Rabu 08 Jul 2026 10:29 WIB

Mendahulukan yang Semestinya

Mendahulukan pihak yang lebih rentan di jalan semestinya menjadi refleks.

Prof Ema Utami dari Amikom Yogyakarta
Foto: Amikom
Prof Ema Utami dari Amikom Yogyakarta

Oleh: Prof Ema Utami (Direktur Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Universitas Amikom Yogyakarta)

REPUBLIKA.CO.ID, Selama perjalanan di Belanda dan Belgia, ada satu pemandangan yang berulang kali menarik perhatian kami. Hampir setiap kali hendak menyeberang di zebra cross, kendaraan yang masih cukup jauh sudah mulai melambat. Bahkan sebelum kami benar-benar melangkah, pengendaranya telah berhenti dan mempersilakan kami menyeberang.

Tidak ada klakson, tidak ada gestur tergesa-gesa, apalagi upaya menyelinap mendahului di detik-detik terakhir. Setelah kami selesai menyeberang, barulah mereka kembali melanjutkan perjalanan. Pemandangan itu terasa begitu biasa bagi masyarakat di sana, tetapi bagi kami justru menjadi pelajaran yang sangat berharga.

Apa yang kami saksikan tentu bukan sekadar kebaikan hati spontan dari para pengendara. Di baliknya terdapat sebuah sistem yang dibangun dan dijalankan secara konsisten.

Di Belanda, hierarki prioritas pengguna jalan diatur dengan jelas. Trem berada pada posisi tertinggi karena bergerak di atas rel dan tidak memiliki keleluasaan untuk bermanuver. Setelah itu pejalan kaki, kemudian pesepeda, dan baru kendaraan bermotor.

Aturan tersebut tidak berhenti sebagai tulisan di dalam peraturan, tetapi ditegakkan melalui pengawasan dan sanksi yang nyata. Infrastruktur pun dirancang untuk mendukungnya, mulai dari jalur sepeda yang terpisah, zebra cross yang mudah dikenali, hingga marka dan rambu prioritas yang konsisten di setiap persimpangan.

Namun yang jauh lebih menarik daripada aturannya adalah bagaimana aturan itu telah menjelma menjadi budaya. Mendahulukan pihak yang lebih rentan di jalan tampak sudah menjadi refleks, bukan sekadar kewajiban hukum.

Pengendara melambat ketika melihat pejalan kaki bukan semata-mata karena takut dikenai sanksi, tetapi karena memahami bahwa itulah yang semestinya dilakukan. Pesepeda memberikan jalan kepada trem bukan karena dipaksa, melainkan karena menyadari bahwa trem tidak memiliki pilihan selain mengikuti relnya. Ada kesadaran kolektif bahwa jalan adalah ruang bersama yang hanya akan nyaman apabila setiap orang bersedia memberikan ruang kepada mereka yang lebih membutuhkan.

Sekembalinya ke Indonesia, kontras itu kembali terasa. Pejalan kaki yang hendak menyeberang di zebra cross masih sering harus menunggu karena kendaraan enggan mengalah.

Bahkan pagi ini Najwa Rashika mengalaminya sendiri ketika menyeberang di zebra cross dekat Stasiun Tugu Yogyakarta. Bukannya dipersilakan melintas, ia justru diklakson oleh pengendara sepeda motor. Pesepeda masih harus berbagi ruang dengan kendaraan bermotor karena jalur khusus yang terbatas. Bus kota pun sering kehilangan prioritas di persimpangan.

Persoalannya tentu bukan semata-mata karena kurangnya aturan, melainkan karena setiap orang merasa bahwa kepentingannya sendirilah yang paling mendesak. Ketika semua ingin didahulukan, akhirnya tidak ada lagi yang benar-benar mau mendahulukan.

Pelajaran tentang prioritas di jalan raya ini mengingatkan saya pada perjalanan akademik para mahasiswa S2 dan S3. Sebagaimana pengendara yang bijak memahami kapan harus mendahulukan pejalan kaki, peneliti yang matang juga memahami apa yang harus diprioritaskan terlebih dahulu.

Menyelesaikan tinjauan pustaka sebelum memperluas variabel penelitian. Memperdalam satu metode hingga benar-benar dikuasai sebelum tergoda mencoba pendekatan lain. Menuntaskan tesis atau disertasi tepat waktu sebelum terus menambah ruang lingkup penelitian tanpa batas. Kemampuan menetapkan prioritas sering kali jauh lebih menentukan daripada kemampuan intelektual semata.

Di sinilah ego kerap hadir dalam bentuk yang halus. Ego yang membuat seseorang sulit menerima masukan promotor karena merasa gagasannya sudah paling tepat. Ego yang enggan mengakui keterbatasan data sehingga kesimpulan dipaksakan melampaui bukti yang tersedia. Ego yang tidak rela mengubah pendekatan penelitian meskipun kenyataan menunjukkan bahwa jalur lain lebih memungkinkan untuk mencapai tujuan.

Sebagaimana pengendara yang enggan berhenti di zebra cross karena merasa waktunya terlalu berharga, peneliti yang tidak mampu mengendalikan egonya justru berisiko menghambat kemajuan penelitiannya sendiri. Mendahulukan yang semestinya didahulukan, baik di jalan raya maupun dalam penelitian, menuntut kerendahan hati untuk mengakui bahwa kita bukan satu-satunya pihak yang memiliki kepentingan.

Peradaban ternyata tidak hanya dibangun oleh teknologi yang canggih atau infrastruktur yang megah. Peradaban memerlukan kebiasaan-kebiasaan kecil yang dilakukan secara konsisten.

Berhenti beberapa detik untuk memberikan kesempatan kepada pejalan kaki menyeberang mungkin tampak sederhana. Namun dari kebiasaan kecil itulah tumbuh penghormatan terhadap hak orang lain, kedisiplinan, rasa saling percaya, dan budaya yang menempatkan kepentingan bersama di atas kepentingan pribadi.

Kami kini telah kembali ke Yogyakarta. Namun pelajaran tentang prioritas yang kami temukan di jalan-jalan Belanda dan Belgia rasanya akan terus menemani perjalanan kami, baik sebagai pengguna jalan maupun sebagai pendidik. Sebab pada akhirnya, kemajuan sebuah masyarakat tidak hanya diukur dari seberapa cepat orang dapat sampai ke tujuan, tetapi juga dari seberapa besar kesediaan mereka untuk berhenti sejenak demi memberikan hak kepada orang lain.

Allah SWT berfirman: "Dan tolong-menolonglah kamu dalam kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam dosa dan permusuhan." (QS. Al-Ma'idah: 2). Mendahulukan orang lain ketika memang menjadi haknya tidak pernah membuat kita terlambat mencapai tujuan. Sebaliknya, dari kebiasaan sederhana itulah tumbuh peradaban yang saling menghormati, baik di jalan raya, di ruang akademik, maupun dalam kehidupan sehari-hari.

Wallāhu a'lam.

Berita Lainnya

Rekomendasi