Rabu 04 Mar 2026 07:23 WIB
Hikmah Ramadhan

Tauhid, Puasa Ramadhan, dan Kesehatan Gigi

Kesehatan gigi memiliki dimensi sosial yang kental dalam interaksi ibadah kita.

Bayu Ananda Paryontri
Foto: dokpri
Bayu Ananda Paryontri

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh: drg. Bayu Ananda Paryontri, Sp.Ort (Dosen Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Muhammadiyah Yogyakarta)

Kesempatan yang penuh berkah ini, marilah kita merenungkan kembali hakikat ibadah puasa yang tengah kita jalani, bukan sekadar sebagai penggugur kewajiban tahunan, melainkan sebagai proses akidah, kedisiplinan ibadah, dan tanggung jawab terhadap amanah fisik yang telah Allah berikan kepada Muslimin.

Pilar pertama dalam menjalani bulan Ramadhan adalah penguatan tauhid kepada Allah. Tauhid bukan hanya merupakan konsep teologis yang statis, melainkan sebuah energi yang menggerakkan setiap aspek kehidupan seorang Mukmin.

Puasa Ramadhan adalah bentuk pengabdian yang paling murni karena ia bersifat rahasia, di mana hanya hamba tersebut dan Allah yang mengetahui kebenaran ibadahnya. Kesadaran akan pengawasan Allah yang mutlak, menjadi fondasi utama yang mendidik mukminin menjalankan amanah tersebut.

Sejalan dengan penguatan tauhid tersebut, puasa Ramadhan hadir sebagai instrumen penyucian diri secara menyeluruh. Islam adalah agama yang syamil dan kamil, yang tidak mengabaikan aspek jasmani dalam setiap syariatnya.

Saat proses menahan lapar dan dahaga, tubuh manusia mengalami fase regenerasi dan detoksifikasi yang luar biasa. Di sinilah letak relevansi kesehatan gigi dan mulut sebagai bagian dari integritas kesehatan fisik yang tak terpisahkan.

Kesehatan gigi bukan sekadar urusan estetika atau fungsi pengunyahan semata, melainkan cermin dari kedisiplinan seorang mukmin dalam menjalankan sunnah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam.

Menjaga kesehatan gigi di bulan suci Ramadhan merupakan wujud nyata dari penghormatan terhadap amanah tubuh yang diberikan Allah. Khusyuknya ibadah dapat terganggu akibat kelalaian dalam menjaga kebersihan rongga mulut secara konsisten.

Gangguan fisik seperti sakit gigi yang akut atau radang gusi tidak hanya menghambat kemampuan kita untuk membaca Alquran dengan tartil, tetapi juga dapat mengurangi konsentrasi secara drastis saat mendirikan shalat malam atau beriktikaf. Oleh karena itu, menjaga kebersihan gigi dengan rutin menyikat gigi secara benar merupakan bentuk ikhtiar yang mendukung kesempurnaan ibadah puasa Ramadhan.

Lebih jauh lagi, kesehatan gigi memiliki dimensi sosial yang kental dalam interaksi ibadah kita. Ramadhan adalah bulan berjamaah, di mana kita berinteraksi erat dengan sesama mukmin di masjid melalui shalat tarawih, tadarus bersama, hingga majelis-majelis ilmu. Menjaga kebersihan gigi, seorang mukmin sebenarnya tengah menjalankan adab bermuamalah agar tidak mengganggu kenyamanan mukmin lain dengan aroma yang tidak sedap atau penampilan yang tidak rapi.

Inilah keindahan Islam, di mana perhatian terhadap hal yang tampak kecil seperti kesehatan gigi merupakan bagian dari akhlak yang mulia. Ketulusan tauhid seorang mukmin diuji melalui sejauh mana mampu menjaga setiap titipan Allah agar tetap berfungsi optimal dalam mendukung ketaatan kita kepada-Nya tanpa memberikan gangguan bagi hamba-hamba-Nya yang lain.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement

Rekomendasi

Advertisement