Ahad 25 Dec 2022 15:31 WIB

'Merawat Kebinekaan dan Toleransi Wujud Syukur Kepada Allah SWT'

Kiai Embay sangat menyayangkan jika masih ada oknum yang memprovokasi umat lain.

Umat Islam mendengarkan ceramah agama di masjid (ilustrasi).
Foto: Republika/Yasin Habibi
Umat Islam mendengarkan ceramah agama di masjid (ilustrasi).

REPUBLIKA.CO.ID, SERANG -- Perayaan Hari Natal secara teologis memang menjadi domain komunitas umat Nasrani. Namun, secara sosiologis perayaan Hari Natal telah menjadi milik seluruh masyarakat lintas-agama. Momentum ini sejatinya juga harus membangkitkan kesadaran masyarakat untuk lebih bersikap toleran terhadap perbedaan agama.

Ketua Umum Pengurus Besar Mathla’ul Anwar (Ketum PB MA), KH Embay Mulya Syarief menyebut takdir yang diberikan oleh Allah SWT dalam bentuk perbedaan sejatinya merupakan rahmat bagi bangsa Indonesia. Dengan kebinekaan yang ada, wajib hukumnya perbedaan itu dilindungi dan dijaga oleh segenap umat Muslim.

"Bangsa ini ditakdirkan oleh Allah SWT menjadi bangsa yang majemuk, itu merupakan takdir. Artinya apa kalau kita tidak saling toleran, tidak merasa saling memiliki, kan sama dengan kita tidak bersyukur kepada nikmat Allah SWT," ujar KH Embay Mulya Syarief di Serang, Jumat (23/11/2022).

Ia melanjutkan, gesekan yang masih sering terjadi di tengah masyarakat yang terkait dengan latar belakang primordial sudah sepatutnya diatasi dengan sikap saling terbuka dalam berkomunikasi. Juga menghindari suara-suara yang berusaha memprovokasi kedamaian umat beragama.

 

"Di dalam agama juga di sekolah, kita sudah diajarkan uuntuk tidak menggangu upacara maupun peribadahan keagamaan yang lain. Di dalam perang, Nabi juga melarang mengganggu tempat ibadah orang lain apapun agamanya. Tapi umat agama lain juga jangan memprovokasi, lakukan komunikasi yang baik," jelas anggota Dewan Pertimbangan Majelis Ulama Indonesia (MUI) Provinsi Banten ini.

Ia menambahkan, sebagaimana telah jelas dalam perintah Nabi Muhammad SAW tentang sepuluh hal yang diharamkan, di antaranya dilarang mengganggu tempat ibadah apa pun agamanya, menggangu pendeta apapun agamanya, membunuh orang tua, membunuh wanita, membunuh anak-anak, merusak bangunan, merusak tanaman kecuali untuk dimakan, membunuh binatang kecuali untuk dimakan. memutilasi jenazah, dan merusak sumber air.

Kiai Embay sangat menyayangkan jika masih ada oknum yang memprovokasi maupun melakukan tindakan yang mengganggu hak beragama umat lain. Menurutnya oknum seperti itu pemahaman agamanya cenderung masih sangat terbatas. "Jika masih ada kasus persekusi, dan sebagianya berarti pemahaman agamanya masih belum luaslah begitu," ucapnya.

Ia juga menjelaskan bagaimana Islam mengajarkan umatnya untuk saling menjaga dan membangun hubungan baik dengan umat beragama lain dalam konteks kemanusiaan. "Dalam masalah-masalah kemanusiaan, kita boleh bersama-sama. Misalnya bencana alam, kesehatan, ekonomi dan kebersihan. Tapi masalah ibadah ya masing-masing. Dalam masalah sosial, kita tidak boleh acuh walaupun berbeda," ujarnya.

Yuk koleksi buku bacaan berkualitas dari buku Republika ...
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement