Kamis 22 Feb 2024 04:06 WIB

Daya Tangkal Masyarakat untuk Perangi Terorisme Perlu Terus Dibangun

Hasil penelitian Setara Institute menunjukkan terjadi peningkatan proses radikalisasi

Ilustrasi Terorisme
Foto: Republika/Mardiah
Ilustrasi Terorisme

REPUBLIKA.CO.ID, SEMARANG — Daya tangkal masyarakat terhadap ideologi terorisme perlu terus dibangun untuk memerangi penyebaran paham-paham kekerasan tersebut. Karena itu, Badan Nasional Penanggulangan Terorisme Republik Indonesia (BNPT RI) terus mengimbau keterlibatan seluruh pihak menjadi mitra strategis dalam menjalankan program penanggulangan terorisme.

Kepala BNPT RI Komjen Pol Rycko Amelza Dahniel, menyatakan BNPT tidak bisa bekerja sendirian. Keberadaan FKPT, Duta Damai dan Duta Santri, yang menjadi mitra strategis BNPT untuk memperkuat resiliensi masyarakat dalam mencegah penyebaran ideologi radikal terorisme ini sangat penting. 

"Kalau FKPT, Duta Damai, dan Duta Santri bisa berkolaborasi seperti ini tentunya dapat menumbuhkan daya tangkal atau daya cegah dan perlawanan untuk mencegah teroris  yang secara terang-terangan ingin mengubah dasar negara kita," ujar Rycko.

Kepala BNPT mengingatkan soal domain kerja FKPT, baik Duta Damai maupun Duta Damai Santri sebagai ujung tombak bisa diperkuat dan diintensifkan untuk berfokus di wilayah pencegahan, yaitu membangun kesiapsiagaan nasional, kontra radikalisasi, dan deradikalisasi untuk bersinergi dalam menjalankan program-programnya. 

Bentuk sinergi itu, kata Rycko, bisa diwujudkan dalam bentuk seminar daring melalui siaran langsung media sosial yang dikelola Duta Damai maupun Duta Damai Santri. Kemudian, dalam seminar tersebut, FKPT bisa mengisi siaran langsung media sosial dengan berbagai kajian dalam upaya kontra radikalisasi. 

"Ini merupakan bentuk edukasi kepada publik dan upaya pencegahan dini. Edukasi merupakan kata kunci untuk memberantas sel-sel jaringan terorisme," katanya.

Kepala BNPT optimistis, bila hal tersebut bisa dilakukan, bangsa Indonesia akan semakin aman, damai, lestari. Juga tercipta kasih sayang, cinta tanah air, jauh dari intoleransi, jauh kekerasan maupun ideologi kekerasan yang ingin memaksakan kehendak yang diaggapnya paling benar.

"Karena bahan baku utama radikal terorisme adalah intoleransi, Oleh sebab itu segala bentuk ancaman intoleransi harus diberi counternya. Karena tidak ada keagamaan yang mengajarkan kekerasan, dan orang yang terpapar itu adalah korban. Korban yang tertipu oleh yang salah menafsirkan dalam sudut pandang yang kecil. Dan ini adalah menjadi tanggung jawab kita bersama tak hanya BNPT namun masyarakat secara luas," ujar alumni Akpol tahun 1988 ini . 

Dijelaskannya, radikalisme terorisme ini menyerang keyakinan, bukan keinginan. Sehingga pelakunya memiliki kecenderungan keras kepala dan susah untuk diajak kembali kepemikiran yang moderat.

Ia menegaskan bahwa ini tantangan berupa lack of ideology education perlu diberantas dengan wawasan kebangsaan. Penerus bangsa perlu diberi  ilmu pengetahuan yang masif, dan terstruktur didampingi nilai-nilai Pancasila yang mengedepankan kebudayaan, kebangsaan, kenusantaraan, Bhinneka Tunggal Ika, dan UUD 1945.

Kepala BNPT mengatakan, dari hasil Hasil penelitian Setara Institute dari tahun 2016-2023 telah terjadi peningkatan proses radikalisasi yang masif menyasar tiga pihak yang dianggapnya sangat rentan, yaitu remaja, perempuan, dan anak-anak.

"Ketiga pihak ini sangat rentan karena strategi propaganda paham radikal terorisme berganti, dari awalnya menggunakan hard approach secara langsung, kini menjadi soft approach di berbagai platform media daring," ujar mantan Kapolda Jateng dan Kapolda Sumut ini.

Ketiga pihak ini menurutnya sangat mudah dibujuk dengan menggunakan narasi yang dibalut jubah dan atribut-atribut keagamaan. 

Dalam kesempatan tersebut Kepala BNPT menjelaskan bahwa di tahun 2024 ini pihakmya memiliki tujuh program prioritas yang diharapkan dapat menciptakan sekaligus menguatkan public awareness dan public engagement dalam upaya bersama penanggulangan terorisme.

Program-program prioritas untuk membangun daya tahan masyarakat yaitu Program Pemberdayaan Perempuan, Anak dan Remaja, Program Pembentukan Desa Siap Siaga Desa Damai, Program Pembentukan Sekolah Damai, Program Pembentukan Kampus Kebangsaan, Program Asesment Pegawai dengan Tugas Resiko tinggi,  Program Penanganan Asosiaisi WNI yang terafiliasi Foreight Terrorist Fighter (FTF) dan Program Deradikalisasi Luar Lapas kepada keluarga napi.

Oleh karena itu pihaknya merasa bersyukur ada perpanjangan tangan di setiap daerah di Indonesia melalui FKPT, Duta Damai, dan Duta Damai Santri. 

"Harapannya tentu dapat menjadi ujung tombak dalam menangkal segala bentuk ancaman berbasis ideologi ataupun paham radikal yang dapat membahayakan keberlangsungan persatuan dan kesatuan bangsa," kata Kepala  BNPT.

Deputi I bidang Pencegahan, Perlindungan dan Deradikalisasi BNPT, Mayjen TNI Roedy Widodo menambahkan, silaturahmi ini adalah upaya untuk merawat komunikasi, bertukar informasi dan pengalaman, serta berdiskusi tentang kendala yang terjadi selama bertugas mencegah paham ideologi kekerasan radikal berbasis kekerasan yang mengarah kepada terorisme. 

"Harapannya kegiatan ini dapat menjadi ajang memperkuat bisa sharing dengan pak Kepala BNPT, karena beliau menyampaikan strategis, taktis dan daya dorong luar biasa," ujar Mayjen TNI Roedy Widodo.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement