Kamis 19 Feb 2026 09:29 WIB
Hikmah Ramadhan

Puasa dan Bakteri Baik Usus: Perannya Dalam Mencegah Penyakit Pencernaan

Saat berpuasa, tubuh mengalami penyesuaian metabolisme.

Dr Lilis Suryani
Foto: dokpri
Dr Lilis Suryani

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh: Dr. Dra. Lilis Suryani, M. Kes (Departemen Mikrobiologi Prodi Kedokteran FKIK Universitas Muhammadiyah Yogyakarta)

 

Segala sesuatu yang Allah SWT ciptakan pastilah ada tujuan baik dan manfaatnya, termasuk perintah Allah SWT untuk menjalankan puasa pada bulan Ramadhan. Beberapa penelitian membuktikan bahwa puasa memberikan perubahan yang baik bagi mikroorganisme dalam tubuh manusia. Puasa akan mengubah mikrobioma usus, sebagai intervensi non-farmakologis untuk menurunkan tekanan darah dan berat badan pada pasien sindrom metabolik.

Sistem pencernaan tidak hanya berfungsi mengolah makanan menjadi energi dan menyerap nutrisi, tetapi juga berperan penting dalam menjaga daya tahan tubuh. Di dalam usus terdapat triliunan mikroorganisme yang disebut mikrobiota. Dalam kondisi seimbang, bakteri baik seperti Lactobacillus dan Bifidobacterium membantu menjaga kesehatan dinding usus, menghasilkan zat bermanfaat, serta mendukung sistem imun. Namun, jika keseimbangannya terganggu (disebut disbiosis), risiko gangguan pencernaan dan peradangan dapat meningkat.

Puasa dapat menjadi salah satu cara alami (non-farmakologis) untuk membantu menjaga keseimbangan microbiota usus, meningkatkan keragaman, serta menurunkan mediator inflamasi. Saat berpuasa, tubuh mengalami penyesuaian metabolisme. Dalam 6–12 jam pertama, tubuh menggunakan cadangan gula (glikogen) sebagai sumber energi. Setelah itu, tubuh mulai membakar lemak dan menghasilkan zat yang disebut badan keton sebagai energi alternatif. Proses ini turut memengaruhi hormon insulin, mengurangi peradangan, serta mengaktifkan proses “daur ulang sel” (autofagi) yang membantu menjaga kesehatan sel tubuh.

Dalam kesehatan modern, puasa juga dikenal melalui konsep intermittent fasting, seperti pola 16:8, 5:2, dan puasa selang-seling. Penelitian tentang puasa Ramadan menunjukkan adanya perbaikan pada kadar gula darah, profil lemak, serta penurunan penanda inflamasi pada sebagian orang. Meski demikian, respons setiap individu bisa berbeda, tergantung usia, kondisi kesehatan, dan pola makan saat sahur maupun berbuka.

Puasa merupakan salah satu bentuk aktivitas ibadah pada bulan Ramadhan, yang memiliki banyak manfaat. Salah satu fungsinya adalah bentuk intervensi non-farmakologis yang sederhana dan terjangkau untuk pencegahan penyakit pencernaan dengan memodifikasi mikrobiota/flora normal, mengurangi reaksi inflamasi, dan memperbaiki fungsi sawar usus.

Dengan pengelolaan pola makan, istirahat, dan aktivitas fisik yang tepat, puasa dapat menjadi momentum untuk meningkatkan kualitas kesehatan fisik sekaligus keseimbangan mental. Meski manfaatnya menjanjikan, penelitian lebih lanjut tetap diperlukan untuk memperkuat bukti ilmiah mengenai hubungan puasa dan kesehatan pencernaan.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement

Rekomendasi

Advertisement