Jumat 18 Feb 2022 08:33 WIB

Jurnalis Meksiko Desak Pemerintah Akhiri Kekerasan Pada Wartawan

Kekerasan terhadap jurnalis di Meksiko memicu tekanan masyarakat internasional.

Rep: Lintar Satria/ Red: Fernan Rahadi
Presiden Meksiko Andrés Manuel López Obrador.
Foto: AP/Marco Ugarte
Presiden Meksiko Andrés Manuel López Obrador.

REPUBLIKA.CO.ID, MEXICO CITY -- Jurnalis di Kota Tijuana, Meksiko berunjuk rasa mendesak Presiden Andres Manuel Lopez Obrador agar yang bersangkutan mengakhiri segala bentuk tindakan kekerasan terhadap wartawan. Pada tahun ini sudah lima pekerja media yang tewas dibunuh.

Para wartawan berunjuk rasa di dalam dan di luar barak militer di Tijuana, tempat Lopez Obrador menggelar konferensi pers pagi.

Dua dari lima pekerja media yang tewas tahun ini dibunuh di Tijuana. Protes ini juga digelar saat presiden meningkatkan serangan verbalnya pada jurnalis.

"Profesi kami sangat terluka, seperti di seluruh Meksiko. Kami bekerja di bawah bayang-bayang diserang dan dibunuh karena pekerjaan kami, dan kejahatan terhadap kami tidak diselesaikan," kata wartawan lokal Sonia de Anda di konferensi pers, Kamis (17/2).

Lopez Obrador mengatakan ia menyesali kematian para wartawan dan tidak akan ada impunitas dalam kasus-kasus mereka. Tetapi kemudian ia kembali mengecam wartawan yang ia sebut jurnalis-jurnalis "bayaran" yang dibiayai "penjaja pengaruh" dan Amerika Serikat untuk menyerangnya.

Beberapa hari sebelumnya, Lopez Obrador dikritik karena berulang kali menyebutkan jumlah gaji seorang penyiar berita terkenal di Meksiko, Carlos Loret de Mola, dalam sebuah konferensi pers. Serangan Lopez Obrador dilakukan setelah Loret mengungkapkan putra presiden itu tinggal di sebuah rumah di Texas milik petinggi perusahaan yang berbisnis dengan perusahaan minyak pemerintah Petroleos Mexicanos (Pemex).  

"Kami meminta Anda berhenti untuk mengirimkan pesan kebencian terhadap profesi kami secara umum, yang membawa kami semua ke situasi yang sama," kata seorang wartawan lainnya, Alejandra Guerra di luar konferensi pers.

Kekerasan terhadap jurnalis di Meksiko memicu tekanan masyarakat internasional pada Lopez Obrador, termasuk dari para anggota Kongres AS. Unjuk rasa pada Kamis kemarin merupakan protes terbaru para jurnalis.

Pada awal pekan ini, pers yang meliput Kongres Meksiko membelakangi para legislator. Kemudian mereka berteriak "Kami ingin tetap hidup!" 

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement