Senin 20 Feb 2023 04:52 WIB

Puluhan Ekor Ternak Sapi Trenggalek Terjangkit Wabah LSD

Upaya vaksinasi kini terus dioptimalkan.

Veteriner menyuntikkan vaksin Lumpy Skin Desease (LSD) pada ternak sapi (ilustrasi)
Foto: Republika/Wihdan Hidayat
Veteriner menyuntikkan vaksin Lumpy Skin Desease (LSD) pada ternak sapi (ilustrasi)

REPUBLIKA.CO.ID, TRENGGALEK -- Wabah Lumpy Skin Disease (LSD) dilaporkan menyerang puluhan ekor ternak sapi di Kabupaten Trenggalek, Jawa Timur. Menurut laporan sementara yang dirilis Dinas Peternakan Trenggalek, total sudah ada 20 ekor ternak sapi yang terdeteksi mengidap LSD.

"Sapi-sapi yang terpapar ini (kebetulan) belum mendapat vaksinasi LSD," kata Kepala Bidang Kesehatan Hewan dan Kesehatan Masyarakat Veteriner Dinas Peternakan Kabupaten Trenggalek, Ririn Hari Setiani.

Upaya vaksinasi kini terus dioptimalkan. Kendati vaksin masih terbatas, sosialisasi dan rencana kerja percepatan vaksinasi telah dipersiapkan.

"Sejauh ini yang sudah menerima sebanyak 2.000 ekor, semua dialokasikan ke sapi perah. Pertama 700 dosis, lalu yang kedua sebanyak 1.300 dosis," kata Ririn.

Upaya lain yang kini digiatkan adalah dengan memperketat pengawasan lalu lintas hewan ternak di perbatasan daerah itu dengan kabupaten lain, seperti Ponorogo, Pacitan, dan Tulungagung.

"Kami meminta waspada terutama lalu lintas angkutan hewan yang keluar masuk Trenggalek. Kemudian kami lakukan sosialisasi pencegahan, seperti menjaga kebersihan kandang. Karena LSD ini penurunannya menggunakan vektor salah satunya lalat caplak atau nyamuk," katanya.

Ririn menjelaskan, meskipun penyakit kulit pada ternak itu tidak bisa menimbulkan kematian, namun peternak terancam merugi lantaran harga jual sapi yang anjlok. Untuk itu, pihaknya mengimbau kepada masyarakat untuk tidak menjual sapi yang terkena LSD karena memberikan banyak dampak.

Sejauh ini, sudah ada sebanyak 2.000 dosis vaksin LSD telah diinjeksikan ke sapi-sapi perah warga. Prioritas sapi perah dilakukan karena sistem pemeliharaan sapi perah mayoritas lebih dari satu ekor, berbeda dengan mayoritas pola yang diterapkan pemeliharaan sapi daging.

Kondisi itu dinilai lebih cepat terjadi penularan jika ada sapi yang terinfeksi. "Ini akan mengganggu perekonomian para peternak," katanya.

Ririn juga mengimbau kepada masyarakat untuk segera melaporkan kepada petugas veteriner maupun hotline Dinas Peternakan Trenggalek jika ada yang mengetahui gejala penyakit kulit pada hewan itu.

Meskipun tidak menular ke manusia, namun wabah itu memicu lumpuhnya sendi-sendi perekonomian masyarakat. "Jika ada ternak mengarah pada gejala LSD, segera hubungi petugas medis veteriner terdekat," jelas dia.

sumber : Antara
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement