Kamis 27 Apr 2023 17:00 WIB

Cuaca Panas, Warga Diminta Perhatikan Asupan Gizi

Kondisi cuaca panas terjadi akibat dinamika atmosfer yang tidak biasa.

Rep: Silvy Dian Setiawan/ Red: Yusuf Assidiq
Seorang pria menutupi kepalanya dengan kantong kertas di siang hari yang panas (ilustrasi)
Foto: EPA-EFE/FAZRY ISMAIL
Seorang pria menutupi kepalanya dengan kantong kertas di siang hari yang panas (ilustrasi)

REPUBLIKA.CO.ID, YOGYAKARTA -- Cuaca panas melanda Indonesia belakangan ini, termasuk wilayah DIY. Cuaca panas ini terjadi akibat dinamika atmosfer yang tidak biasa, dan juga sedang terjadinya gelombang panas di wilayah Asia.

Untuk itu, Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Yogyakarta meminta agar masyarakat mengantisipasi dampak dari cuaca panas. Kepala Dinkes Kota Yogyakarta, Emma Rahmi Aryani, meminta agar warga memperhatikan asupan gizi dalam menghadapi cuaca panas ini. "Karena saat ini cuaca sedang panas, asupan gizi harus diperhatikan," kata Emma, Kamis (27/4/2023).

Ia menekankan, dalam memperhatikan asupan gizi selama cuaca panas ini utamanya dengan mengonsumsi air putih yang cukup. Termasuk menjaga pola makan yang sehat dengan memerhatikan asupan dan kandungan makanan yang dikonsumsi. "Konsumsi (juga) vitamin," ujarnya.

Sementara itu, terkait dengan musim kemarau 2023 di DIY termasuk di Kota Yogyakarta, BMKG memprediksi  panjang musim kemarau diperkirakan antara 16-20 dasarian. Dari delapan Zona Musim (ZOM) di DIY, panjang musim kemarau ini bervariasi dan diperkirakan musim kemarau tahun ini juga lebih kering dari tahun sebelumnya.

 

Kepala Stasiun Klimatologi DIY, Reni Kraningtyas mengatakan, rincian panjang musim kemarau tersebut yakni satu ZOM (12,5 persen) selama 16 dasarian, satu ZOM (12,5 persen) selama 17 dasarian, empat ZOM (50 persen) selama 18 dasarian, satu ZOM (12,5 persen) selama 19 dasarian, dan satu ZOM lainnya (12,5 persen) selama 20 dasarian.

Berdasarkan kondisi dinamika atmosfer-laut, pihaknya sudah memperkirakan bahwa awal musim kemarau 2023 di DIY terjadi sejak April dasarian II. Yakni meliputi sebagian kecil Kabupaten Sleman bagian barat, sebagian kecil Kabupaten Bantul bagian barat, dan Kabupaten Kulon Progo bagian timur.

Di April dasarian III, awal musim kemarau terjadi di Kabupaten Kulon Progo bagian barat dan selatan. Sedangkan, awal musim kemarau di Kabupaten Kulon Progo bagian utara, sebagian besar Kabupaten Sleman, serta sebagian besar Kabupaten Bantul dan Gunungkidul terjadi pada Mei dasarian I.

"Dari delapan ZOM di DIY, dua ZOM (25 persen) diprakirakan akan mulai memasuki musim kemarau pada April 2023 dan enam ZOM (75 persen) pada Mei 2023," kata Reni, Kamis (27/4/2023).

Untuk puncak musim kemarau diperkirakan berlangsung antara Juli hingga Agustus 2023 di DIY. Sedangkan, akhir musim kemarau di DIY diperkirakan pada Oktober dasarian I yakni di Kabupaten Kulonprogo bagian Utara.

Di Kabupaten Gunungkidul bagian tengah dan selatan, diperkirakan musim kemarau akan berakhir pada Oktober dasarian II. "Oktober dasarian III, (akhir musim kemarau terjadi di) wilayah Kota Yogyakarta, seluruh Kabupaten Sleman dan Bantul, Kulonprogo kecuali Kapanewon Samigaluh dan Kalibawang, serta  Gunungkidul bagian utara," ujarnya.

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement