Senin 07 Aug 2023 07:35 WIB

Jelang Hajat Pemilu, Daiyah Bisa Berperan Sebagai Penenang

Para tokoh juga diharap terus menjaga kebersamaan serta kerukunan.

Rep: Bowo Pribadi/ Red: Yusuf Assidiq
Wakil Gubernur (Wagub) Jawa Tengah, Taj Yasin Maimoen.
Foto: Dokumen
Wakil Gubernur (Wagub) Jawa Tengah, Taj Yasin Maimoen.

REPUBLIKA.CO.ID, SEMARANG --Menjelang hajat demokrasi akbar 2024 mendatang, masyarakat membutuhkan ketenangan di tengah- tengah ketegangan akibat perbedaan afiliasi dan pilihan politik.

Upaya-upaya untuk membantu menciptakan ketenangan kepada masyarakat ini --salah satunya bisa diperankan oleh para daiyah atau para dai perempuan melalui pencerahannya.

Wakil Gubernur (Wagub) Jawa Tengah, Taj Yasin Maimoen mengungkapkan, saat ini saja sudah banyak perbedaan pendapat di tengah masyarakat mengenai pilihan politik.

Inilah salah satu alasan mengapa para dai perempuan diharapkan juga bisa mengambil peran dalam memberikan pencerahan dan ketenangan di tengah-tengah masyarakat.

"Saya pribadi maupun pemerintah berharap penuh para dai perempuan mampu memberikan ketenangan, keteduhan kepada warga dan jamaahnya," kata Taj Yasin, Ahad (6/8).

Lebih jauh wagub juga menjelaskan, berbagai organisasi masyarakat (ormas) juga jamak menjadi 'perebutan' untuk mendulang dukungan dan suara saat hajat pemilu.

Tidak jarang pula, berita-berita hoaks sengaja disebar, informasi provokatif juga disiarkan untuk tujuan memperkeruh suasana di lingkungan masyarakat.

Untuk itu, para daiyah harus bisa menyikapinya dengan bijak dan mampu memberikan pemahaman dan pencerahan agar masyarakat tidak mudah terhasut

Termasuk juga kepada para tokoh masyarakat, daiyah juga bisa meminta dan mengajak agar bisa memberikan contoh-contoh serta tauladan yang baik kepada masyarakat.

Karena karakteristik masyarakat memiliki ciri ada yang punya ta'ashub atau fanatisme kepada pimpinan maupun kepada tokoh mereka dan memposisikannya sebagai panutan.

Maka, Taj Yasin juga meminta agar sesering mungkin pertemuan-pertemuan organisasi para dai maupun daiyah juga bisa diperbanyak guna menyikapi persoalan itu.

Misalnya, kalau di lingkungan Nahdlatul Ulama (NU) bisa dilakukan bersama melalui forum Himpunan Daiyah dan Majelis Taklim Muslimat NU (Hidmat MNU)

"Yang seperti ini butuh contoh dan sikap arif kita semua dan para tokoh itulah yang punya tanggung jawab untuk terus merawat dan menjaga kebersamaan serta kerukunan," jelasnya.

Lebih jauh, wagub juga mengingatkan pentingnya toleransi dan saling menghormati. Menurutnya, sikap tersebut merupakan pondasi untuk menjaga kerukunan di masyarakat.

"Sehingga meskipun ada perbedaan pendapat dalam pilihan politik, insya Allah tidak akan menjadi penghalang bagi masyarakat untuk tetap hidup damai dan berdampingan," kata dia.

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement