Senin 27 Nov 2023 03:43 WIB

Cegah Kekerasan di Sekolah, Disdikbud Jateng Luncurkan Gerakan ‘Ayo Rukun’

Ini akronim dari ‘Aksi Gotong Royong Berantas Kekerasan dan Perundungan’.

Rep: Bowo Pribadi/ Red: Yusuf Assidiq
Kekerasan di Sekolah (ilustrasi)
Foto: gabriellamagdalena.blogspot.com
Kekerasan di Sekolah (ilustrasi)

REPUBLIKA.CO.ID, SEMARANG -- Cegah aksi kekerasan yang terjadi di lingkungan satuan pendidikan (sekolah), Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jawa Tengah melalui Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) meluncurkan gerakan ‘Ayo Rukun’.

Peluncuran gerakan pencegahan terhadap berbagai aksi kekerasan di lingkungan sekolah ini dilaksanaan dalam momentum peringatan Hari Guru Nasional ke-78 Tingkat Provinsi Jateng 2023, di SMKN 1 Semarang, Kota Semarang, Sabtu (25/11).

Kepala Disdikbud Jateng, Uswatun Hasanah mengatakan, ‘Ayo Rukun’ merupakan sebuah akronim dari ‘Aksi Gotong Royong Berantas Kekerasan dan Perundungan’.

“Ini merupakan sebuah aksi gotong-royong dan sinergi para pemangku kepentingan untuk saling bersinergi mewujudkan lingkungan satuan pendidikan yang bebas dari berbagai jenis dan bentuk kekerasan yang masih memprihatinkan,” jelasnya.

Uswatun mengungkapkan, berdasarkan data Disdikbud, dalam kurun waktu 2022 dan 2023 terdapat tujuh kasus kekerasan yang bahkan sampai meninggal dunia serta pelecehan seksual oleh oknum guru terhadap peserta didiknya.

Sementara berdasarkan data Dinas Pemberdayaan Perempuan Perlindungan Anak Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DP3AP2KB) Jateng, selama tiga tahun terakhir kekerasan yang terjadi di satuan pendidikan cenderung meningkat.

Tahun 2020 sebanyak 33 siswa dan 38 siswi menjadi korban kekerasan di satuan pendidikan. Jumlah ini meningkat menjadi 25 siswa dan 50 siswi pada 2021. Kemudian menjadi 30 siswa dan 67 siswi (2022).

Sedangkan per Juli 2023, setidaknya sudah ada 23 siswa. Berdasar bentuk kekerasan yang jamak terjadi di satuan pendidikan meliputi kekerasan fisik, kekerasan psikis, perundungan, kekerasan seksual, diskriminasi/intoleransi, kebijakan mengandung unsur kekerasan dan lainnya.

“Semua ini harus dicegah dan ditangani melalui prinsip nondiskriminasi, kepentingan terbaik bagi anak, partisipasi anak, keadilan dan kesetaraan gender, kesetaraan hak dan aksesibilitas bagi penyandang disabilitas, akuntabilitas, kehati-hatian, serta keberlanjutan pendidikan,” kata dia.

Kemendikbudristek melalui Episode ke-25 Merdeka Belajar, juga telah merilis kebijakan baru melalui Peraturan Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi Nomor 46 Tahun 2023 tentang Pencegahan dan Penanganan Kekerasan di Lingkungan Satuan Pendidikan.    

Maka, Ayo Rukun ini merupakan sebuah instrumen yang dikembangkan untuk menjadi kanal yang komprehensif dalam pencegahan dan penanganan kekerasan di lingkungan satuan pendidikan secara holistik.

Ayo Rukun juga akan dilengkapi sebuah aplikasi yang diharapkan mampu secara lengkap memberikan informasi bagi masyarakat, terkait aksi-aksi satuan pendidikan dalam menggerakkan semangat mewujudkan sekolah yang aman, nyaman, dan menyenangkan.

Seberapa jauh komitmen sekolah dalam melaksanakan pencegahan dan penanganan kekerasan di lingkungannya akan dapat diperoleh melalui aplikasi AyoRukun yang terintegrasi dalam website resmi Disdikbud Jateng.

Melalui gerakan ini, Disdikbud ingin mewujudkan sekolah menjadi empat belajar yang aman dan nyaman, sekolah sebagai rumah kedua bagi anak-anak dan memberikan kesempatan bertumbuh dan berkembang menyambut masa depannya yang cerah.

“Tugas kita adalah mengupayakan anak-anak kita memperoleh layanan pendidikan yang menjunjung tinggi penghargaan dan penghormatan atas hak-hak dasar yang harus kita kawal bersama,” ungkapnya.

Penjabat (Pj) Gubenur Jateng, Nana Sudjana dalam kesempatan ini menyampaikan, gerakan Ayo Rukun diluncurkan untuk mencegah dan menangani kekerasan yang terjadi di lingkungan satuan pendidikan.

“Melalui gerakan ini, kami harapkan tidak ada lagi kekerasan fisik, perundungan serta bentuk kekerasan lain di sekolah, sehingga para siswa dapat belajar dengan aman, nyaman, dan menyenangkan,” katanya.

Menurut Nana, saat ini sudah ada 19 sekolah di Jateng yang telah menerapkan program dn gerakan Ayo Rukun yang diinisiasi Disdikbud tersebut dan jumlahnya masih akan terus bertambah.

Anak merupakan kader bangsa ke depan dan mereka bakal menjadi pimpinan di negara ini. “Maka kita harus betul-betul memberikan rasa aman, nyaman, dan menyenangkan di sekolah,” tegas dia.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement