Selasa 24 Oct 2023 07:13 WIB

Memantik Cinta Batik Lewat Tangan Pembatik Cilik di Bantul

Anak-anak dibebaskan berkreasi sesuai fleksibilitas waktu di luar jam belajar.

Rep: Idealisa Masyrafina/ Red: Yusuf Assidiq
Anjani Sekar Arum saat merayakan Hari Batik Nasional 2023 di SDn Jigudan, Pandak, Kabupaten Bantul.
Foto: Idealisa Masyrafina
Anjani Sekar Arum saat merayakan Hari Batik Nasional 2023 di SDn Jigudan, Pandak, Kabupaten Bantul.

REPUBLIKA.CO.ID, BANTUL -- Anjani Sekar Arum (32 tahun) tampak menikmati waktunya mengajak anak-anak melakukan tebak-tebakan berhadiah di suatu sekolah dasar di Kabupaten Bantul, DIY. Saat itu, pendiri Komunitas Pembatik Cilik ini tengah merayakan Hari Batik Nasional 2023 dengan puluhan anak-anak yang hobi membatik.

"Saya Bu, Saya Bu!" jawab anak-anak itu dengan mengacungkan jari, berusaha menjawab pertanyaan berhadiah dari pembina batik mereka. Mereka saat itu hadir untuk pembagian tabungan pendidikan hasil dari kegiatan membatik, dan tidak hanya itu, mereka juga memamerkan karya batik mereka dalam fashion show yang digelar di SDN Jigudan, Kalurahan Triharjo, Kapanewon Pandak.

Dikenal sebagai pencipta batik Bantengan, rupanya tidak membuat Anjani Sekar Arum puas. Desain batik khas Kota Batu yang diciptakannya memang telah melanglang buana hingga kancah internasional, tapi ada satu hal yang tengah ia gencarkan: regenerasi pembatik.

Kota Batu yang memiliki tradisi Bantengan tidak memiliki motif batik yang menjadi ciri khasnya, sehingga Anjani yang memiliki bakat melukis berpikir untuk membuat motif khas kota tersebut. Motif kain batik Bantengan merupakan hasil kreasi Anjani yang kemudian ia populerkan melalui sanggar batik Andaka yang didirikan pada 2014.

 

Kreasinya tersebut membawanya untuk ikut pameran di Praha, Republik Ceko. Akan tetapi, dua pekan menuju hari H, Anjani cuma sanggup membuat 10 lembar kain dan ia menyadari bahwa tidak mudah bertemu dengan pembatik yang tekun dan bagus. Kemudian ia bertemu dengan dengan seorang gadis berusia sembilan tahun yang tertarik belajar membatik.

Momen ini yang memantik keinginannya untuk melatih anak-anak menjadi pembatik. "Batik itu patut dilestarikan, tapi jumlah pembatik justru tidak banyak," ujar Anjani kepada Republika.

Langkanya pembatik menjadi kekhawatiran tersendiri bagi sejumlah wilayah yang memiliki sentra batik. Padahal, batik merupakan ciri khas Indonesia yang patut dilestarikan. Melalui Sanggar Batik Andaka, Anjani mulai melatih anak-anak untuk membatik.

Dia pun merintis Komunitas Pembatik Cilik di Kota Batu, bekerja sama dengan hampir seluruh sekolah dari tingkat sekolah dasar (SD) hingga sekolah menengah atas (SMA). Jumlah siswa yang bergabung dengan komunitas ini mencapai hampir 800 orang.

Anjani mengakui tidak mudah membuat anak-anak untuk mencintai batik. Untuk itu, ia memang berupaya agar batik Bantengan yang dikreasikannya dapat dimanfaatkan secara luas oleh UMKM batik di Kota Batu.

Meski ia memiliki hak paten atas batik Bantengan, pelaku UMKM dapat memanfaatkan motif tersebut untuk membuat kreasi batik asal ada kerja sama yang mengikat. Kini terdapat sembilan pelaku UMKM yang tergabung dalam komunitas Paguyuban Kriya Kain dan Wastra Aksesoris di bawah binaannya.

Pelaku UMKM tersebut tersebar delapan desa yaitu Desa Sumberejo, Temas, Songgokerto, Sidomulyo, Ngaglik, Pesanggrahan, Dadaprejo dan Desa Beji. Kerja sama ini telah meningkatkan perekonomian masyarakat di daerah tersebut, sehingga ini menjadi salah satu nilai tawar agar anak-anak tertarik mempelajari batik.

"Ini sebagai motivasi mereka dalam melihat batik tidak hanya sebagai budaya untuk dilestarikan tapi juga untuk menghasilkan uang demi masa depan mereka," ujarnya.

Tidak hanya untuk melestarikan budaya Indonesia, melalui Komunitas Pembatik Cilik, Anjani berupaya melahirkan entrepreneur muda dalam bidang fesyen batik. Karya batik anak-anak ini pun dapat ikut dalam pameran maupun fashion show sehingga dapat dijual dengan harga yang kompetitif dari Rp 500 ribu hingga Rp 2,5 juta per lembar.

Komunitas ini bekerja sama dengan bank daerah agar uang hasil anak-anak berkarya batik dapat menjadi tabungan pendidikan untuk mereka. Ia pun menegaskan program ini untuk mengajarkan mereka menjadi entrepreneur muda, bukan untuk eksploitasi anak.

Maka anak-anak dibebaskan untuk berkreasi sesuai fleksibilitas waktu di luar jam belajar mereka. Meski tujuannya untuk menciptakan entrepreneur muda, hingga saat ini siswa didikan Anjani dalam komunitas tersebut belum lulus sekolah dan bekerja dalam pembuatan batik tulis.

"Pertama kali saya mendidik anak SD sekitar delapan tahun lalu, dan yang paling tua saat ini menginjak kelas akhir SMA. Saya sudah melihat bibit-bibit entrepreneur dari mereka, saya yakin tahun depan akan banyak kejutan mengenai ini," harapnya.

Komunitas pembatik cilik

Peraih SATU Indonesia Awards 2017 ini kemudian mengembangkan sayapnya untuk mendidik pembatik cilik lewat sekolah binaan PT Astra Internasional Tbk Astra, kemudian mengajaknya mengembangkan Komunitas Pembatik Cilik di Provinsi DI Yogyakarta yakni di Kabupaten Bantul dan Gunungkidul.

"Di wilayah DIY ada 160 siswa pembatik untuk Gunungkidul dan Bantul. Di Yogya ini potensinya luar biasa, karena dari segi hasil untuk wilayah Yogya lebih bagus batiknya," ujar Anjani.

Sebagai penggagas Komunitas Pembatik Cilik, Anjani melebarkan sayapnya melalui Yayasan Pendidikan Astra -Michael D Ruslim, yang memiliki sekolah-sekolah binaan di sentra batik di Bantul dan Gunungkidul. Di Bantul, Komunitas Pembatik Cilik dibentuk di Kalurahan Gilangharjo dan Triharjo, Kapanewon Pandak.

Langkah untuk regenerasi pembatik melalui komunitas ini dimulai beberapa tahun lalu. Saat itu, Yayasan Pendidikan Astra memberikan bantuan berupa alat membatik ke beberapa sekolah binaan di kedua kabupaten tersebut.

Adapun yang mendapat bantuan peralatan membatik berjumlah empat sekolah di Kabupaten Bantul, terdiri atas tiga SD dan satu SMP. Sementara untuk Gunungkidul, ada delapan sekolah yang mendapatkan bantuan, terdiri enam SD, satu SMP, dan satu SMK.

Untuk di Pandak, ada sebanyak 92 siswa dari empat sekolah binaan Astra, yakni SDN Jigudan, SDN Ciren, SDN Gunturan dan SMPN 4 Pandak yang menjadi binaan Komunitas Pembatik Cilik.

"Ada 92 siswa yang ikut dalam Komunitas Pembatik Cilik. Masing-masing sekolah dipilih minimal sebanyak 10-12 orang untuk dibina," jelas Anjani.

Menurut dia, meski komunitas ini baru dibentuk pada 2021, namun para pembatik cilik mampu menunjukkan kemampuan mereka dalam menghasilkan produk batik tulis berkualitas.

Mereka juga menjadi bagian dalam mempromosikan budaya batik melalui kampung wisata edukasi batik pembatik cilik di Padukuhan Gunting, Kalurahan Gilangharjo, yang diluncurkan pada 2022 lalu.

Eduwisata ini merupakan bagian dari Desa Sejahtera Astra (DSA) Gilangharjo. Menurut Dukuh Gunting, Tumilan, Komunitas Pembatik Cilik menjadi upaya mereka untuk regenerasi pembatik yang saat ini semakin sedikit di Gilangharjo.

Dulunya, mayoritas warga di Gilangharjo merupakan pembatik yang saat ini, jumlahnya menurun hingga sekitar 20 persen. "Di Pandak tidak banyak yang membatik, dulu di kampung kami saja mayoritas hampir separuh lebih, sekarang hanya tinggal 10 -20 persennya," ujarnya.

Selain untuk regenerasi pembatik, mereka juga berupaya agar desa wisata batik terus berkembang. Upaya ini dilakukan dengan melibatkan anak-anak Komunitas Pembatik Cilik menjadi pemandu wisata bagi para wisatawan yang datang ke kampung wisata batik.

Bahkan, mereka juga akan mengajarkan batik untuk para wisatawan yang hadir. "Kami berharap semakin banyak anak yang dapat melestarikan batik," kata Tumilan.

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement