Selasa 12 Sep 2023 06:29 WIB

Sekda DIY: Eliminasi TBC Perlu Komitmen dan Aksi Nyata Bersama

Di DIY, telah dibentuk Tim Percepatan Penanggulangan TBC.

Rep: Silvy Dian Setiawan/ Red: Yusuf Assidiq
Sekda DIY Beny Suharsono.
Foto: Republika/Wihdan Hidayat
Sekda DIY Beny Suharsono.

REPUBLIKA.CO.ID, YOGYAKARTA -- Tuberkulosis (TBC) masih menjadi salah satu pekerjaan rumah di Indonesia, termasuk di DIY. Sekda DIY, Beny Suharsono mengatakan, perlu komitmen dan aksi nyata bersama dalam percepatan penanggulangan TBC, dan menuju eliminasi TBC 2030.

Beny menuturkan, pemerintah telah menerbitkan Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 67 Tahun 2021 tentang Penanggulangan Tuberkulosis guna mempercepat penanggulangannya. Sesuai amanat Perpres tersebut, juga telah dibentuk Tim Percepatan Penanggulangan TBC (TP2TB).

Tim percepatan ini tidak hanya dibentuk di pemerintah pusat, tetapi juga masing-masing pemerintah daerah. Pembentukan tim ini dilakukan dalam rangka memudahkan koordinasi terkait percepatan penanggulangan TBC di Indonesia.

Di DIY, pembentukan TP2TB telah dilakukan dengan ditandatangani oleh Wakil Gubernur DIY KGPAA Paku Alam X dalam acara G20 Side Event on TBC, 29 Maret 2022. Perlunya pembentukan tim percepatan ini mengingat TBC masih menjadi pekerjaan rumah di dunia maupun Indonesia, termasuk di DIY.

"Saya ingatkan komitmen Pemda DIY dalam percepatan penanggulangan TBC. Rencana aksi daerah yang sedang disusun harus diwujudkan menjadi aksi nyata bersama percepat penanggulangan TBC menuju eliminasi TBC 2030," kata Beny.

Ia juga menyinggung terkait capaian penemuan dan pengobatan TBC, terutama di DIY. Menurutnya, capaian penemuan dan pengobatan TBC tidak hanya bisa dilakukan dari kerja keras seluruh fasilitas pelayanan kesehatan didukung Active Case Finding (ACF), serta adanya kerja sama dengan Zero TB FKKMK UGM pada sektor kesehatan.  

Namun, hal ini juga memerlukan peran dari pemangku kepentingan di luar sektor kesehatan. Sehingga, percepatan penanggulangan TBC dapat tercapai, dan mewujudkan eliminasi TBC di 2023.

"Antara lain, dukungan psikososial, rumah sehat, penemuan dari tempat kerja dan institusi, komunikasi-informasi dan edukasi oleh lintas sektor, serta pembiayaan," kata Beny menegaskan.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement