Senin 09 May 2022 07:07 WIB

Dinkes Jatim Luruskan Data Pasien Hepatitis Akut

Hingga saat ini belum ada temuan pasien hepatitis akut misterius di Jatim.

Rep: Dadang Kurnia/ Red: Fernan Rahadi
Ilustrasi hepatitis akut.
Foto: Dok Republika
Ilustrasi hepatitis akut.

REPUBLIKA.CO.ID, SURABAYA -- Kepala Dinas Kesehatan Jawa Timur, Erwin Astha Triyonno meluruskan data terkait adanya 114 pasien suspek hepatitis akut misterius. Eriwin mengatakan, berdasarkan hasil pemeriksaan, 114 pasien tersebut ternyata hanya syndrom jaundice alias penyakit kuning. Dia menyebut kesemuanya negatif hepatitis akut misterius.

"Setelah dapat informasi, 114 tidak terkait hepatitis virus yang belum diketahui penyebabnya," kata Erwin, Jumat (6/5).

Erwin menegaskan, hingga saat ini belum ada temuan pasien hepatitis akut misterius di Jatim. Hal-hal yang tercantum di Sistem Kewaspadaan Dini dan Respons (SKDR) Jatim, hanyalah sebagai laporan awal. Artinya bukan sebagai diagnosis pasien.

"Sehingga sampai hari ini masih belum ada hepatitis akut di Jatim. SKDR sistem kewaspdaan dini, itu aplikasi menerima laporan, ada pasien yang dicurigai kuning," ujarnya.

 

Ketika ada laporan di SKDR, lanjut Erwin, tim dari Dinkes Jatim langsung bergerak untuk melakukan verifikasi. Erwin melanjutkan, verifikasi terhadap penyakit kuning sangat penting. Karena gejala umum hepatitis akut misterius ialah penyakit kuning yang tampak pada mata dan kulit pasien yang terjangkit. Tapi, kata Erwin, penyakit kuning belum tentu hepatitis.

"Hepatitis akut bisa tandanya kuning tapi penyakit kuning belum tentu hepatitis akut. Tapi memang harus dicari penyebabnya dulu," kata Erwin.

Sebelumnya, Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa mengimbau seluruh masyarakat tidak panik dan tetapi sigap terkait kasus hepatitis akut yang belum diketahui etiologi atau penyebabnya. Khofifah mengatakan, pihaknya mendeteksi 114 kasus heparitis diduga sindrom jaundice akut yang tersebar di beberapa kabupaten/kota.

Yuk gabung diskusi sepak bola di sini ...
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement