Senin 05 Jun 2023 14:45 WIB

Komunitas Soramata Jadikan Batik Media Penyampai Pesan tentang Isu Lingkungan

Keseluruhan desain motif yang dipamerkan menceritakan tentang flora dan fauna.

Rep: Bowo Pribadi/ Red: Yusuf Assidiq
Pengunjung menikmati suasana Soramata Exhibition yang dihelat di kawasan Kebun Kopi Bintang, Kota Salatiga, Jawa Tengah, mulai Sabtu (3/6) hingga Senin (5/6) ini. Beragam karya batik berpesan isu lingkungan koleksi dari komunitas Soramata dipamerkan dalam kegiatan ini.
Foto: Dok.Republika
Pengunjung menikmati suasana Soramata Exhibition yang dihelat di kawasan Kebun Kopi Bintang, Kota Salatiga, Jawa Tengah, mulai Sabtu (3/6) hingga Senin (5/6) ini. Beragam karya batik berpesan isu lingkungan koleksi dari komunitas Soramata dipamerkan dalam kegiatan ini.

REPUBLIKA.CO.ID, SALATIGA -- Sebagai bagian dari kultur khas Jawa, masyarakat mengenal batik sebagai karya tradisi luhur kebanggaan bangsa yang telah diakui Badan Dunia. Namun, belum banyak masyarakat yang mahfum, di tangan Komunitas Soramata salah satu warisan budaya ini juga memiliki peran sebagai ‘media’ penyampai pesan, terutama terkait isu lingkungan.

Hal ini terungkap dari kegiatan ‘Soramata Exhibition’ yang dihelat di kawasan Kebun Kopi Bintang, Kota Salatiga, Jawa Tengah. Beragam karya batik ‘berpesan’ koleksi dari Komunitas Soramata dipamerkan dalam kegiatan yang berlangsung mulai Sabtu hingga Senin (3-5/6/2023).

Founder Soramata, Titi Permata mengungkapkan, terkait dengan batik ‘berpesan’ yang dipamerkan kali ini telah melalui proses riset dan observasi. Keseluruhan desain motif yang dipamerkan menceritakan tentang flora dan fauna yang mewakili pesan-pesan isu lingkungan, yang terinspirasi dari proses observasi di Maluku Utara (2014-2019).

Selain itu, juga enam komponen abiotik hasil pengalaman dalam menjalankan program lingkungan hidup di Salatiga dan Indonesia (2006-2023). “Dari observasi ini lahir desain Kasturi Ternate versi 1 dan 2, Menjaring Madu, Wari Ino, Hutan Halmahera, Hiu Black Tip, Malutcarita (rangkaian delapan cerita), Ranupatma, Jasmine, dan Pink Rose,” katanya, di Salatiga.

Selanjutnya, kata Titi, lahir pula desain Soramataair, Gajah Soramata, dan Free Style of Selampai. Selain itu, juga desain motif dasar tenun khas Soramata, berupa O Tikara dan Hiu.

Proses produksi batik-batik yang dipemerkan ini berlagsung antara 2018 hingga 2020 dengan perpaduan antara produk batik tulis dan batik printing dengan pewarna sintetik 1 : 100 lembar.

Bagi Komunitas Soramata, memilih batik sebagai alat penyampai pesan tentang isu lingkungan karena lebih ramah, lentur, dan tetap bisa menyejukkan pemikiran. “Sebagai media penyampai pesan, batik sebagai sebuah warisan budaya juga tidak lekang dari perubahan dan dinamika zaman,” ujarnya.

Ia menyebutkan, sejak abad ke-7 Masehi, batik telah digunakan sebagai lambang status sosial, simbol keanggotaan suku, dan tanda penghormatan kepada dewa-dewi dalam agama Hindu dan Buddha.

Pada abad ke-9, batik sudah dikenal luas di Jawa dan pada era Kerajaan Majapahit (abad ke-13 hingga ke-16), batik digunakan oleh bangsawan dan keluarga kerajaan.

Lalu, pada masa penjajahan Belanda abad ke-17, batik mengalami modernisasi dari segi produksi di mana mulai dikenalkan parafin untuk menggantikan malam yang alami dan mulai dipasarkan ke Eropa.

Hingga saat ini, batik juga menjadi komoditas yang inklusif dan bisa dipakai oleh semua kalangan di masyarakat dan batik juga semakin universal. Karena batik merupakan salah satu warisan budaya leluhur bangsa Indonesia yang telah dilestarikan dari generasi ke generasi.

Bahkan telah melekat melalui catatan sejarah yang cukup panjang, karena sejak era kerajaan di Jawa sampai dengan zaman modern, batik masih menjadi tradisi di Indonesia.

Hingga batik menjadi warisan budaya lisan tak benda yang diakui secara resmi oleh UNESCO Badan Dunia yang mengurusi Pendidikan Ilmu Pengetahuan dan Kebudayaan, pada 2 Oktober 2009.

Pameran yang berlangsung selama tiga hari ini, dia melanjutkan, juga dimeriahkan workshop batik Soramata, Eco Enzym Salatiga, fashion show, penanaman pohon, dan bersih sungai.

“Selain itu juga dimeriahkan penampilan teater Latar Kalitan, penambilan hiburan Keroncong Pemuda Kekinian, Ucup The Rebel Project, Sendjalatiga, Stone Dust, dan lainnya,” kata Titi.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement