Jumat 17 Feb 2023 19:48 WIB

Laga Versus PSIS Ricuh, Pelatih Persis: Sepak Bola Bukan Perang 

Menurut Leo, suporter perlu diedukasi pentingnya saling menghormati dengan lawan.

Rep: Muhammad Noor Alfian Choir/ Red: Fernan Rahadi
 Pelatih Persis Solo Leonardo Medina saat jumpa pers.
Foto: Dokumen
Pelatih Persis Solo Leonardo Medina saat jumpa pers.

REPUBLIKA.CO.ID, SOLO -- Pelatih Persis Solo Leonardo Medina angkat bicara soal kerusuhan suporter yang terjadi di luar venue ketika laga Laskar Sambernyawa melawan PSIS Semarang di Stadion Jatidiri, Semarang, Jumat (17/2/2023) sore. 

"Saya ingin berbicara kepada setiap orang, jika kita ingin menikmati ini (pertandingan). Ini permainan bukan perang, jika kita ingin menikmati pertandingan dengan penonton di tribun dan menunjukkan sepak bola yang baik," kata Leo saat jumpa pers, Jumat (17/2/2023). 

Leo menegaskan bahwa tim lawan itu bukan musuh. Jadi ia menekankan untuk saling menghormati untuk semua elemen sepak bola.  "Kita harus menghormati antara satu dengan yang lainnya karena mereka itu lawan bukan musuh," katanya. 

Leo menceritakan bahwa di bangku cadangan setelah pertandingan dirinya bersalaman dengan pelatih PSIS Semarang, Ian Andrew Gillian. Bahkan ia menyebut para pemain Persis dan PSIS saling berjabat tangan.

"Kepala pelatih Semarang dan saya saling berbagi pelukan yang erat, uluran tangan, dan saling memberi selamat," katanya

Leo sekali lagi menegaskan bahwa suporter perlu diedukasi bahwa sepak bola itu bukan perang. "Suporter harus mengerti bahwa ini bukan perang. Mereka harus mengerti ini adalah sebuah permainan dimana kita semua harus enjoy bersama karena ini baik untuk mereka dan ini baik untuk kita semua," katanya.

Selain itu, Leo juga mengatakan bahwa pemahaman tersebut penting untuk sepak bola Indonesia ke depannya. "Saya pikir semua orang perlu mengerti untuk masa depan sepak bola di Indonesia. Karena semua hal ini (kerusuhan) akan membunuh sepak bola Indonesia. Hal ini akan membunuh sepak bola Indonesia, bukan tidak mungkin. Semua orang harus saling menghormati satu sama lain dan menikmati permainan. Ini permainan yang menyenangkan ini olahraga," katanya. 

Kendati demikian pihaknya sangat mengapresiasi suporter yang terus menemani timnya. Namun, ia menegaskan bahwa setiap suporter harus menghormati setiap peraturan yang ada. 

"Saya sangat bersyukur dengan adanya suporter yang membersamai timnya saya sangat bersyukur karena itu. Tapi kita harus menghormati peraturan, kita harus menghormati satu dengan yang lainnya karena ini permainan, bukan perang, itu poin saya," katanya.

 

Dapat mengunjungi Baitullah merupakan sebuah kebahagiaan bagi setiap Umat Muslim. Dalam satu tahun terakhir, berapa kali Sobat Republika melaksanakan Umroh?

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement