Selasa 19 Apr 2022 10:00 WIB
Syiar Ramadhan

Menyelamatkan Dunia dengan Puasa

Puasa yang dimaknai secara dhahiriah tak akan mampu berikan pengaruh berskala besar

Ilustrasi Puasa
Foto: Republika/Mardiah
Ilustrasi Puasa

Oleh : Nurdin Zuhdi*

REPUBLIKA.CO.ID, Puasa Ramadhan bukan hanya mengajarkan kesalehan individual, namun juga mengajarkan kesalehan alam dan sosial. Puasa memang ibadah yang bersifat pribadi, karena hanya dirinya dan Tuhannya yang tahu. Namun hakikat dan nilai spiritual yang terkandung di dalam puasa mengajarkan pentingnya  sikap simpati dan empati, baik pada sesama umat manusia maupun kepada alam lingkungan semesta. Sebab itu, Rasulullah SAW mewanti-wanti agar puasa yang dijalankan umat Islam tidak hanya sekedar mendapatkan rasa lapar dan dahaga semata (HR Ibnu Majah).

Inilah pentingnya memaknai puasa secara lebih luas, yakni, puasa tidak hanya dimaknai hanya sekedar menahan dari hal-hal yang dapat membatalkan puasa secara dhahiriah semata, seperti makan, minun dan hubungan biologis sejak terbit fajar hingga tenggelam matahari. Namun puasa hendaknya juga harus dimaknai secara lebih luas, yaitu menahan dari hal-hal yang dapat membatalkan puasa secara batiniah, yaitu menahan diri dari hal-hal yang dapat menggugurkan batalnya pahala puasa.

Hakikat Puasa

Puasa yang hanya dimaknai secara dhahiriah tidak akan mampu memberikan pengaruh terhadap perubahan dunia berskala besar. Agar puasa yang dijalankan umat Islam dapat memberikan pengaruh terhadap perubahan dunia berskala besar, maka diperlukan puasa batiniah.

Puasa yang bukan hanya sekedar dimaknai menahan diri dari hal-hal yang dapat membatalkan puasa secara sempit semata, seperti makan, minum, dan hubungan biologis sejak terbit fajar hingga tenggelam matahari. Namun juga dimaknai menahan diri secara lebih luas, yaitu menahan diri dari hal-hal yang dapat menggugurkan pahala puasa, seperti menahan seluruh anggota tubuh dari perbuatan yang dapat mendatangkan kemudaratan, baik bagi dirinya, orang lain dan alam lingkungan.

Sebab itu, Imam Ghazali dalam Ihya Ulumuddin, memasukkan puasa yang dapat memberikan pengaruh terhadap perubahan dunia berskala besar ini sebagai kelompok shaum al-khushush, yaitu puasanya orang-orang khusus, yakni puasa yang juga menahan telinga, lisan, tangan, kaki, dan seluruh anggota tubuh dari perbuatan dosa. Baik dosa kepada Tuhannya, sesama manusia, mapun dosa kepada alam lingkungannya. Puasa inilah yang akan memberikan pengaruh terhadap perubahan dunia berskala besar. Puasa yang bukan hanya mengejar kesalehan individual semata, namun juga puasa yang juga mementingkan kesalehan alam lingkungan dan alam sosial kemanusiaan.

Puasa Sebagai Solusi

Jika diperhatikan, betapa banyak kerusakan yang terjadi di muka bumi akibat manusia tidak memiliki sikap "menahan diri". Selama ini banyak orang yang hanya mengejar kesalehan individual dengan mengabaikan kesalehan alam lingkungan dan alam sosial kemanusiaan.

Padahal, tanpa kesalehan alam lingkungan dan alam sosial kemanusiaan, bumi dan penduduknya akan terancam rusak dan punah. Jelas bahwa kerusakan yang telah tampak di darat dan di laut adalah karena disebabkan perbuatan tangan manusia yang tidak mampu menahan diri (QS Ar-Ruum [30]: 41).

Tidak dipungkiri bahwa saat ini warga dunia tengah mengadapi ancaman yang juga tidak kalah mengerikan dari Pandemi Covid-19, yaitu krisis kerusakan alam berupa perubahan iklim global dan krisis kemanusiaan berupa degradasi moral. Kerusakan alam dan degradasi moral adalah akibat manusia tidak mampu menahan diri. Tentu, krisis-krisis ini dapat diantisipasi sejak dini dengan cara manusia belajar "menahan diri" dari makna puasa yang dijalani. Dengan sikap menahan diri inilah kerusakan alam dan degradasi moral akan dapat diatasi. 

 

*Dosen Agama Islam dan Kemuhammadiyahan Universitas 'Aisyiyah Yogyakarta

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement