Senin 23 May 2022 16:09 WIB

'Harkitnas Momentum Bangun Kebanggaan Nasional'

Di masa lalu, kaum muda berani membuang ego sektoral dan sentimen primordial.

Seorang anak memberikan cap tangan pada spanduk di Museum Kebangkitan Nasional, Jakarta, Jumat (20/5/2022). Museum Kebangkitan Nasional menggelar acara Bulan Kebangkitan Nasional bertajuk Mas[s]a Bangkit yang memamerkan lukisan dan instalasi seni dari seniman serta anak berkebutuhan khusus dalam rangka memperingati Hari Kebangkitan Nasional ke-114. Republika/Putra M. Akbar
Foto: Republika/Putra M. Akbar
Seorang anak memberikan cap tangan pada spanduk di Museum Kebangkitan Nasional, Jakarta, Jumat (20/5/2022). Museum Kebangkitan Nasional menggelar acara Bulan Kebangkitan Nasional bertajuk Mas[s]a Bangkit yang memamerkan lukisan dan instalasi seni dari seniman serta anak berkebutuhan khusus dalam rangka memperingati Hari Kebangkitan Nasional ke-114. Republika/Putra M. Akbar

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Semangat nasionalisme pada Hari Kebangkitan Nasional (Harkitnas) menandakan rumusan identitas kebangsaan yang tidak lagi terikat oleh fanatisme suku, etnis,  dan kepentingan sekterian lainnya. Tokoh Muda Nahdlatul Ulama (NU),KH Adnan Anwar peringatan Harkitnas haruslah menjadi momen membangun kebanggaan nasional.

 "Harus ada yang namanya disebut kebanggaan nasional, semua warga bangsa utamanya kaum milenial ini harus memperkuat jati diri ke Indonesiaannya bahwa Indonesia ini memiliki peradaban yang sangat maju dan mampu mengelola perbedaan serta bisa mengelola berbagai macam tantangan," ujar KH Adnan Anwar di Jakarta, Jumat (20/5/2022).

Ia melanjutkan, di samping membangun kebanggan nasional sebagai bangsa yang memiliki sejarah besar dan budaya toleransi yang kental, peringatan Hari Kebangkitan Nasional ini harus bisa menjadi momentum agar kita semua warga bangsa ini senantiasa menyuntikkan spirit nasionalisme dan patriotisme di hati seluruh sanubari anak bangsa.

"Seperti di masa lalu, kaum muda berani membuang ego sektoral dan sentimen primordial demi memperjuangkan kepentingan yang lebih besar, yakni kemerdekaan bangsa," ucap pria yang juga Ketua Umum Yayasan Direktur Panata Dipantara tersebut.

 

Terlebih lagi, praktik intoleransi, ekstremisme, radikalisme dan terorisme dalam beberapa tahun terakhir membuat relasi keagamaan dan kebangsaan merenggang akibat merebaknya paham ekstremisme-kekerasan yang dilatari oleh konservatisme dan fanatisme keagamaan.

"Padahal agama-agama di Indonesia seperti Islam, Kristen, Katolik, Hindu, Budha, dan Konghucu selama ini sangat berperan sangat aktif sebagai stabilisator dan penjaga NKRI. Namun, ideologi transnasional bertopeng agama justru telah menyumbang andil pada lunturnya nasionalisme," jelas pria yang akrab disapa Kyai Adnan ini

Untuk itu, pria yang juga Instruktur Pendidikan Kader Penggerak Nahdatul Ulama (PKPNU) Nasional ini kembali mengingatkan untuk kembali kepada pride of nations. Kebanggaan terhadap nasionalisme bangsa ini harus dimunculkan, bahwa membesarkan bangsa kita itu lebih baik daripada mencari pilihan ideologi lain yang belum terbukti kalau diterapkan bisa menghasilkan kemaslahatan atau kebaikan.

"Dan kita juga harus selalu mensyukuri atas peran dari para founding father, yang mampu melahirkan sebuah negara besar dengan tingkat keragaman paling kompleks, yang masih eksis dan paling aman. kita perlu mewujudkan rasa syukur dan bangkit bahwa negara kita adalah  yang terbaik di antara negara yang lain yang sedang berkonflik,”tutur mantan Wakil Sekretaris Jenderal (Wasekjen) Pengurus Besar NU ini.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement