Kamis 20 Oct 2022 16:16 WIB

Ratusan Aremania Desak Usut Tuntas Tragedi Kanjuruhan

Aksi dimulai dari Stadion Gajayana lalu bergerak ke Balai Kota Malang.

Rep: Wilda Fizriyani/ Red: Yusuf Assidiq
Suporter Arema FC (Aremania) berunjuk rasa di depan Balai Kota Malang, Jawa Timur, Kamis (20/10/2022). Mereka menuntut penegakan hukum yang adil, terbuka dan tak pandang bulu dalam kasus tragedi Kanjuruhan yang menelan 133 korban jiwa.
Foto: ANTARA/Ari Bowo Sucipto
Suporter Arema FC (Aremania) berunjuk rasa di depan Balai Kota Malang, Jawa Timur, Kamis (20/10/2022). Mereka menuntut penegakan hukum yang adil, terbuka dan tak pandang bulu dalam kasus tragedi Kanjuruhan yang menelan 133 korban jiwa.

REPUBLIKA.CO.ID, MALANG -- Ratusan Aremania menggelar aksi unjuk rasa di Kota Malang, Jawa Timur, Kamis (20/10/2022). Mereka menuntut agar tragedi Kanjuruhan yang terjadi pada 1 Oktober 2022 diusut tuntas.

Berdasarkan pengamatan Republika.co.id, terlihat ratusan Aremania baik perempuan dan laki-laki turun ke jalan untuk melakukan aksinya. Aksi dimulai dari titik Stadion Gajayana, Kota Malang, lalu bergerak ke halaman Balai Kota Malang.

Para Aremania ini melakukan aksinya sejak pukul 10.00 hingga 11.30 WIB. Tak ada pernyataan resmi dari para demonstran terkait aksi tersebut.

Namun aksi tersebut diyakini sebagai wujud tuntunan Aremania agar tragedi Kanjuruhan bisa diselesaikan secara tuntas. Hal ini turut terlihat dari berbagai poster, spanduk, dan keranda hitam yang dibawa oleh para demonstran.

 

Aremania yang hadir menuliskan agar tragedi Kanjuruhan bisa diselesaikan secara adil. Kemudian mereka juga menuntut agar tidak ada tindakan anarkis terhadap dunia sepak bola ke depannya. Lalu mengharapkan kejadian ini bisa menjadi pembelajaran di masa mendatang.

Seperti diketahui, Arema FC mengalami kekalahan saat bertemu Persebaya Surabaya di Stadion Kanjuruhan, Kepanjen, Kabupaten Malang, Sabtu (1/10/2022) malam. Kondisi ini menyebabkan dua Aremania turun ke lapangan untuk menguatkan para pemain Arema FC.

Namun hal tersebut direspons kurang baik oleh tim pengamanan sehingga memicu suporter lainnya turun ke lapangan. Bukannya memberikan imbauan, tim pengamanan justru melakukan kekerasan terhadap para suporter.

Bahkan, aparat kepolisian memberikan tembakan gas air mata ke sejumlah tribun. Sejumlah suporter panik dan mencoba keluar stadion tetapi pintu ditemukan dalam keadaan terkunci. Situasi ini menyebabkan para penonton sesak napas hingga ada yang meninggal dunia di tempat.

Di samping itu, juga dilaporkan ratusan Aremania mengalami luka-luka akibat kejadian itu. Sebagian besar mengalami sesak napas, patah tulang, iritasi mata, dan sebagainya.

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
Advertisement
Berita Terkait
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement