Jumat 10 Feb 2023 14:29 WIB

Cetak Dokter Handal, Untag Surabaya Segera Dirikan Fakultas Kedokteran

Untag kembali menerima visitasi kelayakan dari Kementerian Kesehatan.

Rep: Dadang Kurnia/ Red: Yusuf Assidiq
Kegiatan visitasi kelayakan Kemenkes RI terkait rencana pendirian Fakultas Kedokteran Untag Surabaya.
Foto: Dokumen
Kegiatan visitasi kelayakan Kemenkes RI terkait rencana pendirian Fakultas Kedokteran Untag Surabaya.

REPUBLIKA.CO.ID, SURABAYA -- Universitas 17 Agustus 1945 (Untag) Surabaya bakal mendirikan Fakultas Kedokteran. Rektor Untag Surabaya, Mulyanto Nugroho mengatakan, usulan pendirian Fakultas Kedokteran ini sejalan dengan kebutuhan dokter di Indonesia yang masih tinggi.

Maka dari itu, Untag Surabaya berkomitmen mencetak calon-calon dokter yang handal dan berjiwa patriotisme. Ia menjelaskan, rencana pembukaan Program Studi Kedokteran, Program Sarjana dan Pendidikan Profesi Dokter Untag Surabaya kini memasuki babak baru.

Di mana Untag Surabaya kembali menerima visitasi kelayakan dari Kementerian Kesehatan pada Kamis (9/2). Mulyanto mengaku, Untag Surabaya telah berupaya memenuhi kelayakan pendirian Prodi Kedokteran, Sumber Daya Manusia (SDM), penyediaan sarana prasarana, dan fasilitas pendukung lainnya.

"Empat tahun sudah penantian kami dalam mendirikan Fakultas Kedokteran, bisa dikatakan kami ini sudah terlanjur siap. Mudah-mudahan seluruh fasilitas yang disediakan sudah memenuhi syarat," ujarnya, Jumat (10/2/2023).

Dekan Fakultas Kedokteran Untag Surabaya, Poerwadi menyampaikan, pihaknya akan menyusun suatu kurikulum pendidikan yang bertujuan untuk menyiapkan calon dokter yang profesional dalam mengatasi berbagai masalah kesehatan terutama infeksi, kegawatdaruratan, dan kebencanaan.

Lulusan nantinya akan diajarkan untuk menguasai pengetahuan pelayanan kesehatan dilandasi wawasan kebangsaan dan patriotisme. "Selain itu mereka harus mampu melakukan penelitian dan kewirausahaan di bidang kesehatan sehingga bisa menjadi abdi masyarakat yang baik," kata dia.

Dirjen Tenaga Kesehatan Kemenkes, Arianti Anaya menegaskan, di Indonesia terdapat tiga isu besar yang harus diselesaikan. Yakni terbatasnya tenaga kesehatan, distribusi yang belum merata, hingga kualitas yang belum berstandar nasional.

"Melansir data dari WHO, perbandingan rasio dokter dengan jumlah penduduk di Indonesia 1 berbanding 1000. Artinya 1 dokter melayani 1000 penduduk. Artinya Indonesia ini masih kurang sekali tenaga kesehatannya," kata dia.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement