Jumat 03 Nov 2023 12:43 WIB

BTNGMb Lakukan Asessment Pascakebakaran Hutan Merbabu

Sudah ada satwa endemik yang mati akibat kebakaran lahan dan hutan.

Rep: Bowo Pribadi/ Red: Yusuf Assidiq
Api membakar lahan Gunung Merbabu beberapa waktu lalu (ilustrasi)
Foto: ANTARA FOTO/Aji Styawan
Api membakar lahan Gunung Merbabu beberapa waktu lalu (ilustrasi)

REPUBLIKA.CO.ID, UNGARAN -- Balai Taman Nasional Gunung Merbabu (BTNGMb) belum dapat memastikan jenis-jenis kekayaan fauna yang terdampak oleh kebakaran hutan dan lahan di kawasan Gunung Merbabu.

Berdasarkan temuan petugas dan relawan yang masih melakukan patroli pascakebakaran, sejauh ini sudah ada satwa endemik yang mati akibat kebakaran lahan dan hutan di kawasan TNGMb.

Seperti mamalia jenis kijang (Muntiacus muntjak) serta primata kera ekor panjang (Macaca fascicularis) yang diperkirakan sebelumnya sempat terjebak di kawasan hutan dan lahan yang terbakar.

Plt Kepala BTNGMb, Nurpana Sulaksono yang dikonfirmasi mengungkapkan, saat ini petugas BTNGMb bersama dengan para relawan masih melaksanakan proses assessment pascakebakaran di lereng Merbabu.

 

Asessment ini dilakukan untuk mendata sekaligus mengetahui secara rinci dampak-dampak yang ditimbulkan oleh peristiwa kebakaran hutan kawasan BTNGMb pada 27 hingga 29 Oktober 2023 kemarin.

“Baik terkait dengan total luasan kerusakan hutan, keragaman flora, maupun fauna gunung Merbabu yang juga ikut terdampak oleh kebakaran tersebut,” jelasnya, di Getasan, Kabupaten Semarang.

Sementara itu, berdasarkan data BTNGMb, kawasan hutan TMNGMb memiliki aneka kekayaan jenis fauna. Seperti tiga jenis primate, seperti rek-rekan (Presbytis comata fredericae), lutung budeng (Trachypithecus auratus), dan kera ekor panjang (Macaca fascicularis).

Selain itu juga terdapat beberapa jenis fauna langka yang dilindungi, seperti kijang (Muntiacus muntjak), landak (Hystrix javanica), trenggiling (Manis javanica), serta Kucing hutan (Felis bengalensis).

Termasuk berbagai jenis aves, seperti elang Jawa (Nisaetus bartelsi), elang hitam (Ichtinaetus malayanensis), bondol-hijau dada-merah, kenari melayu, celepuk Jawa, srigunting batu (Dicrurus paradiseus).

Kemudian meninting besar (Enicurus leschenaultia), ciung-batu siul (Myophonus caeruleus), cabai jawa (Dicaeum trochileum), dan kipasan belang (Rhipidura javanica). Di luar itu juga ada sembilan jenis herpetofauna, 121 jenis aves, 46 jenis kupu-kupu, 13 jenis mamalia, dan sembilan jenis laba-laba.

Nurpana juga menjelaskan, sebagai tindak lanjut penanganan akibat dampak kebakaran tersebut, BTNGMB juga menyiapkan langkah-langkah untuk melakukan pemulihan ekosistem yang terdampak.

Yakni dengan melakukan penanaman kembali bebagai jenis tanaman asli kawasan TNGMb bersamaan dengan datangnya musim penghujan nanti. “Melalui upaya ini, semoga hutan Merbabu bisa pulih kembali dan tetap lestari,” jelas dia.

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement