Kamis 15 Sep 2022 15:23 WIB

Konsumsi Harian Pertamax di Kabupaten Semarang Turun

Konsumsi BBM jenis Pertamax Turbo justru mengalami peningkatan.

Rep: Bowo Pribadi/ Red: Fernan Rahadi
Kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM).   (ilustrasi)
Foto: Republika/Adhi Wicaksono
Kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM). (ilustrasi)

REPUBLIKA.CO.ID, UNGARAN -- Konsumen Bahan Bakar Minyak (BBM) Pertamax Series di Kabupaten Semarang mengalami penurunan sejak pemerintah mengumumkan kenaikan harga BBM, beberapa waktu lalu.

Berdasarkan pantauan di 37 Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) yang ada di wilayah Kabupaten Semarang terungkap penurunan konsumen BBM jenis Pertamax Series mencapai 30,5 persen.

Meski konsumen Pertamax Series mengalami penurunan, kecil kemungkinan konsumen BBM non subsidi ini beralih pada penggunaan BBM jenis Pertalite. Karena konsumsi Pertalite di Kabupaten Semarang juga mengalami penurunan.

"Konsumsi Pertalite mengalami  penurunan hingga 15,9 persen," kata Area Manager Communication, Relation and Corporate Social Responsibility Regional Jawa Bagian Tengah PT Pertamina Patra Niaga, Brasto Galih Nugroho, Kamis (15/9/2022).

Menurut Brasto, pascapengumuman penyeseuaian harga BBM beberapa waktu lalu, hampir seluruh SPBU di Kabupaten Semarang, Jawa Tengah mengalami tren perubahan konsumsi BBM, baik untuk produk Pertamax Series maupun Dex Series.

Rata-rata konsumsi harian BBM non subsidi jenis Pertamax di Kabupaten Semarang cenderung turun sebanyak 30,5 persen. Jumlah ini berdasarkan monitoring di  37 titik SPBU dari rentang waktu 24 Agustus sampai 13 September 2022.

Sedangkan untuk konsumsi  Pertalite juga terpantau mengalami penurunan hingga 15,9 persen. Hal yang sama juga terjadi pada konsumsi BBM jenis solar juga mengalami penurunan sebanyak 19,4 persen.

Meskipun demikian, lanjutnya, untuk konsumsi BBM jenis Pertamax Turbo justru mengalami peningkatan konsumsi harian. "Rata-rata prningkatan konsumsi BBM jenis Pertamax Turbo melonjak hingga 200 persen," katanya.

Terkait hal ini, Brasto belum dapat memastikan jenis kendaraan yang mendominasi konsumsi Pertamax Turbo ini.  Karena petugas SPBU  tidak melakukan pencatatan terhadap konsumen pada BBM non subsidi.

Meskipun demikian, ia menjelaskan bahwa faktor meningkat pesatnya konsumen Pertamax Turbo tersebut diperkirakan karena harganya yang sudah diturunkan sebelumnya hingga kemudian sangat diminati masyarakat.

Karena BBM non subsidi ini  sebelumnya telah ada penyesuaian harga dari Rp 17.900  per liter menjadi Rp 15.900 per liter. Sehingga harga tersebut tidak terpaut banyak dengan harga Pertamax yang saat ini Rp. 14.500.

Masih terkait dengan kebutuhan BBM, Brasto menyampaikan, Pertamina telah berupaya mengamankan stoknya baik di Jawa Tengah maupun DIY, yang menjadi wilayah kerja Patra Niaga Regional Jawa Bagian Tengah.

Untuk saat ini, stok rata-rata ketahanan BBM di Jawa Tengah dan DIY sangat mencukupi untuk kebutuhan 12 hari. Ia berharap masyarakat yang menggunakan BBM bersubsidi pada kendaraan roda empat untuk segera mendaftarkan kendaraannya di https://subsiditepat.mypertamina.id.

Saat ini sosialisasi kepada masyarakat terus ditingkatkan terkait dengan program subsidi tepat MyPertamina. "Saat ini di SPBU terus dilakukan pencatatan  nomor polisinya," kata Brasto.

 

Dapat mengunjungi Baitullah merupakan sebuah kebahagiaan bagi setiap Umat Muslim. Dalam satu tahun terakhir, berapa kali Sobat Republika melaksanakan Umroh?

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement