Selasa 28 Jun 2022 16:47 WIB

Perlu Evaluasi Akses Oksigen Medis Antisipasi Wabah

RS PKU Muhammadiyah sudah membangun database oksigen untuk kesiapsiagaan.

Rep: Wahyu Suryana/ Red: Muhammad Fakhruddin
Perlu Evaluasi Akses Oksigen Medis Antisipasi Wabah (ilustrasi).
Foto: Edi Yusuf/Republika
Perlu Evaluasi Akses Oksigen Medis Antisipasi Wabah (ilustrasi).

REPUBLIKA.CO.ID,YOGYAKARTA -- Kemenko PMK, MDMC dan PATH menggelar lokakarya bersama lembaga, asosiasi dan mitra untuk memperkuat sistem pemberian terapi oksigen. Tujuannya, agar dapat diterapkan ketika terjadi wabah pada masa mendatang di Indonesia.

Lonjakan kasus positif Covid-19 di Indonesia sepanjang 2021 meningkat, terutama pada akhir Juni dan Juli jadi pelajaran. Lonjakan disebabkan penularan varian baru virus corona jenis B.1.617.2 atau yang dikenal dengan sebutan varian Delta.

Baca Juga

MDMC PP Muhammadiyah sendiri mengimplementasikan program Sustainable Access to Medical Oxygen (SAM-O2). Melalui program ini, dipetakan dan dirancang kebijakan yang akan membuat mekanisme koordinasi yang lebih kuat untuk tanggap darurat.

Terutama, dalam sistem pasokan oksigen medis di daerah sulit dijangkau seperti Banten, Kepulauan Riau, Kalimantan Barat, dan Nusa Tenggara Timur. MDMC maupun MCCC turut memberikan advokasi kebutuhan darurat peralatan terapi oksigen.

 

Langkah itu dilakukan MDMC dan MCCC PP Muhammadiyah melalui Forum Healthcare Supply Chain (FHSC) yang telah pula dilakukan pada Juni 2021 lalu. Hal ini dilaksanakan dengan melibatkan mitra strategis dari WHO, WFP, UNICEF dan MSF.

Direktur RS PKU Muhammadiyah Yogyakarta, dr Komarudin, membagikan pengalaman penanganan Covid-19 dari RS PKU Muhammadiyah. Di DIY, ada Satgas Covid-19 yang mengatur distribusi tabung oksigen, sehingga dalam kondisi darurat sudah siap.

"RS PKU Muhammadiyah sudah membangun database oksigen untuk kesiapsiagaan dan kita juga berbagi dengan rumah sakit mana yang membutuhkan," kata Komarudin dalam lokakarya yang bertajuk Akses Berkelanjutan Oksigen Medis di Amaroossa Royal Hotel pada Selasa (28/6/2022).

Direktur Fasilitas Pelayanan Kesehatan Kemenkes, Hanafi mengingatkan, terjadinya gelombang kedua penyebaran kasus Covid-19 lalu membuat permintaan oksigen sangat tinggi di Tanah Air. Sayangnya, saat itu terjadi ketersediaan oksigen rendah.

Maka itu, ia menekankan, sangat perlu dilakukan evaluasi terkait kondisi itu. Antara lain untuk memperbaiki manajemen tabung oksigen rumah sakit dan RS harus memiliki sistem untuk melihat kebutuhan oksigen di masing-masing rumah sakit.

"Perlu diperbaiki manajemen distribusi oksigen, serta di daerah-daerah perlu memiliki stasiun pengisian oksigen," ujar Hanafi. 

Yuk gabung diskusi sepak bola di sini ...
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement