Jumat 22 Apr 2022 18:28 WIB

Kepemimpinan Perempuan di Indonesia Dinilai Belum Ideal

Kepemimpinan perempuan di sektor publik bisa menciptakan organisasi yang lebih sehat.

Wanita karier (ilustrasi)
Wanita karier (ilustrasi)

REPUBLIKA.CO.ID, YOGYAKARTA --  Dalam kuliah umum "Kepemimpinan Perempuan dan Transformasi Sosial" yang digelar secara daring oleh Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (Fisipol) Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta beberapa waktu lalu, putri Sri Sultan Hamengku Buwono (HB) X yang juga Penghageng Tepas Tandha Yekti Keraton Yogyakarta, Gusti Kanjeng Ratu (GKR) Hayu, mengatakan, di lingkup Keraton, perempuan telah berperan besar. Ia menyebutkan, pada masa sebelum perang Diponegoro, Permaisuri Sri Sultan Hamengku Buwono I, GKR Ageng, merupakan seorang panglima perang.

GKR Ageng, kata dia, juga berperan mendidik Pangeran Diponegoro.  Sementara itu, pada era Sri Sultan HB X, ada perubahan signifikan dalam penempatan perempuan di dalam Keraton Yogyakarta. Hayu dan keempat saudara perempuannya diberi tanggung jawab untuk memimpin lembaga di dalam Keraton.

"Posisi yang dulu masih kebanyakan diisi laki-laki, sekarang pemimpinnya perempuan. Otomatis terisi juga abdi dalem perempuan di dalamnya," ujarnya dalam siaran pers, Jumat (22/4/2022).

Pada kesempatan yang sama, Direktur External Affairs PT HM Sampoerna Tbk, Elvira Lianita, mengungkapkan, kepemimpinan perempuan di sektor swasta dan publik sangat penting bagi Indonesia maupun dunia. 

Mengutip riset Women in the Workplace 2018-2021 yang dilakukan oleh McKinsey & Company, kepemimpinan perempuan di sektor bisnis dan publik bisa menciptakan organisasi yang lebih sehat. Riset itu juga menunjukkan bahwa kepemimpinan perempuan mampu menghasilkan keputusan yang komprehensif dan inklusif karena mempertimbangkan berbagai aspek. Kepekaan perempuan dinilai mampu merumuskan strategi perusahaan yang sesuai dengan kebutuhan konsumen dan mendorong peningkatan performa keuangan perusahaan.

Akan tetapi, riset-riset lainnya menunjukkan, kesetaraan dan keterwakilan perempuan di level manajemen sektor swasta sangat minim. "Sayangnya, representasi kesetaraan gender belum tercapai baik di level global, maupun Indonesia," kata Elvira.

Untuk lingkup Indonesia, merujuk indeks World Economic Forum dalam laporan Kesenjangan Gender Global 2021, Indonesia menempati peringkat 101 dari 156 negara dalam hal kesetaraan gender. Dengan kondisi ini, Elvira mengatakan, berbagai tantangan dihadapi perempuan ketika menduduki posisi sebagai pemimpin.

Pertama, tantangan menghadapi stereotip gender atau gender bias. "Stereotip ini ketika perempuan dianggap tidak memiliki kapasitas yang sama dengan laki-laki ketika ada di posisi pimpinan. Biasanya, ini kita temukan di lingkungan pekerjaan yang didominasi laki-laki," kata Elvira.

"Posisi pemimpin itu bukan hanya milik laki-laki. Perempuan juga mampu menjadi pemimpin, ketika dia bisa menunjukkan kinerja yang baik dan berkontribusi bagi perusahaan," lanjut Elvira, yang telah berkarier di Sampoerna dan Philip Morris selama lebih dari dua dekade.

Tantangan kedua, membagi waktu antara pekerjaan dan keluarga. Menurut Elvira, sebagai ibu sekaligus profesional, tak sedikit perempuan yang mengalami dilema untuk memberikan hal terbaik bagi keluarga dan perusahaan.

Pada masa pandemi ini, tantangan bagi pekerja perempuan semakin berat, karena peran ganda yang harus diembannya. Data UN Women menunjukkan, di level global, 40 persen perempuan yang bekerja di sektor formal terdampak selama masa pandemi. Sedangkan 60 persen dari total pekerja perempuan dari sektor informal kehilangan pekerjaan.

Sementara itu, studi McKinsey menyebutkan, pekerja perempuan 1,8 kali lebih rentan mengalami pemutusan hubungan kerja (PHK) dibandingkan laki-laki.  "Hal ini karena posisi mereka dalam pekerjaan dianggap tidak terlalu strategis sehingga perusahaan lebih cenderung melepaskan pekerja perempuan. Padahal, sebagian dari mereka adalah tulang punggung keluarga," ujar Elvira.

Meski demikian, Elvira optimistis, ada solusi untuk berbagai tantangan yang dihadapi perempuan dalam dunia profesional. Ia menekankan, yang terpenting adalah memulai dari diri sendiri. Perempuan harus memiliki the right mindset atau pola pikir yang tepat dalam melihat situasi.

"Dalam dunia profesional, kita pasti menemukan situasi bias gender. Tetapi, situasi ini juga memicu saya untuk mematahkan stigma tersebut. Bagaimana caranya? Bekerja giat dan menunjukkannya melalui pencapaian dan kontribusi saya, tidak hanya untuk perusahaan tetapi juga masyarakat sekitar," papar Elvira.

Dengan pembuktian ini, ia yakin kemampuan perempuan akan dipandang dan bias gender akan luruh dengan sendirinya. Ia juga menekankan pentingnya etos kerja, bekerja keras, dan bekerja cerdas. "Kerja keras baik, tetapi akan lebih maksimal jika kita juga bekerja cerdas," kata dia.

Dapat mengunjungi Baitullah merupakan sebuah kebahagiaan bagi setiap Umat Muslim. Dalam satu tahun terakhir, berapa kali Sobat Republika melaksanakan Umroh?

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement