

Tujuh Tim UII Terima Bantuan Pra-Startup

Ada tujuh startup yang menerima bantuan pra-startup di UII.

Rep: Wahyu Suryana/ Red: Muhammad Fakhruddin
Tujuh Tim UII Terima Bantuan Pra-Startup. Kampus UII Yogyakarta.
Foto: Wahyu Suryana.
Tujuh Tim UII Terima Bantuan Pra-Startup. Kampus UII Yogyakarta.

REPUBLIKA.CO.ID,SLEMAN -- Direktorat Pembinaan dan Pengembangan Kewirausahaan atau Simpul Tumbuh Universitas Islam Indonesia (UII) memulai Program Pra-Startup Sosialisasi Hibah Inovasi. Ini menjadi kick off bantuan pra-startup dari Kementerian Ristek Dikti.

Wakil Rektor Bidang Networking dan Kewirausahaan UII, Wiryono Raharjo, mengaku bersyukur ada tujuh startup yang menerima bantuan pra-startup di UII. Ada Usy-Box Urinalysis Rapid Test Service dengan inovasi urinalysis rapid test service.

Baca Juga

Idemes 2.0, dengan inovasi alat penakar gula otomatis sebagai pengingat batasan konsumsi gula pasir harian berdasar tingkat kadar gula darah penderita diabetes melitus. ITMS 1.0 dengan alat pemantau tekanan ban otomatis area pertambangan.

Netraku dengan aplikasi pengenal obyek berbasis AI untuk difabel netra. Kemudian, Nect Optima lewat inovasi vehicle routing, employee scheduling and goods parking optimisation. Ranger Px-li dengan inovasi berupa rice cooker sehat rendah gula.

 

Terakhir, ada Zakea Indonesia dengan inovasi kosmetik halal natural berbasis nano teknologi. Kepada masing-masing startup diberikan bantuan senilai Rp 250 juta, sehingga total bantuan yang didapatkan tim-tim dari UII Rp 1.750.000.000.

"Kita doakan semoga tujuh tim dapat menjalankan program sesuai rencana dan memberi manfaat sesuai yang diharapkan," kata Wiryono, Rabu (12/1/2022).

Plt Direktur Riset Teknologi, Pengembangan dan Pengabdian kepada Masyarakat Dikti Ristek, Teuku Faisal Fathani menuturkan, Indonesia sudah memiliki banyak keunggulan komparatif. Itu harus terus dicoba diubah jadi keunggulan kompetitif.

Ia mengingatkan, hari ini tingginya tingkat pendidikan tidak menjamin mudahnya mendapat pekerjaan. Apalagi, bonus demografi membuat Indonesia diperkirakan pada 2045 miliki 318 juta penduduk, dengan rasio ketergantungan yang juga meningkat.

Maka itu, ia merasa, perlu didorong lulusan-lulusan perguruan tinggi bisa jadi pencipta tenaga kerja dan bukan sekadar pencari kerja. Salah satunya dilakukan dengan penumbuhan startup dan technopreneur melalui inkubasi bisnis teknologi.

Ada beberapa alasan startup jadi pilihan. Sudah memanfaatkan teknologi digital, mudah adaptasi, inovatif dan berani membuat terobosan, membuka lapangan kerja, mampu tumbuh, tawarkan produk baru dan sebagian besar dijalankan pengusaha muda.

Bahkan, pada 2019 nilai ekonomi startup capai USD 3 triliun, setara PDB ekonomi dunia (G7) dan meningkat 20 persen dua tahun terakhir. Karenanya, meski rintisan startup mampu menciptakan gelombang ekonomi yang mengubah cara hidup masyarakat.

"Harapannya, nantinya untuk institusi UII sebagai inkubator bisa merekatkan riset-riset inovasi dengan dunia industri, dengan komersialisasi," ujar Faisal.

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement