Selasa 21 Feb 2023 20:18 WIB

Satu Korban Ledakan Petasan Blitar Belum Teridentifikasi

Ledakan tersebut diduga terjadi saat tiga korban tengah meracik petasan.

Rep: Dadang Kurnia/ Red: Fernan Rahadi
Polisi melakukan olah TKP di pusat ledakan diduga bubuk mesiu bahan baku petasan di Desa Karangbendo Kecamatan Ponggok, Blitar, Jawa Timur, Senin (20/2/2023). Ledakan tersebut menyebabkan sebanyak 25 rumah warga rusak berat, 4 orang warga tewas di lokasi dan 11 orang luka-luka, hingga kini polisi masih melakukan penyidikan dengan menerjunkan Gegana Brimob Polri di lokasi.
Foto: Antara/Irfan Anshori
Polisi melakukan olah TKP di pusat ledakan diduga bubuk mesiu bahan baku petasan di Desa Karangbendo Kecamatan Ponggok, Blitar, Jawa Timur, Senin (20/2/2023). Ledakan tersebut menyebabkan sebanyak 25 rumah warga rusak berat, 4 orang warga tewas di lokasi dan 11 orang luka-luka, hingga kini polisi masih melakukan penyidikan dengan menerjunkan Gegana Brimob Polri di lokasi.

REPUBLIKA.CO.ID, SURABAYA -- Kepala Bidang Laboratorium Forensik (Labfor) Polda Jatim Kombes Pol Sodiq Pratomo menyatakan, tim DNA bersama tim DVI Biddokkes Polda Jatim yang didukung RS Bhayangkara Kediri, dan RSUD Srengat telah melakukan pemeriksaan 20 potongan tubuh yang ditemukan di lokasi ledakan petasan di Dusun Tegalrejo, Desa Karangbendo, Kecamatan Ponggok, Kabupaten Blitar. Potongan tersebut terdiri dari tulang, daging, rambut, ditambah dua sampel darah dari keluarga korban.

"Ini untuk menentukan siapa korban satunya. Karena di antara empat korban MD (meninggal dunia-Red) di TKP, tiga sudah bisa diidentifikasi, tinggal satu yang belum diidentifikasi," ujarnya, Selasa (21/2).

Sodiq melanjutkan, jika dilihat dari kondisi korban dengan tubuhnya yang hancur, kemungkinan ledakan tersebut terjadi saat tiga dari empat korban tengah membuat atau meracik petasan. Kemungkinan para korban mengelilingi bahan peledak tersebut. Sedangkan satu korban meninggal yang jenazahnya utuh, berada jauh dari pusat terjadinya ledakan yang diduga berada di dapur.

"Kalau lihat dari korbannya hancur, kemungkinan ketiganya masih proses membuat, begitu. Jadi tiga orang mengelilingi itu. Yang (korban) satu posisinya di kamar, yang masih utuh itu. Kalau tiga semuanya hancur semuanya," ujarnya.

Sodiq mengungkapkan, untuk penanganan ledakan yang bersumber dari peledak jenis low explosive lebih susah daripada menangani high explosive. Hal itu dikarenakan low explosive sangat sensitif terhadap getaran, gesekan, dan tekanan.

"Bahkan kena air pun dapat meledak sendiri. Bahkan diangkat, jatuh, bisa meledak sendiri," kata Sodiq.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement