Sabtu 17 Feb 2024 12:06 WIB

Stasiun Yogyakarta Direnovasi, Ada Penyesuaian Akses Penumpang

Proyek renovasi Stasiun Yogyakarta diperkirakan berlangsung lima bulan.

Rep: Silvy Dian Setiawan/ Red: Irfan Fitrat
(ILUSTRASI) Stasiun Yogyakarta.
Foto: Dok: Daop 6 Yogyakarta
(ILUSTRASI) Stasiun Yogyakarta.

REPUBLIKA.CO.ID, YOGYAKARTA — Proyek renovasi tengah berjalan di Stasiun Yogyakarta, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). Sehubungan dengan itu, untuk sementara ada penyesuaian akses atau arus lalu lintas penumpang di Stasiun Yogyakarta.

Manajer Humas PT KAI Daerah Operasi (Daop) 6 Yogyakarta, Krisbiyantoro, mengatakan, penyesuaian dilakukan di pintu timur atau akses masuk dari Jalan Pangeran Mangkubumi. Menurut dia, area boarding gate manual dan pencetakan tiket di pintu timur, yang semula di tengah, digeser ke area samping, memanfaatkan pintu keluar darurat.

Baca Juga

Selain itu, face recognition boarding gate di pintu timur sementara waktu ditiadakan karena keterbatasan area. “Untuk kemudahan proses boarding dan lainnya, Daop 6 mengimbau agar pelanggan dapat mengakses pintu selatan yang berada di Jalan Pasar Kembang,” kata Krisbiyantoro, Jumat (16/2/2024).

Krisbiyantoro mengatakan, penyesuaian juga dilakukan di area drop zone timur. Untuk sementara area tersebut hanya ditujukan bagi kendaraan kecil, seperti mobil kecil dan sepeda motor. Sedangkan kendaraan besar dapat menggunakan area drop zone melalui akses pintu selatan stasiun.

Penyesuaian selama adanya proyek renovasi ini dilakukan agar penumpang kereta api tetap merasa nyaman. “Daop 6 tentunya akan selalu adaptif dengan keadaan di lapangan nantinya, serta selalu mengupayakan pelayanan yang maksimal kepada pelanggan dan memperhatikan kelancaran flow penumpang,” kata Krisbiyantoro.

Ihwal proyek renovasi di Stasiun Yogyakarta, Krisbiyantoro mengatakan, diperkirakan akan berjalan selama kurang lebih lima bulan atau hingga pertengahan tahun ini. “Visi yang diusung dalam proyek renovasi ini adalah menjaga nilai heritage dari Stasiun Yogyakarta,” ujar dia.

Menurut Krisbiyantoro, upaya tersebut dilakukan karena ada potensi nilai historis Stasiun Yogyakarta tergerus dengan tingginya lalu lintas transportasi antarkota. “Untuk menghindari adanya desakan yang dapat mengakibatkan kemungkinan berkurangnya nilai heritage atau terjadinya kerusakan, diperlukan rencana revitalisasi. Tidak hanya pada skala bangunan, namun juga skala kawasan. Oleh karenanya, KAI memberikan ubahan pada Stasiun Yogyakarta untuk terus mempertahankan nilai historis stasiun,” kata dia.

 

Dapat mengunjungi Baitullah merupakan sebuah kebahagiaan bagi setiap Umat Muslim. Dalam satu tahun terakhir, berapa kali Sobat Republika melaksanakan Umroh?

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement