Selasa 05 Dec 2023 02:39 WIB

Cuaca Ekstrem Berpotensi Landa Jateng pada 4-6 Desember, Cek Prakiraan BMKG

Potensi cuaca ekstrem dipicu aktifnya Madden-Julian Oscillation di Samudra Hindia.

Petugas menunjukkan citra satelit Himawari di Balai Besar Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (ilustrasi)
Foto: ANTARA/Fikri Yusuf
Petugas menunjukkan citra satelit Himawari di Balai Besar Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (ilustrasi)

REPUBLIKA.CO.ID, CILACAP -- Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) memprakirakan cuaca ekstrem berpotensi terjadi pada sejumlah wilayah di Jawa Tengah (Jateng) pada 4-6 Desember 2023, sehingga masyarakat diimbau waspada terhadap kemungkinan terjadinya bencana hidrometeorologi.

"Berdasarkan data dinamika atmosfer yang dirilis BMKG Stasiun Meteorologi Ahmad Yani Semarang, ada beberapa hal yang berpotensi memicu terjadinya cuaca ekstrem pada 4-6 Desember," kata Kepala Kelompok Teknisi BMKG Stasiun Meteorologi Tunggul Wulung Cilacap, Teguh Wardoyo, di Cilacap.

Dalam hal ini, kata dia, potensi terjadinya cuaca ekstrem itu dipicu oleh aktifnya Madden-Julian Oscillation (MJO) di wilayah Samudra Hindia yang berpengaruh terhadap pembentukan awan.

Menurut dia, potensi cuaca ekstrem tersebut juga dipicu oleh aktifnya gelombang atmosfer Rossby Ekuator dan Kelvin di sekitar Pulau Jawa, serta adanya sirkulasi siklonik di utara Pulau Jawa.

 

Selain itu juga dipicu oleh hangatnya suhu muka laut di wilayah perairan Jateng khususnya Laut Jawa dan kelembapan udara yang cukup tinggi dari lapisan permukaan hingga lapisan 500 milibar dan labilitas lokal kuat yang mendukung proses konvektif pada skala lokal.

"Kondisi tersebut menyebabkan peningkatan potensi cuaca ekstrem berupa hujan dengan intensitas sedang hingga lebat yang dapat disertai petir dan angin kencang di beberapa wilayah Jateng pada 4-6 Desember," kata dia.

Lebih lanjut, dia mengatakan wilayah Jateng yang berpotensi terjadi cuaca ekstrem pada hari Senin (4/12) meliputi Kabupaten Cilacap, Banyumas, Purbalingga, Banjarnegara, Wonosobo, Magelang, Boyolali, Karanganyar, Sragen, Grobogan, Blora, Demak, Semarang, Temanggung, Kendal, Batang, Pekalongan, Pemalang, Salatiga, Brebes, dan sekitarnya.

Sementara pada Selasa (5/12) cuaca ekstrem berpotensi terjadi di Cilacap, Banyumas, Purbalingga, Banjarnegara, Wonosobo, Magelang, Karanganyar, Grobogan, Blora, Temanggung, Kendal, Batang, Kabupaten Pekalongan, Pemalang, Tegal, Brebes, dan sekitarnya.

Selanjutnya, wilayah yang berpotensi terjadi cuaca ekstrem pada Rabu (6/12) meliputi Cilacap, Banyumas, Purbalingga, Banjarnegara, Wonosobo, Magelang, Karanganyar, Grobogan, Blora, Temanggung, Pekalongan, Pemalang, Tegal, Brebes, dan sekitarnya.

"Terkait dengan cuaca ekstrem yang berpotensi di wilayah-wilayah tersebut, kami mengimbau masyarakat agar tetap waspada terhadap potensi bencana hidrometeorologi berupa banjir, tanah longsor, dan angin kencang terutama untuk masyarakat yang berada dan tinggal di wilayah rawan bencana hidrometeorologi," ujarnya.

Disinggung mengenai bencana longsor yang terjadi di Kabupaten Banyumas, dia menduga hal itu dipicu oleh hujan sangat lebat yang terjadi pada Ahad hingga Senin (3-4/12), pukul 07.00 WIB.

Menurut dia, hal itu diketahui berdasarkan data pemantauan curah hujan di sejumlah wilayah Banyumas, antara lain Danaraja sebesar 127 milimeter, Arcawinangun 126 milimeter, Rempoah (Baturraden) 113 milimeter, dan Rawalo 124 milimeter.

"Curah hujan berkisar 100-150 milimeter per hari termasuk kategori sangat lebat. Sementara untuk wilayah Banyumas lainnya masuk kategori hujan sedang (20-50 milimeter per hari) hingga lebat (50-100 milimeter per hari," katanya.

sumber : Antara
BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement