Rabu 16 Feb 2022 18:16 WIB

Perajin Tahu Tempe Jawa Tengah Bersiap Mogok Produksi

Harga komoditas kedelai saat ini semakin memberatkan para perajin.

Rep: Bowo Pribadi/ Red: Fernan Rahadi
Pekerja memasukkan kedelai ke dalam karung di Pabrik Tahu NJ, Jalan Terusan Pasirkoja, Babakan Ciparay, Kota Bandung, Rabu (16/2/2022). Sejumlah perajin tahu tempe di Bandung berencana akan melakukan mogok produksi pada 21-23 Februari 2022.
Foto: REPUBLIKA/ABDAN SYAKURA
Pekerja memasukkan kedelai ke dalam karung di Pabrik Tahu NJ, Jalan Terusan Pasirkoja, Babakan Ciparay, Kota Bandung, Rabu (16/2/2022). Sejumlah perajin tahu tempe di Bandung berencana akan melakukan mogok produksi pada 21-23 Februari 2022.

REPUBLIKA.CO.ID, SALATIGA -- Buntut mahalnya harga kedelai, para perajin tahu dan tempe yang tergabung dalam Pusat Koperasi Tahu Tempe Indonesia (Puskopti) Jawa Tengah memutuskan untuk menghentikan produksi.

Rencananya, para perajin tahu dan tempe di Jawa Tengah akan menghentikan produksi mereka selama empat hari, terhitung mulai 21 sampai 23 Februari 2022 nanti.

"Saat ini kenaikan harga kedelai semakin tak terkendali, anggota kami sepakat mogok produksi dalam merespons kondisi ini," kata Ketua Puskopti Jawa Tengah, Sutrisno Supriantoro di Salatiga, Jawa Tengah, Rabu (16/2).

Menurutnya, harga komoditas kedelai sebagai bahan utama tahu dan tempe saat ini semakin memberatkan para perajin. Maka Puskopti meminta Pemerintah harus turun tangan agar problem harga kedelai ini tidak berlarut-larut.

 

Sutrisno juga menyampaikan, selama ini Puskopti Jawa Tengah telah mengambil beberapa strategi guna menyikapi lonjakan harga komoditas kedelai ini.

Antara lain mengimbau kepada seluruh anggotanya untuk menyesuaikan harga jual dengan ongkos produksi yang disesuaikan dengan kenaikan harga bahan baku kedelai.

"Saat ini harga kedelai sudah mencapai Rp 10.500 hingga Rp 11.000 per kilogram, sehingga untuk harga tahu tempe disesuaikan menjadi Rp 53.700 per papan atau kisaran Rp 20.000 per drum," jelasnya.

Namun jika diteruskan, strategi ini pada akhirnya juga sangat memberatkan para perajin tahu dan tempe. Sehingga anggota Puskopti merespon situasi ini dengan menghentikan produksi.

Sutrisno berharap seluruh anggotanya solid dan kompak dalam menjalankan rencan aksi mogok produksi tersebut. Jika ada anggota yang tidak mengikuti dan memicu protes dari anggota lain,  maka risiko dan konsekuensi ditanggung sendiri," tegasnya. 

Meski perajin memutuskan untuk mogok berproduksi, Sutrisno tetap mengimbau kepada para anggota Puskopti untuk tidak turun ke jalan atau melakakan tindak yang cenderung anarkis.

Namun tetap menyampaikan aspirasi atau protes, dengan cara-cara yang tetap konstruktif. Sehingga nantinya pemerintah akan mendengarkan suara perajin tahu dan tempe di Jawa Tengah ini.

"Kami juga meminta maaf kepada masyarakat atas keputusan mogok produksi ini. "Ini merupakan langkah yang harus kami ambil, karena harga kedelai kenaikannya kian memberatkan," katanya.

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement