REPUBLIKA.CO.ID, YOGYAKARTA -- Proyek penelitian Collaborative Community Care Breast Cancer Indonesia (Communicated) menyelenggarakan kegiatan Diseminasi Hasil Riset di Auditorium FK-KMK Universitas Gadjah Mada, Kamis (12/2/2026). Kegiatan ini bertujuan untuk menyebarluaskan temuan penelitian Communicated serta mendorong pemanfaatannya dalam perumusan kebijakan, perencanaan program, dan praktik layanan kanker berbasis komunitas.
Sebagian besar pasien kanker payudara metastatik di Indonesia masih menjalani perawatan di rumah hingga mengalami gejala fisik yang berat dan memerlukan perawatan lanjutan di fasilitas kesehatan. Kondisi ini tidak hanya menimbulkan tantangan fisik dan psikologis bagi pasien, tetapi juga kesulitan dalam berinteraksi dengan sistem kesehatan. Dalam konteks budaya komunalisme di masyarakat Indonesia, dukungan komunitas melalui kader kesehatan lokal memiliki peran penting.
Namun, hingga saat ini peran kader masih banyak berfokus pada kesehatan ibu dan anak serta skrining kanker, dan belum secara optimal dipersiapkan untuk mendampingi pasien kanker payudara metastasis dan pengasuh keluarga. Proyek Communicated bertujuan untuk meningkatkan dukungan sosial bagi pasien kanker payudara dengan metastatis dan keluarganya melalui edukasi kader.
Communicated merupakan proyek penelitian dan pengabdian masyarakat yang dimulai pada tahun 2024 melalui pendanaan dari Pfizer, Inc. (Amerika Serikat) dalam hibah Quality Improvement untuk negara-negara di kawasan Asia Tenggara. Proyek Penelitian yang berlokasi diu Daerah Istimewa Yogyakarta dan Bali ini diketuai oleh Martina Sinta Kristanti, dosen Departemen Keperawatan FK-KMK UGM. Communicated dikembangkan dengan pendekatan co-design bersama berbagai pemangku kepentingan, organisasi masyarakat, pasien, serta relawan kanker. Yang artinya bahwa di setiap tahapan, merujuk pada data lapangan kontekstual di Indonesia. Selain itu, proyek ini mendapatkan pendampingan dari Queensland University of Technology, Brisbane, untuk menjaga kualitas proses penelitian.
Proyek ini mengembangkan model edukasi Kader Tangguh dan Tanggap Kanker (Tatak) melalui berbagai media edukasi, seperti buku, flipchart, dan aplikasi berbasis web-apps (http://communicated.id). Sebanyak 112 kader telah dilatih dan melakukan kunjungan rumah sebagai 430an sesi terhadap sekitar 370 pasien kanker payudara dan keluarganya di komunitas.
Temuan penelitian ini menunjukkan bahwa pendampingan kader Tatak melalui kunjungan rumah selama kurang lebih dua sampai tiga minggu mampu menjaga kualitas hidup pasien kanker payudara metastasis tetap stabil. Hal yang sama juga terlihat pada pengasuh keluarga, di mana tingkat resiliensi mereka tetap terjaga. Sebaliknya, pada kelompok kontrol, yaitu pasien yang tidak mendapatkan kunjungan kader TATAK dan hanya menerima booklet sebagai media informasi, terjadi penurunan kualitas hidup yang signifikan. Penurunan yang signifikan juga terjadi pada tingkat ketangguhan pengasuh keluarga.
Proyek Communicated) memberikan manfaat nyata bagi masyarakat melalui penguatan dukungan berbasis komunitas bagi pasien kanker payudara dan pengasuh keluarga. Melalui pendampingan Kader Tatak, pasien memperoleh dukungan emosional, sosial, dan edukasi kesehatan yang membantu menjaga kualitas hidup, sementara keluarga menjadi lebih tangguh dalam menjalani proses perawatan. Selain itu, program ini turut meningkatkan kapasitas kader kesehatan lokal serta memperkuat kolaborasi antara komunitas dan layanan kesehatan, sehingga intervensi yang dihasilkan lebih berkelanjutan dan relevan dengan kebutuhan masyarakat.
“Diseminasi ini menjadi momentum penting untuk menjembatani hasil riset dengan kebijakan dan praktik pelayanan kesehatan, agar intervensi berbasis komunitas dapat berkelanjutan dan berdampak nyata bagi pasien kanker,” ujar Martina Sinta Kristanti, dosen Departemen Keperawatan FK-KMK UGM selaku Principal Investigator Communicated
Kegiatan ini melibatkan berbagai komponen masyarakat yang terdiri dari perwakilan pemerintah daerah dan dinas kesehatan, organisasi masyarakat, akademisi, tenaga kesehatan, kader kesehatan, mahasiswa, serta pasien kanker payudara. Sesi diskusi menghadirkan para pembahas dari unsur promosi kesehatan, layanan rumah sakit, akademisi kesehatan masyarakat, dan sektor swasta untuk membahas implikasi kebijakan, operasional, serta kolaborasi lintas sektor.
Selain itu, dalam rangkaian diseminasi turut dilaksanakan launching Kompak Tatak (Koordinasi dan Pendampingan Kader Tatak), yaitu kegiatan temu bulanan untuk penguatan kapasitas Kader Tatak, melalui pembaruan informasi dan pengetahuan kader. Kegiatan yang didukung sepenuhnya oleh FK-KMK UGM ini menjadi agenda sepanjang tahun 2026, dalam rangka mendukung keberlanjutan implementasi program.
Melalui diseminasi hasil penelitian ini, Communicated diharapkan dapat memperkuat pemanfaatan bukti ilmiah dalam pengembangan kebijakan dan program kanker payudara, serta membuka peluang kerja sama lintas sektor untuk mendukung kualitas hidup pasien kanker di komunitas secara berkelanjutan.