Jumat 15 Sep 2023 20:47 WIB

Terdampak Kemarau Panjang, Air Waduk Gajah Mungkur Surut 5 Cm Tiap Harinya

Waduk digunakan untuk kebutuhan air PDAM dan pembangkit tenaga listrik.

Rep: Muhammad Noor Alfian/ Red: Yusuf Assidiq
Warga memanfaatkan jembatan lama yang menghubungkan antarkampung muncul kembali imbas kemarau di Waduk Gajah Mungkur, Wonogiri, Jawa Tengah, Jumat (15/9/2023).
Foto: Republika/Wihdan Hidayat
Warga memanfaatkan jembatan lama yang menghubungkan antarkampung muncul kembali imbas kemarau di Waduk Gajah Mungkur, Wonogiri, Jawa Tengah, Jumat (15/9/2023).

REPUBLIKA.CO.ID, WONOGIRI -- Kepala BPBD Wonogiri Trias Budiono mengungkapkan Waduk Gajah Mungkur mengalami penurunan debit air hingga 5 cm setiap harinya seiring kemarau panjang.

Ia mengungkapkan kabar tersebut didapat dari Perum Jasa Tirta (PJT) 1 sebagai pihak pengelola setelah berkoordinasi. "Terus terang ini kan kemarau panjang kita sudah koordinasi dengan PJT 1 pengelola waduk. Kemarin kita konsultasi di pertengahan Agustus itu air di waduk setiap hari berkurang sekitar 5 cm," katanya ketika dihubungi Republika, Jumat (15/9/2023).

Pihaknya mengungkapkan Waduk Gajah Mungkur selain digunakan sebagai sumber air juga digunakan sebagai PDAM dan pembangkit tenaga listrik. Namun, Oktober mendatang kemungkinan pembangkit listrik akan dihentikan jika hujan belum turun.

"Waduk digunakan untuk kebutuhan air PDAM dan untuk pembangkit tenaga listrik. PDAM masih jalan pembangkit listrik diperkirakan kalau sampai Oktober tidak ada hujan dari rencana PJT selaku pengelola waduk untuk tenaga pembangkit listrik dihentikan," katanya.

Kepala Sub Divisi Jasa ASA III/1 PJT I, Fendri Ferdian, menyikapi kondisi musim kemarau panjang dan ancaman El Nino yang menyebabkan bencana kekeringan di beberapa daerah. Ia mengatakan per Sabtu (9/9/2023) elevasi tercatat 130,18 meter atau masih pada batas aman.

"Elevasi masih dalam kategori aman karena batas elevasi operasional terendah 127 meter. Artinya debit air juga masih aman untuk operasional seperti pengoperasian turbin PLTA Wonogiri dan irigasi," kata Fendri.

Dijelaskan optimalisasi pemanfaatan Waduk Gajah Mungkur serta operasional masih berlangsung. Pihaknya juga telah berkoordinasi dengan instansi terkait seperti Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Bengawan Solo dan Pemprov Jawa Tengah untuk antisipasi kekeringan di Bendungan Wonogiri.

"Kami bersama BBWS Bengawan Solo, Dinas PU SDA, dan Dinas Pertanian Provinsi Jateng telah melakukan rapat koordinasi bersama. Terutama untuk pemanfaatan air Bendungan Wonogiri untuk irigasi pertanian," jelas dia.

"Awalnya ada kesepakatan untuk musim tanam ketiga ini yang seharusnya palawija, masih ada petani yang tanam padi. Jadi kami support untuk irigasi yang semula sampai 30 September, kami perpanjangan hingga 15 Oktober. Keputusan ini juga telah melalui pertimbangan teknis dan kondisi elevasi air di bendungan," katanya menambahkan.

Selain itu, ia menjelaskan adanya penurunan volume tampungan total sejak 1980 hingga 2022 ini. Di mana mulanya mencapai 560 juta meter kubik dengan volume efektif 440 juta meter kubik, menjadi turun dengan volume total 365 juta meter kubik, dan volume efektif 322 meter kubik. Penurunan volume tampung bendungan dikarenakan faktor sedimentasi.

Untuk mengoptimalkan kapasitas, PJT I juga melakukan kegiatan operasional pemeliharaan dengan mengeruk sedimen menggunakan alat berat, serta kapal keruk yang dioperasikan oleh BBWS Bengawan Solo.

Kepala Sub Divisi Humas dan Informasi Publik PJT I, Yulia Puspita menambahkan, selain melakukan pengelolaan sumber daya air secara teknis di Bendungan Wonogiri, PJT I juga memberikan bantuan air bersih untuk masyarakat. Di sepanjang wilayah Sungai Bengawan Solo, beberapa daerah telah disuplai air bersih, seperti Sragen, Ngawi, dan Lamongan.

"Memang di saat kemarau panjang ini ada beberapa wilayah yang kekeringan. Kami berkoordinasi dengan BPBD setempat untuk menyalurkan air bersih menggunakan truk tangki. Bantuan air bersih itu sebagai solusi jangka pendek yang kami lakukan untuk membantu masyarakat yang membutuhkan," ungkap dia.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement