Jumat 17 Nov 2023 01:37 WIB

Begini Komentar Pedagang Kelontong di Solo Soal Boikot Produk Pro-Israel

Ada produk yang memang kurang diminati masyarakat setempat.

Rep: Muhammad Noor Alfian/ Red: Yusuf Assidiq
Salah satu toko kelontong di Kota Solo.
Foto: Muhammad Noor Alfian
Salah satu toko kelontong di Kota Solo.

REPUBLIKA.CO.ID, SOLO -- Jupri (53), salah seorang pedagang toko kelontong di Banjarsari Solo, mengaku sempat mendengar kabar terkait aksi boikot sejumlah merek produk dan perusahaan yang diduga berafiliasi atau pro Israel di Indonesia. Kendati demikian, sebagai pedagang kecil ia tetap berjualan seperti biasa sesuai dengan kebutuhan masyarakat.

"Ya mendengar (kabar boikot itu) tapi ya jualan seperti biasa. Misal cuma barangnya yang diboikot kan selain air mineral (merek tertentu) memang di sini peminatnya gak banyak, jadi jadi ya jual seadanya," katanya ketika ditemui, Kamis (16/11/2023).

Jupri juga menyebutkan salah satu merek air mineral sejak lama telah menurun penjualannya sebelum kabar boikot berhembus.

"Sebenarnya konsumen ndak pilih pilih kalau yang laris kan di sini memang dari dulu itu (menyebut salah satu merek air mineral) jadi sudah kalah dari dulu sebelum ada kabar boikot boikot," ujar dia.

 

Kendati demikian, pihaknya tetap menjual barang barang sabun yang diproduksi oleh perusahaan yang diduga berafiliasi dengan Israel. Menurutnya lantaran merek lain tak menawarkan produk yang beragam dan memang sudah menjadi konsumen tetap.  

"Kan yang membutuhkan orang orang jadi tetap cari, wong adanya ratanya ratanya itu (menyebut merek). Kalau produk lain kan produknya sedikit," katanya.

Pedagang kelontong lainnya, Syafi'i (35), mengaku tak tahu menahu terkait kabar boikot itu. Sebagai pedagang kecil yang menyetok kebutuhan harian ia hanya berjualan seperti biasanya.

"Gak pernah dengar juga. Jualan seperti biasa sesuai yang dibutuhkan masyarakat yang di sini yang dibelanjakan tiap harinya gitu kan," ungkapnya.

Kendati demikian, ketika disinggung sejumlah produk yang diduga berafiliasi dengan Israel, Syafi'i mengaku ada produk yang memang kurang diminati masyarakat setempat. Namun, ia menduga hal itu tergantung daerahnya dan tak terkait dengan kabar boikot.

"Minatnya di sini kurang, tapi tergantung daerah juga sih di sini memang minatnya kurang dan di samping jalan raya juga nggak nentu orang beli itu," jelas dia.

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement