REPUBLIKA.CO.ID, SLEMAN -- Masjid tidak selalu identik dengan ruang ibadah semata. Di Deresan, Sleman, Yogyakarta, Masjid Nurul Ashri menunjukkan bagaimana masjid dapat menjadi pusat gerakan sosial yang berdampak bagi masyarakat luas.
Melalui berbagai program kemanusiaan dan pemberdayaan, masjid ini menghadirkan nilai-nilai keislaman dalam aksi nyata yang menyentuh banyak lapisan masyarakat.
Ustaz Bangkit Dwi Purwanto dari Yayasan Nurul Ashri menjelaskan bahwa gerakan sosial yang mereka bangun berangkat dari kebutuhan sederhana di sekitar lingkungan masjid. Berada di kawasan yang banyak dihuni mahasiswa perantauan, pihak masjid melihat banyak barang bekas layak pakai yang ditinggalkan setelah para mahasiswa lulus kuliah. Dari situ, muncul ide untuk menggalang donasi barang.
"Banyak mahasiswa yang bingung ketika lulus kuliah, barang di kosnya mau diapakan. Ada kasur, lemari, pakaian. Kalau dibawa pulang ribet, kalau dijual satu-satu tidak semua sempat," kata Bangkit dalam kajian 'Tumbuh Lebih Baik, Cari Panggilanmu: How to Survive in This Era' yang digelar Semesta Network di Yogyakarta, Jumat (10/3/2026).
Melalui program donasi barang, takmir masjid menjemput barang-barang tersebut untuk kemudian dijual kembali dengan harga terjangkau. Hasil penjualannya digunakan untuk mendukung operasional program sosial masjid.
Awalnya, barang-barang tersebut ditampung di gerai kecil di sekitar masjid. Namun seiring meningkatnya donasi, mereka akhirnya menyewa gudang dan kemudian memiliki tempat penyimpanan yang lebih luas.
Selain donasi barang, Nurul Ashri juga memiliki berbagai divisi program yang bergerak di bidang sosial dan pendidikan. Program Baitul Mal misalnya, aktif menyalurkan bantuan kemanusiaan, mulai dari kegiatan makan gratis, bazar murah, hingga bantuan bencana di berbagai daerah.
Sementara itu, divisi pendidikan mengembangkan beragam kelas keilmuan yang terbuka untuk masyarakat. Salah satu program yang paling diminati adalah sekolah pranikah. Program ini tidak hanya membahas aspek agama, tetapi juga menghadirkan pakar dari berbagai bidang seperti ekonomi keluarga, psikologi, hingga kesehatan reproduksi.
“Kalau membahas kesehatan reproduksi dalam pernikahan, ya kami undang dokter. Kalau membahas ekonomi keluarga, kami undang pakar ekonomi. Jadi belajar di masjid tidak harus selalu dengan ustaz,” ujar Bangkit.
Gerakan sosial Nurul Ashri juga menyentuh sektor ekonomi masyarakat, khususnya petani. Ketika harga hasil panen anjlok, pihak masjid menginisiasi program pembelian langsung dari petani untuk kemudian didistribusikan kepada jamaah. Salah satu contohnya saat harga singkong di Gunungkidul jatuh hingga sekitar Rp 500 per kilogram.
Melalui sistem pembelian kolektif, Nurul Ashri berhasil menghimpun pembelian hingga puluhan ton singkong dari petani. Sebagian dibagikan kepada masyarakat dan pesantren, bahkan hingga dikirim ke luar daerah.
Program serupa juga dilakukan untuk berbagai komoditas lain seperti sayur dan buah. Upaya ini bahkan mendapat apresiasi dari Bank Indonesia karena dinilai turut membantu menstabilkan harga pasar.
Di sisi lain, gerakan sosial masjid ini juga melintasi batas geografis bahkan lintas agama. Relawan Nurul Ashri pernah mengirim bantuan hingga ke wilayah terdampak bencana di Flores Timur, Nusa Tenggara Timur. Menariknya, wilayah tersebut mayoritas dihuni masyarakat non-Muslim.
“Di sana mayoritas Katolik dan hampir tidak ada masjid. Tapi bagi kami ketika sudah bicara kemanusiaan, tidak ada lagi sekat. Kita bantu siapa pun yang membutuhkan,” kata Bangkit.
Selain itu, program kemanusiaan mereka juga menjangkau daerah-daerah terpencil di Indonesia, bahkan hingga luar negeri seperti Uganda dalam program penyaluran hewan kurban.
Dalam enam hingga tujuh tahun terakhir, gerakan sosial yang berawal dari lingkungan masjid ini terus berkembang. Hingga 2025, tercatat sekitar 600 ribu orang pernah terlibat sebagai donatur dalam berbagai program yang dijalankan, sementara lebih dari 13 ribu orang telah menerima manfaat langsung.
Bagi Bangkit, seluruh program tersebut berangkat dari satu gagasan sederhana, yaitu menjadikan masjid sebagai ruang bersama bagi semua orang.
"Tagline kami adalah ‘Masjid untuk Semua’. Artinya masjid tidak berpihak pada golongan tertentu, dan selama ada umat yang membutuhkan bantuan, sejauh kami mampu, kami akan mencoba hadir," ujarnya.
Dari pengelolaan barang bekas hingga pemberdayaan petani, dari pendidikan keluarga hingga bantuan kemanusiaan lintas wilayah, Nurul Ashri menunjukkan bahwa masjid dapat menjadi pusat gerakan sosial yang hidup—tempat nilai ibadah bertemu dengan aksi nyata untuk kemanusiaan.