Kamis 23 Nov 2023 21:59 WIB

SIBI UMM Bahas Efek Post Industrial dalam Krisis Perubahan Iklim

Industri perlu menciptakan produk-produk berkelanjutan.

Rep: Wilda Fizriyani/ Red: Yusuf Assidiq
 Seminar Internasional Berbahasa Indonesia (SIBI) di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) UMM.
Foto: Dokumen
Seminar Internasional Berbahasa Indonesia (SIBI) di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) UMM.

REPUBLIKA.CO.ID, MALANG -- Seminar Internasional Berbahasa Indonesia (SIBI) baru saja dilaksanakan oleh Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Kegiatan ini mengangkat tema Efek Post Industrial dalam Krisis Perubahan Iklim.

Untuk diketahui, evolusi dunia industri menjadi post-industrial membawa tantangan baru bagi kehidupan manusia. Perkembangan teknologi dan informasi pada era post-industrial tak dapat dihindari lagi dan menciptakan beberapa tantangan serius.

Hal ini seperti perubahan sosial, perubahan pendidikan, dan yang paling krusial yaitu adanya perubahan pada alam. Akademisi Gautam Khumar Jha dari Jawaharlal Nehru University, India mengatakan, revolusi ini melahirkan perubahan pola sosial bermasyarakat.

"Contohnya yaitu perubahan globalisasi yang melahirkan pola konsumsi di mana menunjukkan status sosial atau kekayaan seseorang," katanya.

 

Menurut dia, hal ini disebut dengan pola konsumsi yang mencolok. Artinya, tiap individu berlomba-lomba untuk membeli barang mewah demi status sosial di masyarakat.

Khumar menyampaikan, aktivitas ekonomi masyarakat yang berubah dapat menyebabkan beban berat terhadap lingkungan. Pola konsumtif masyarakat ini adalah hasil dari percepatan persebaran informasi dan komunikasi pada lini masyarakat global.

Sebagai dampaknya, muncul kebutuhan-kebutuhan palsu dari masyarakat untuk memenuhi hasrat sosialnya. Menurut dia, industri perlu menciptakan produk-produk berkelanjutan untuk keberlangsungan dunia industri.

Bukan hanya produk-produk yang cepat usang dan akhirnya mencemari lingkungan. Salah satu solusi yang ia berikan adalah menerapkan kearifan lokal pada lini masyarakat global untuk menciptakan kearifan yang berkelanjutan.

Dengan demikian, mampu menyelesaikan masalah perubahan iklim. “Misalnya saja seperti pengobatan tradisional di Indonesia dan India yang mencerminkan warisan budaya dan pemahaman lingkungan,” jelas dia.

Sementara itu, Islahuddin dari Fatoni University, Thailand, membenarkan bahwa pendidikan dapat menjadi solusi pengelolaan lingkungan dan keberlanjutan sosial. Pendidikan mengubah pemahaman masyarakat mengenai keberlanjutan lingkungan.

"Salah satu penerapannya adalah pendidikan Islam yang dapat menciptakan persaudaraan dan keadilan antar umat beragama," ujarnya.

Wakil Rektor I UMM, Prof Syamsul Arifin menilai, hal ini tentu akan menarik apabila dibawa ke perspektif agama dalam menciptakan sistem keberlanjutan lingkungan. Ia berharap, pendidikan agama tidak hanya menambah pemahaman mengenai lingkungan saja.

Namun juga mengubah perilaku dan pola pikir masyarakat. "Seperti yang dilakukan oleh Muhammadiyah melalui milad ke-111 kemarin. Memiliki tujuan dan berkomitmen untuk menciptakan lingkungan hidup yang aman dan damai," kata dia.

Ia juga mengatakan seminar internasional itu menjadi wadah yang tepat bagi para praktisi dan sivitas akademika untuk menyampaikan gagasan-gagasannya. Hal ini terutama terkait lingkungan dan perubahan iklim.

Selain itu, juga menjadi tempat yang bagus untuk mempraktikkan bahas Indonesia, mengingat seminar ini menggunakan bahasa Indonesia sebagai bahasa utama.

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement