Jumat 01 Mar 2024 09:06 WIB

Peternak Ayam Petelur Berharap Campur Tangan Pemerintah Atasi Pasokan Jagung

Saat ini komoditi jagung diperebutkan banyak pihak.

Rep: Pramutia Yoana Syahrani/Yode Arumnda Puspita/ Red: Fernan Rahadi
Rembuk Nasional dengan tema Menyongsong Panen Jagung 1,9 juta ton di Auditorium Fakultas Peternakan UGM Jogja, Kamis (29/2/2024).
Foto: dokpri
Rembuk Nasional dengan tema Menyongsong Panen Jagung 1,9 juta ton di Auditorium Fakultas Peternakan UGM Jogja, Kamis (29/2/2024).

REPUBLIKA.CO.ID, SLEMAN — Peternak ayam petelur yang tergabung dalam Perhimpunan Insan Perunggasan Rakyat Indonesia (Pinsar) Petelur Nasional mengeluhkan pasokan jagung sebagai bahan pokok makanan ayam petelur yang tak stabil. Mereka berharap campur tangan pemerintah melalui Bulog untuk mengatasi pasokan jagung dengan harga yang terjangkau.

"Kami dari asosiasi peternak telur khususnya yang mandiri berharap bisa mendapatkan jagung dengan mudah dan harga terjangkau karena selama ini pasokan jagung yang dirasa belum merata," ujar anggota Pinsar Petelur Nasional, Jeni Suliastini di sela Rembuk Nasional dengan tema 'Menyongsong Panen Jagung 1,9 juta ton' di Auditorium Fakultas Peternakan UGM Jogja, Kamis (29/2/2024).

Acara tersebut digelar oleh Pinsar Petelur Nasional (PPN) bersama Pinsar Indonesia (PI), Paguyuban Peternak Rakyat Nasional (PPRN) dan 5 Koperasi Peternak Layer. Diskusi menghadirkan Dekan Fakultas Peternakan UGM Prof Ali Agus, Ketua Bapanas Arief Prasetya Adi, dan Ketua Rumah Bersama (asosiasi seluruh peternak se-Indonesia), Yudianto Yosgiantoro.

Jeni menjelaskan peternak telur mandiri memang harus tergabung dengan asosiasi. Sebab jika tidak berasosiasi akan sulit komunikasi dengan pemerintah untuk memenuhi kebutuhan. Misalnya saja saat harga jagung meroket dan ketersediaan tak merata seperti saat ini. "Tujuan asosiasi agar bisa membangun komunikasi dengan stakeholder untuk mencari solusi masalah bersama," katanya menambahkan.

 

Terkait masalah jasalah jagung, dia menyebut saat ini komoditi tersebut diperebutkan banyak pihak. Mulai dari pengusaha pangan peternak sapi hingga perusahaan etanol yang mulai mengambil jagung. "Kami (peternak) selalu kalah mendapatkan jagung. Belum ditambah ada Elnino yang membuat panen jagung mundur hingga kami kesulitan memperoleh jagung," jelasnya.

Dia mengungkapkan, setelah ada komunikasi dengan pemerintah, kemudian datang jagung impor yang lumayan membantu. Namun masalah lain timbul lantaran harga malah melonjak. "Oleh karenanya kami ingin difasilitasi dengan Bulog. Sebab tidak mungkin kami bersaing dengan perusahaan besar. Kami berharap Bulog bisa mendistribusikan jagung dengan merata," ujarnya.

Dekan Fakultas Peternakan UGM Prof Ali Agus menambahkan semua pihak memahami dan menyadari jika persoalan pangan dan telur telah menjadi perhatian. "Ada persoalan jagung sebagai bahan utama. Dampak Elnino menjadikan musim panen jagung mundur. Padahal ayam tiap hari butuh makan," jelasnya.

Pihaknya pun mendorong agar jagung selalu tersedia dengan kualitas yang memadai. "Harus ada akselerasi program pemerintah. Kementan sudah bekerja keras melakukan percepatan untuk memenuhi kebutuhan jagung," ujarnya.

Ketua Bapanas Arief Prasetya Adi menjelaskan pihaknya mendorong Bulog untuk mencadangan pasokan jagung. "Saat ini stok jagung di Bulog masih cukup dan dalam proses untuk disalurkan kepada peternak mandiri," ujarnya.

 

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement