Sabtu 28 Feb 2026 17:43 WIB

Pemda DIY Siapkan Skema Debarkasi Haji di YIA untuk Kenyamanan Jamaah

Proses kepulangan selama ini kerap memerlukan perpindahan antar bus.

Rep: Wulan Intandari/ Red: Fernan Rahadi
Bandara Internasional Yogyakarta (YIA) yang akan menjadi pusat keberangkatan (embarkasi) dan kepulangan (debarkasi) bagi jamaah haji mulai tahun 2026.
Foto: Wulan Intandari
Bandara Internasional Yogyakarta (YIA) yang akan menjadi pusat keberangkatan (embarkasi) dan kepulangan (debarkasi) bagi jamaah haji mulai tahun 2026.

REPUBLIKA.CO.ID, YOGYAKARTA -- Pemerintah Daerah DIY tengah mematangkan skema debarkasi jamaah haji di Yogyakarta International Airport (YIA). Langkah ini bertujuan untuk memangkas mobilitas berulang saat kepulangan jamaah, sehingga lebih efisien dan ramah bagi jamaah terutama lansia.

Sekretaris Daerah (Sekda) DIY, Ni Made Dwipanti Indrayanti, menjelaskan, proses kepulangan selama ini kerap memerlukan perpindahan antar bus, yang dinilai merepotkan dan menguras tenaga.

"(Kami tengah menyiapkan -Red) bagaimana jamaah bisa dilayani sebaik mungkin saat debarkasi, sehingga tidak perlu berpindah-pindah bus ketika pulang ke daerah masing-masing," ujarnya, Jumat (27/2/2026).

Salah satu evaluasi mendasar adalah proses kepulangan jamaah haji yang selama ini terpusat di Asrama Haji Donohudan, Boyolali, kerap memakan waktu dan tenaga karena adanya proses transit yang berulang.

Ni Made mencontohkan mekanisme debarkasi yang diterapkan di Solo, di mana jamaah yang tiba di Bandara Adi Sumarmo harus berpindah bus menuju Asrama Haji Donohudan sebelum melanjutkan perjalanan ke daerah masing-masing. Skema ini, menurutnya, kurang efektif terutama bagi jamaah lanjut usia yang membutuhkan pelayanan praktis dan minim mobilisasi.

"Biasanya jamaah dari Adi Sumarmo diantar bus maskapai ke Donohudan, lalu berpindah lagi ke bus penjemputan daerah. Itu yang ingin kami evaluasi," ungkapnya.

"Kami berharap pesawat mendarat, jamaah turun, pemeriksaan imigrasi selesai, lalu langsung naik bus menuju daerah masing-masing tanpa harus ganti kendaraan," ujar dia.

Namun, skema layanan yang ingin dihadirkan ini juga dihadapkan pada tantangan regulasi tata operasi bandara. Meskipun skema ini diharapkan meningkatkan kenyamanan, Ni Made mengakui ada kendala regulasi terkait keamanan bandara. Menghadirkan bus angkutan daerah langsung ke area kedatangan tersebut berbenturan dengan aturan zona terbatas atau restricted area yang dijaga yang ketat.
 
Meski begitu, Pemda DIY menargetkan proses baik embarkasi maupun debarkasi bisa lebih praktis dan mampu memberikan pelayanan optimal bagi jamaah tanpa harus berpindah-pindah kendaraan.
 
"Kalau kemarin dilihat secara gambar mungkin orang mikir, 'Oh berarti sudah siap'. Sebenarnya tidak juga seperti itu. Karena ini kita bicaranya masuk di area restricted ya, area penerbangan yang diatur ketat. Jadi bus angkutan itu tidak bisa keluar masuk tanpa ada syarat-syarat yang diberlakukan. Ini yang sedang kami koordinasikan," kata Ni Made

Sebelumnya diberitakan, YIA akan difungsikan sebagai embarkasi haji berbasis hotel pada musim haji 2026 untuk melayani 26 kelompok terbang (kloter) dari DIY dan wilayah Karesidenan Kedu, Jawa Tengah. Dua hotel di sekitar bandara, Novotel YIA dan Ibis YIA, disiapkan untuk mempermudah mobilisasi jamaah sejak keberangkatan hingga kepulangan. DIY menjadi daerah pertama yang melaksanakan pelayanan embarkasi berbasis hotel. Sampai sejauh ini, Kemenhaj RI selalu berkoordinasi dengan Pemda DIY untuk memastikan jamaah haji mendapatkan layanan terbaik.

 

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
Advertisement

Rekomendasi

Advertisement