Ahad 17 Sep 2023 11:24 WIB

Waspada! Polusi Udara Ancam Tumbuh Kembang Anak

Pada 2019, terdapat 28,14 kematian per 100 ribu populasi anak di Indonesia.

Bahaya polusi udara pada tumbuh kembang anak  (ilustrasi)..
Foto: dokpri
Bahaya polusi udara pada tumbuh kembang anak (ilustrasi)..

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Berdasarkan data World Health Organization (WHO), sembilan dari 10 orang menghirup udara yang tercemar dan diperkirakan sekitar tujuh juta orang meninggal setiap tahunnya karena polusi udara. Selain itu, berbagai penelitian juga memperkirakan bahwa terdapat hubungan antara polusi udara dengan gangguan alergi pernapasan dan infeksi pada anak. 

Ketiga faktor tersebut berpotensi menyebabkan peradangan kronis yang tidak terkendali pada saluran pernapasan sehingga berdampak buruk pada fisiologi sistem pernapasan. Alergi dan infeksi pernafasan yang diakibatkan polusi udara tersebut saat ini masih menjadi masalah kesehatan dunia, tidak terkecuali di Indonesia.

Dampak polusi udara bukan hanya mengancam orang dewasa, tapi juga sangat berbahaya bagi kesehatan anak-anak. Institute for Health Metrics and Evaluation memperkirakan bahwa pada 2019, terdapat 28,14 kematian per 100 ribu populasi anak di Indonesia yang berhubungan dengan paparan polutan udara, menjadikannya sebagai faktor risiko ketiga terbesar untuk mortalitas dan morbiditas pada anak di bawah lima tahun.

Sebuah penelitian terbaru berjudul 'The Notorious Triumvirate in Pediatric Health: Air Pollution, Respiratory Allergy, and Infection' telah menunjukkan tentang rentannya anak menghadapi masalah kesehatan yang disebabkan oleh polusi udara seperti alergi. Sebab, alergi terjadi sebagai bentuk reaksi sistem kekebalan tubuh terhadap zat lain yang dianggap berbahaya walaupun sebenarnya tidak. 

Polusi udara memicu sitokin pro-inflamasi yang dapat memperburuk peradangan alergi pada saluran pernapasan. Menurut penelitian tersebut, keseimbangan dan variasi mikrobiota usus perlu dijaga untuk mengurangi dampak buruk polusi udara pada anak-anak. Hal ini karena mikrobiota usus memiliki peran penting bagi kesehatan anak, seperti mendukung perkembangan saraf, memperbaiki keseimbangan sistem imunitas tubuh, mengurangi inflamasi akibat alergi, serta metabolisme pada anak.

Peneliti Studi 'The Notorious Triumvirate in Pediatric Health: Air Pollution, Respiratory Allergy, and Infection', Prof Anang Endaryanto mengatakan, anak-anak lebih rentan terhadap polusi udara. Secara fisiologis, organ tubuh mereka seperti otak dan paru-paru masih dalam tahap pertumbuhan. 

"Hal ini membuat mereka lebih rentan terhadap masalah kesehatan akibat polusi udara. Di lingkungan yang kurang bersih, anak-anak akan lebih banyak terpapar polusi udara, terutama karena mereka sering berada di luar ruangan. Meskipun pengaruh langsung polusi udara terhadap alergi pernapasan masih dalam penelitian, angka gangguan alergi pernapasan dan infeksi pada anak tetap tinggi di daerah dengan tingkat polusi yang tinggi. Hal ini disebabkan oleh polusi udara yang memicu reaksi peradangan yang memperburuk alergi pernapasan," kata Prof Anang dalam siaran pers, Ahad (7/9/2023).

Penelitian terbaru lainnya bertajuk 'The Impact of Air Pollution on Gut Microbiota and Children’s Health: An Expert Consensus' menunjukkan bahwa polusi udara dapat mempengaruhi kesehatan anak secara langsung melalui tiga jalur, yaitu jalur perkembangan saraf, kekebalan tubuh, dan kardiometabolik. Hal tersebut dapat terjadi karena polutan udara yang tertelan dapat menyebabkan disbiosis atau ketidakseimbangan mikrobiota usus, sehingga dapat memicu respons sistem imun yang menimbulkan reaksi alergi pada anak. 

Partikel polutan udara dapat mempengaruhi sel epitel yang merupakan lapisan pelindung usus, baik secara langsung maupun setelah diserap oleh mikrobiota usus. Kedua proses tersebut dapat menyebabkan melemahnya lapisan pelindung usus. Hal ini memungkinkan kuman bakteri dan polutan dari udara menembus lebih dalam ke lapisan dinding usus. Akibatnya, interaksi yang lebih aktif di antara sel-sel imun dan memicu peradangan, sehingga mengubah komposisi mikrobiota usus agar lebih sesuai dengan perubahan lingkungan di pencernaan.

Sebagai salah satu peneliti dalam studi 'The Notorious Triumvirate in Pediatric Health: Air Pollution, Respiratory Allergy, and Infection', dan juga sebagai Medical & Scientific Affairs Director Danone Specialized Nutrition Indonesia,  dr Ray Wagiu Basrowi mengatakan, sebanyak 68 persen penyakit alergi pada usia dewasa sudah dapat diprediksi sejak masa balita karena rekam genetik sulit diperbaiki.

"Meskipun demikian, anak-anak belum memiliki pertahanan terhadap polusi udara, sehingga peran orang tua sangat penting dalam melindungi mereka. Gangguan keseimbangan mikrobiota usus pada anak bisa memicu respons sistem kekebalan yang menyebabkan alergi, terutama akibat polusi udara. Oleh karena itu, para ahli merekomendasikan intervensi untuk menjaga kesehatan anak di tengah polusi, seperti memberikan makanan bernutrisi yang mengandung probiotik dan prebiotik untuk kesehatan pencernaan anak yang dapat mendukung daya tahan tubuhnya. Probiotik dan prebiotik merupakan salah satu asupan makanan yang dapat menunjang perkembangan dan keseimbangan mikrobiota untuk meningkatkan kesehatan tubuh. Probiotik serta prebiotik berfungsi mendukung keseimbangan mikrobiota usus anak dan membantu memulihkan bakteri baik yang terganggu oleh dampak polusi udara," katanya.

Dalam menghadapi situasi polusi udara ini, sudah saatnya orang tua di Indonesia lebih menyadari pentingnya menjaga kesehatan anak, mulai dari memperhatikan dampak polusi udara pada anak dan bagaimana cara pencegahannya.

"Orang tua di Indonesia perlu lebih menyadari akan pentingnya melindungi kesehatan anak dari polusi udara dan mengambil langkah-langkah pencegahan yang tepat. Anak-anak belum dapat melindungi diri mereka sendiri dari ancaman polusi di sekitarnya. Jadi, orang tua yang perlu melakukan upaya pencegahan dengan salah satunya memastikan asupan nutrisi yang dapat mendukung sistem kekebalan tubuh anak, sehingga mereka bisa tetap sehat dan tumbuh secara maksimal menjadi anak generasi maju," ujar dr Ray.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement