Rabu 12 Jan 2022 16:19 WIB

Ganjar Ingin Aplikasi Pengelolaan Sampah Banyumas Direplikasi Daerah Lain

Konsep daur ulang sampah menggunakan aplikasi merupakan yang pertama di Jateng.

Rep: Idealisa Masyrafina/ Red: Yusuf Assidiq
Gubernur Jateng Ganjar Pranowo saat menghadiri peluncuran aplikasi daur ulang sampah Banyumas, Jeknyong.
Foto: Idealisa Mayrafina
Gubernur Jateng Ganjar Pranowo saat menghadiri peluncuran aplikasi daur ulang sampah Banyumas, Jeknyong.

REPUBLIKA.CO.ID, PURWOKERTO -- Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo berharap implementasi aplikasi Jeknyong dalam mendaur ulang sampah dapat berjalan dengan baik dan direplikasi di kabupaten lainnya di Jateng. Konsep pengelolaan daur ulang sampah menggunakan aplikasi ini merupakan yang pertama di Jateng.

Aplikasi Jeknyong yang diluncurkan pada Rabu (12/1), mengintegrasikan layanan daur ulang sampah, ojek reguler, wisata, dan jual beli produk UMKM. Dalam peluncurannya, fitur Ide Baru Memilah Sampah (IBMS) merupakan fitur pertama yang dapat digunakan.

Sebagai armadanya, digunakan sepeda motor roda tiga untuk menjemput sampah yang dipilah masyarakat. "Kita ingin melihat praktiknya, harapannya nantinya bisa berjalan dan lebih baik pengelolaannya. Kalau baik akan tak tiru (di daerah lain)," ujar Ganjar usai acara peluncuran di kompleks kantor Bupati Banyumas, Rabu (12/1).

Ganjar menjelaskan, masalah sampah memang menjadi masalah krusial di berbagai daerah dan pengelolaannya selalu menuai banyak tantangan. Meski tidak menggunakan aplikasi, beberapa daerah lain di Jateng telah menggunakan konsep jemput bola yang sama.

 

Akan tetapi, ia menilai program mereka tidak berjalan terlalu sukses. "Yang susah itu memilah dan membiasakan untuk mau lapor apa gak. Itu tidak gampang lho, karena Kadang-kadang masyarakat pikir, 'ah cuma dikit,"" ujarnya.

Ia mengungkapkan, konsep jemput bola layanan daur ulang sampah tersebut telah dilaksanakan di kota-kota besar Jateng seperti Semarang, Solo, dan Salatiga. Untuk yang aplikasi, seorang anak muda di sebuah desa di Banjarnegara telah menerapkannya, hasil dari juara startup yang diselenggarakan Jateng.

Akan tetapi lingkupnya dinilai masih terlalu kecil untuk unit bisnis. "Kalau ini se-Banyumas mungkin lebih bagus lagi. Kalau ini bisa dibesarkan sebenarnya bisa teritorinya tidak lagi pada teritori pemerintah daerah, ini bisa melebar se-Banyumas Raya," kata Ganjar.  

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement