Selasa 09 May 2023 14:15 WIB

PP Muhammadiyah: Umat Islam Perlu Iptek untuk Jalankan Ibadah

Hubungan antara agama dan ilmu pengetahuan tidak bertentangan.

Sekretaris Umum PP Muhammadiyah, Abdul Muti, saat berbicara dalam dalam ceramah Halal Bi Halal Universitas Muhammadiyah Jakarta di Auditorium KH A Azhar Basyir Gedung Cendekia Center UMJ, Senin (8/5/2023).
Foto: dokpri
Sekretaris Umum PP Muhammadiyah, Abdul Muti, saat berbicara dalam dalam ceramah Halal Bi Halal Universitas Muhammadiyah Jakarta di Auditorium KH A Azhar Basyir Gedung Cendekia Center UMJ, Senin (8/5/2023).

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Sekretaris Umum PP Muhammadiyah Prof Abdul Mu’ti berkali-kali menegaskan bahwa ilmu pengetahuan dan teknologi diperlukan umat Islam dalam menjalankan ibadah. Mu’ti menjelaskan bahwa hubungan antara agama dan ilmu pengetahuan tidak bertentangan. 

Ini merupakan sikap tegas Mu’ti menanggapi beberapa pihak yang memisahkan Iptek dengan agama. Menurutnya justru Iptek diperlukan agar ibadah yang dilakukan umat muslim lebih khusyuk dan sempurna.

"Tidak ada pertentangan antara ilmu pengetahuan teknologi dengan agama. Ibadah menjadi sempurna dan benar kalau menggunakan ilmu pengetahuan dan teknologi sebagai sarana mengamalkan ajaran agama dengan sebaik-baiknya," ujar Mu’ti dalam ceramah Halal Bi Halal Universitas Muhammadiyah Jakarta di Auditorium KH A Azhar Basyir Gedung Cendekia Center UMJ, Senin (8/5/2023).

Pembahasan hal itu diangkat Mu’ti sehubungan adanya polemik perbedaan pendapat terkait dengan pelaksanaan ibadah, khususnya penentuan awal Ramadhan, Syawal, dan 10 Dzulhijjah. Menurutnya, perdebatan itu adalah pengulangan yang tidak perlu terjadi dan hanya menguras energi. Dalam ceramahnya, Mu’ti mengajak seluruh warga Muhammadiyah untuk mendalami secara ontologis, epistemologis dan praksis dalam memahami asal-muasal perbedaan (hisab dan ru’yat).

 

Berdasarkan sebuah hadis, Muhammadiyah mengambil hisab sebagai metode dalam penanggalan. Langkah tersebut diambil karena Muhammadiyah berpendapat bahwa nabi Muhammad menentukan waktu dengan melihat langsung (dengan mata telanjang) karena pada saat itu nabi dan para sahabatnya belum menguasai ilmu hisab dan ilmu falak.

Sebagaimana dijelaskan Alquran Surat Yunus ayat 5, Mu’ti menjelaskan bahwa melalui ayat tersebut Allah SWT memerintahkan manusia untuk mengembangkan hisab. Oleh karenanya membangun dan mengembangkan ilmu pengetahuan menjadi hal penting bagi umat Islam. Caranya dengan memperkenalkan pendekatan penafsiran kreatif ayat-ayat Alquran.

Dalam Alquran Allah tidak menjelaskan bagaimana cara melakukan sesuatu. Namun, Mu’ti menjelaskan bahwa Allah memberikan inspirasi pada manusia untuk mengembangkan ilmu pengetahuan, salah satunya metode hisab untuk membuat kalender.

Pendekatan kreatif ini disampaikan Mu’ti agar umat Islam mengambil inspirasi dari Alquran untuk mengembangkan ilmu pengetahuan, bukan malah melakukan ayatisasi atau mengkonfirmasi apa yang ditulis dalam Alquran. Ia juga mendorong UMJ untuk terus memperkuat kajian keilmuan yang integratif dan mengambil inspirasi dari Alquran untuk mengembangkan Iptek.

Halal Bi Halal UMJ digelar bersamaan dengan Hari Bermuhammadiyah 5 dan diikuti oleh kurang lebih seribu orang sivitas akademika UMJ. Turut hadir Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah DKI Jakarta Akhmad H Abubakar, pimpinan Badan Pembina Harian, Rektor Ma’mun Murod, beserta para wakil rektor, dekan, dosen, tendik, dan mahasiswa di lingkungan UMJ.

Suasana hangat kekeluargaan sangat terasa ketika seluruh keluarga besar UMJ saling bersalaman dan bermaafan. Rangkaian acara semakin meriah dengan adanya penampilan musik dari Music of Us yang merupakan komunitas mahasiswa FT UMJ, Goes Plus Band, pameran teknologi, konsultasi desain bangunan, bazaar dan ratusan hadiah doorprize di antaranya umrah, motor, barang-barang elektornik dan voucher belanja. (DN/KSU)

 

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement