Kamis 30 Jun 2022 15:12 WIB

UGM Suntik Vaksin PMK di Lingkungan Kampus

Sudah ribuan ternak yang divaksin oleh tim FKH UGM.

Rep: Wahyu Suryana/ Red: Yusuf Assidiq
Petugas menyuntikkan dosis vaksin penyakit mulut dan kuku (PMK) untuk sapi warga.
Foto: ANTARA/Mohammad Ayudha
Petugas menyuntikkan dosis vaksin penyakit mulut dan kuku (PMK) untuk sapi warga.

REPUBLIKA.CO.ID, SLEMAN -- Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta menggelar vaksinasi penanggulangan penyakit mulut dan kuku (PMK) ke hewan ternak lingkungan kampus. Ada 153 dosis vaksin diberi ke sapi perah dan potong, kuda, kambing, dan domba.

Ketua Satuan Tugas PMK FKH UGM, Prof Aris Haryanto mengatakan, pemberian suntik dosis vaksin penangkal PMK untuk pertama kali dilakukan. Empat pekan lagi hewan ternak mendapatkan dosis kedua dan enam bulan kemudian mendapatkan booster PMK. "Vaksin kita dapatkan dari Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan DIY," kata Aris, Kamis (30/6).

Selain melaksanakan vaksinasi di lingkungan kampus, pada hari yang sama dosen dan mahasiswa FKH UGM turut membantu pelaksanaan program vaksinasi PMK di tempat lain. Di Kapanewon Cangkringan, Sleman, dan di Kabupaten Ponorogo, Jawa Timur.

Sampai saat ini, sudah ribuan ternak yang divaksin oleh tim FKH UGM. Yang meliputi beberapa kabupaten di tiga provinsi meliputi seluruh kabupaten/kota di DIY, Kabupaten Boyolali, Kabupaten Sukoharjo, dan Kabupaten Cilacap, Jawa Tengah.

 

Sedangkan, di Jawa Timur meliputi Kabupaten Ponorogo dan Tulungagung. Umumnya, pelaksanaan vaksinasi dilakukan kepada hewan ternak yang sehat. Namun, selama pelaksanaan tingkat kesembuhan bagi hewan yang terinfeksi PMK sekitar 95 persen.

Meski begitu, peternak diharuskan melapor secepatnya bila mendapatkan hewan ternaknya mengalami gejala terinfeksi PMK, sehingga mendapat penanganan dan pengobatan khusus dari dokter hewan. Sebab, tingkat kesembuhan sangat tinggi. "Meski belum divaksin dan belum terinfeksi," ujar Aris.

Ia menerangkan, adapun tanda atau gejala hewan yang terinfeksi PMK antara lain hipersalivasi atau air liur berlebihan, lesu dan nafsu makan berkurang. Maka itu , harus segera dilaporkan dan ditindaklanjuti agar dapat penanganan optimal.

Di DIY, sebanyak 5.000 ternak disinyalir terinfeksi PMK. Namun, jumlah itu belum sampai satu persen dari keseluruhan populasi. Seiring vaksinasi, jumlah kasus harian menurun. Dari sebelumnya 400-an kasus setiap harinya menjadi 261 kasus. "Setelah vaksin mudah-mudahan lajunya bisa landai," katanya.

Meski saat ini vaksin yang digunakan didatangkan dari Perancis, Aris berharap, vaksin buatan dalam negeri yang tengah dikembangkan Pusvetma Surabaya segera diluncurkan. Sebab, vaksin sendiri berbasis isolat dari virus PMK Indonesia.

Biasanya, butuh penelitian panjang tapi bisa diringkas dan dipercepat agar bisa dipakai seluruh hewan yang sehat. Ia berharap, langkah tersebut mampu membentuk kekebalan kawanan, jika 70 persen hewan sehat divaksin maka virus bisa dihambat.

"Secara alamiah akan hilang. Kita pernah bebas PMK karena buatan vaksin sendiri," ujar Aris.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement