Selasa 06 Dec 2022 14:37 WIB

Kenaikan Harga BBM Masih Pengaruhi Harga Telur Ayam

Harga telur di pasar tradisional yang hari ini mencapai Rp 30 .000 per kilogram.

Rep: Bowo Pribadi/ Red: Muhammad Fakhruddin
Kenaikan Harga BBM Masih Pengaruhi Harga Telur Ayam (ilustrasi).
Foto: REPUBLIKA/ABDAN SYAKURA
Kenaikan Harga BBM Masih Pengaruhi Harga Telur Ayam (ilustrasi).

REPUBLIKA.CO.ID,UNGARAN -- Kenaikan harga komoditas telur ayam ras yang saat ini terjadi di tingkat konsumen, di wilayah Kabupaten Semarang bukan dipicu oleh penurnan produksi telur ayam dari kandang peternak.

Harga telur di pasar tradisional yang hari ini mencapai Rp 30 .000 per kilogram, juga bukan  dampak harga pakan ternak unggas yang mahal.

Baca Juga

Biaya transportasi akibat kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) –disebut—masih menjadi penyebab lonjakan harga salah satu komoditas protein hewani yang dibutuhkan oleh masyarakat ini.

“Kenaikan harga BBM per 3 September 2022 lalu, masih berpengaruh,” ungkap Kepala Dinas Pertanian Perikanan dan Pangan (Dispertanikap) Kabupaten Semarang, Wigati Sunu di Ungaran, Kabupaten Semarang, Selasa (6/12).

 

Khususnya, lanjut Sunu, pengaruh terhadap ongkos/ biaya transportasi (pengangkutan) telur ayam dari kandang hingga sampai ke pasar- pasar tradisional.

Oleh karena itu, harga telur ayam di tingkat pemasok di Kabupaten Semarang untuk saat ini sudah mencapai kisaran Rp 27.000  hingga Rp 28.000 per kilogram.

“Sehingga ditingkat konsumen masih ada margin yang diambil pedagang, hingga harga telur ayam di pasar tradisional saat ini mencapai Rp 29.500 hingga Rp 30.000 per kilogram,” ungkapnya.

Dispertanikap Kabupaten Semarang, masih lanjut Sunu, sudah melakukan pemantauan lagsung hingga di kandang- kandang produsen telur ayam ras, yang ada di daerahnya.

Untuk harga pakan ternak, sampai dengan saat ini relatif normal dan tidak ada gejolak yang memberatkan para pelaku usaha peternakan ayam petelur.

Demikian halnya dengan produktivitas telur ayam di kandang, juga tidak mengalami penurunan dan masih berlangsung dengan normal. “Hanya persoalan ongkos ransportasi saja yang membuat harga telur ini masih tinggi,” tandasnya.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement