Senin 20 Jun 2022 15:20 WIB

UGM Kembangkan Aplikasi Penyuluhan Pertanian dan Pupuk Hayati

Aplikasi ini dapat digunakan petani untuk konsultasi pertanian.

Rep: Wahyu Suryana/ Red: Yusuf Assidiq
Presiden Jerman, Frank-Walter Steinmeier, saat menyaksikan aplikasi Desa Apps yang dipamerkan di Balairung UGM.
Foto: Dokumen
Presiden Jerman, Frank-Walter Steinmeier, saat menyaksikan aplikasi Desa Apps yang dipamerkan di Balairung UGM.

REPUBLIKA.CO.ID, SLEMAN -- Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada (UGM) sukses mengembangkan aplikasi penyuluhan dan komunikasi pertanian berbasis digital, Desa Apps. Nama tersebut merupakan singkatan dari Digital Extension Society for Agriculture.

Desa Apps resmi diluncurkan 19 Desember 2016. Aplikasi ini menawarkan fitur-fitur yang membantu petani meningkatkan kualitas usaha tani. Ada fitur tanya jawab, artikel, catatan tani, info cuaca, info toko, info kantor, dan pasar.

Hingga 16 Juni 2022, aplikasi Desa Apps tercatat memiliki lebih dari 14.900 pengguna di seluruh Indonesia. Selain itu, Desa Apps UGM rutin menyelenggarakan program webinar series 'Bincang Desa (BISA)' yang hadir setiap dua pekan sekali.

Untuk meningkatkan layanannya, saat ini Desa Apps dikembangkan menjadi sebuah aplikasi berbasis website bernama Lentera Desa. Sebagai platform edukasi dan pelatihan daring agrokompleks, lebih mudah dijangkau siapapun dan di manapun.

 

Akhir pekan lalu, Presiden Jerman, Frank-Walter Steinmeier, menyaksikan aplikasi Desa Apps yang dipamerkan di Balairung UGM. Manager Operasional Desa Apps UGM, Nurul Trya Wulandari mengatakan, Desa Apps fokus ke peningkatan kapasitas SDM.

"Bidang yang jadi perhatian Desa Apps UGM adalah seputar agrokomplek. Aplikasi ini dapat digunakan petani untuk konsultasi pertanian dengan penyuluh dan ahli di bidang pertanian, perikanan, dan peternakan, maupun sesama petani," kata Nurul.

Dekan Fakultas Pertanian UGM, Ir Jaka Widada menuturkan, Presiden Jerman turut meninjau produk riset lain yakni GamaAlgin-F dan Pupuk Hayati Bacillus Plus. Ia menjelaskan, Gama Algin merupakan produk imunostimulan untuk ikan dan udang.

Yang mana, berfungsi untuk meningkatkan kekebalan ikan dan udang. Produk ini hasil formulasi alginat yang telah dikembangkan oleh Departemen Perikanan UGM untuk mendapatkan teknologi aplikasi alginat sebagai imunostimulan pada ikan.

Selain GamaAlgin-F, Fakutas Pertanian memiliki GamaAlgin-S yang dikembangkan sebagai produk imunostimulan hasil formulasi alginat Sargassum sp. Kandungan multivitamin dan asam amino potensial mencegah penyakit budidaya udang vaname.

"Riset ini dikembangkan karena banyaknya serangan penyakit pada udang jenis tersebut," ujar Jaka, Senin (20/6/2022).

Alginat merupakan polisakarida dari rumput laut coklat, khususnya Sargassum sp. Jadi immunomodulator, menstimulasi kekebalan nonspesifik ikan maupun udang. Di Sargassum sp, memiliki kandungan alginat relatif tinggi capai 40,3-61,4 persen.

 

Sedangkan, Bacillus Plus merupakan salah satu jenis pupuk yang mengandung mikroorganisme hidup. Jenis mikroorganisme yang dimanfaatkan bakteri genus Bacillus. Perannya dalam memacu pertumbuhan tanaman sangat baik.

"Bakteri ini dimanfaatkan sebagai pupuk hayati cair. Bakteri ini dapat membantu dalam pemanjangan akar, pertumbuhan daun dan batang, serta pertumbuhan bunga dan buah," katanya.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement