Ahad 26 Nov 2023 11:20 WIB

Terjadi Hujan di Merapi, BPPTKG: Tidak Dilaporkan Lahar Dingin

Intensitas kegempaan Merapi pekan ini masih tinggi.

Rep: Silvy Dian Setiawan/ Red: Yusuf Assidiq
Gunung Merapi terlihat dari Dusun Ngori, Magelang, Jawa Tengah.
Foto: Republika/Wihdan Hidayat
Gunung Merapi terlihat dari Dusun Ngori, Magelang, Jawa Tengah.

REPUBLIKA.CO.ID, YOGYAKARTA -- Musim hujan sudah mulai terjadi di DIY pada November 2023 ini. Bahkan dalam sepekan terakhir yakni terjadi hujan di sekitar kawasan Gunung Merapi.

Berdasarkan pengamatan yang dilakukan Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG), terjadi hujan di Pos Pengamatan Merapi pada 22 November 2023. Hujan tersebut terjadi dengan intensitas curah hujan sebesar 22 milimeter per jam selama 30 menit di Pos Jrakah.

Meski begitu, BPPTKG melaporkan tidak ada banjir lahar dingin selama terjadi hujan di kawasan Merapi. "Tidak dilaporkan adanya penambahan aliran maupun lahar dingin di sungai-sungai yang berhulu di Merapi," kata Kepala BPPTKG, Agus Budi Santoso, Sabtu (25/11/2023).

BPPTKG menyebut bahwa secara umum cuaca di sekitar Merapi dalam sepekan terakhir cerah di pagi dan malam hari. Namun, pada siang hingga sore hari berkabut.

"Asap berwarna putih, ketebalan tipis hingga tebal, tekanan lemah hingga sedang dan tinggi 200 meter teramati dari Pos Pengamatan Merapi Babadan pada 20 November 2023 pukul 06.30 WIB," ujarnya.

Terkait dengan guguran lava, sepekan ini Merapu mengeluarkan 91 kali guguran ke arah selatan dan barat daya. Puluhan guguran lava ini meliputi tiga kali ke hulu Kali Boyong sejauh maksimal 1.300 meter, dan 88 kali ke hulu Kali Bebeng sejauh 1.800 meter.

"Suara guguran terdengar 30 kali dari Pos Babadan dengan intensitas kecil hingga sedang," jelasnya. Sementara itu, BPPTKG juga mencatat intensitas kegempaan Gunung Merapi dalam sepekan terakhir masih tinggi.

Setidaknya, tercatat dua kali gempa Vulkanik Dangkal (VTB), 1.715 kali gempa Fase Banyak (MP), 753 kali gempa Guguran (RF), dan delapan kali gempa Tektonik (TT).

Dari pengamatan tersebut, gempa Fase Banyak (MP) tercatat paling banyak terjadi selama sepekan terakhir. Hal ini menandakan adanya kenaikan aktivitas magmatik.

"Intensitas kegempaan pekan ini masih tinggi, terutama gempa MP yang mengindikasikan adanya kenaikan aktivitas magmatik di kedalaman kurang dari 1,5 kilometer dari puncak," kata Agus.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement