Selasa 25 Apr 2023 22:25 WIB

Kisruh Peneliti BRIN Ancam Warga Muhammadiyah, Thomas Djamaluddin Minta Maaf

Thomas Djamaluddin meminta maaf kepada pimpinan dan warga Muhammadiyah.

Rep: Fuji Eka Permana/Ronggo Astungkoro/Zainur Mahsir Ramadhan/ Red: Yudha Manggala P Putra
Profesor Thomas Djamaluddin.
Foto: Republika/Wihdan Hidayat
Profesor Thomas Djamaluddin.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Peneliti senior Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Profesor Thomas Djamaluddin meminta maaf kepada pimpinan dan warga Muhammadiyah menyusul kisruh oknum peneliti BRIN yang melontarkan komentar ancam warga Muhammadiyah.

Thomas, yang diduga memantik komentar keras dari peneliti BRIN AP Hasanuddin melalui status di Facebook-nya, mengatakan pernyataannya mengenai perbedaan 1 Syawal tidak dilandasi kebencian terhadap organisasi Muhammadiyah.

“Tidak ada kebencian atau kedengkian saya pada organisasi Muhammadiyah yang merupakan aset bangsa,” kata Thomas dalam keterangannya di Jakarta, Selasa (25/4/2023).

Menurutnya, semua perbedaan di hari raya menjadi pengingat bahwa masalah yang ada mestinya diselesaikan, bukan dilestarikan. Sebab itu, ia juga meminta maaf pada publik atas apa yang terjadi.

 

Baca juga : Wasekjen MUI: Kok Tiba-Tiba Ada yang Terusik dengan Keberadaan Muhammadiyah?

“Sekali lagi saya mohon maaf dengan tulus kepada pimpinan dan warga Muhammadiyah atas ketidaknyamanan dan kesalahpahaman yang terjadi,” tutur dia.

Sebelumnya, Ketua Fraksi PAN DPR Saleh Partaonan Daulay menyebut Thomas sebagai salah satu orang yang kerap membuat perdebatan penetapan 1 Syawal selalu panas dan keras. Thomas, sebagai bagian tim unifikasi kalender Kementerian Agama, menurut Daulay, terlalu keras membela metode rukyah dan mengecam metode hisab.

"Sebagai ilmuwan, Thomas sangat tidak bijak. Bahkan pada titik tertentu, dia menggiring pada perdebatan yang menjurus pada perpecahan. Di tingkat akar rumput, hal ini sangat mencemaskan dan mengkhawatirkan," ujar Saleh Daulay dalam keterangan yang diterima Republika.co.id, Selasa (25/4/2023).

Saleh menyebut Thomas memiliki andil dalam memicu komentar kontroversial dari AP Hasanuddin melalui unggahannya.

Baca juga : RM Hadea Tutup Setelah Dibuat Viral oleh Kader PSI, Giring Minta Maaf dan Kirim Utusan

"Thomas juga terlibat. Bahkan dalam permohonan maafnya, AP Hasanuddin jelas menyatakan dia justru tersulut emosi karena perdebatan di kalangan netizen yang melibatkan Thomas. Dia membuat pernyataan tersebut sebagai bagian dari dukungannya pada Thomas," ujar Saleh dalam keterangan yang diterima, Senin (24/4/2023).

Terkait permasalahan ini, Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Laksana Tri Handoko pun menyampaikan permohonan maaf kepada seluruh warga Muhammadiyah atas perbuatan yang dilakukan oleh anak buahnya.

“BRIN meminta maaf, khususnya kepada seluruh warga Muhammadiyah, atas pernyataan dan perilaku salah satu sivitas BRIN, meskipun ini adalah ranah pribadi yang bersangkutan,” kata Handoko, Selasa (25/4/2023).

Ia juga meminta periset BRIN untuk lebih bijak dalam menyampaikan pendapat di media sosial dan mengedepankan nilai-nilai berorientasi pelayanan, akuntabel, kompeten, harmonis, loyal, adaptif, dan kolaboratif.

“Lebih bijak dalam menyampaikan pendapat di media sosial dan mengedepankan nilai Ber-Akhlak, yaitu berorientasi pelayanan, akuntabel, kompeten, harmonis, loyal, adaptif, dan kolaboratif,” ujar Handoko, Selasa (25/4/2023).

Baca juga : Kronologi RM Hadea Ditutup Seusai Viral Jubir PSI Mengaku Kena Getok Harga

Handoko mengatakan pihaknya telah mengofirmasi status Andi Pangerang Hasanuddin sebagai ASN di lembaganya. Langkah selanjutnya, BRIN akan melakukan proses sidang melalui Majelis Etik ASN pada Rabu (26/4/2023) esok.

“Langkah konfirmasi telah dilakukan untuk memastikan status APH adalah ASN di salah satu pusat riset BRIN. Selanjutnya, sesuai regulasi yang berlaku BRIN akan memproses melalui Majelis Etik ASN, dan setelahnya dapat dilanjutkan ke Majelis Hukuman Disiplin PNS sesuai PP 94/2021,” ujar Handoko.

Pakar dan peneliti BRIN Andi Pangerang Hasanuddin sendiri sebelumnya sudah menyatakan permintaan maaf atas komentar kerasnya di media sosial. Ia mengaku tersulut emosi saat melihat akun Thomas diserang pengguna akun lain yang diduga berasal dari kalangan Muhammadiyah. Ia pun mengaku siap bertanggung jawab dan diproses lebih lanjut.

“Saya bersedia diproses lebih lanjut jika diperlukan, dan saya minta maaf sebesar-besarnya,” kata Hasanuddin, dalam surat pernyataannya, Senin (24/4/2023).

 
 
 
View this post on Instagram
 
 
 

A post shared by Republika Online (@republikaonline)

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement