REPUBLIKA.CO.ID, YOGYAKARTA -- Kehilangan tulang punggung keluarga tak hanya meninggalkan duka, tetapi juga dapat mengubah kondisi ekonomi keluarga. Untuk membantu penerima manfaat menghadapi kondisi tersebut, BPJS Ketenagakerjaan meluncurkan Program Pemberdayaan Ekonomi dan Kemandirian Penerima Manfaat (PEKA).
Program PEKA yang diluncurkan secara serentak secara nasional pada Selasa (18/8/2026) ini, dirancang agar santunan yang diterima ahli waris tidak hanya digunakan untuk kebutuhan jangka pendek, tetapi dapat menjadi modal untuk membangun usaha dan sumber penghasilan baru.
Direktur Keuangan dan Manajemen Risiko BPJS Ketenagakerjaan Bambang Joko Sutarto mengatakan, secara aturan kewajiban BPJS Ketenagakerjaan sebenarnya telah selesai ketika manfaat diberikan kepada peserta atau ahli waris. Namun, pihaknya ingin manfaat tersebut dapat menjadi bantalan ekonomi dalam jangka panjang.
Pendampingan, pelatihan keterampilan, literasi keuangan hingga pemasaran digital diberikan agar para ahli waris ini dapat mengembangkan usaha yang telah dimiliki maupun merintis usaha baru.
"Sebagaimana secara undang-undang kewajiban kami sebenarnya selesai pada saat santunan itu kami berikan. Tetapi kami berpikir uang yang kami berikan itu tidak habis untuk konsumtif, melainkan bisa menjadi bantalan ekonomi jangka panjang, membuat UMKM yang baru," kata Bambang saat memberikan sambutannya dalam acara Program Pemberdayaan Ekonomi dan Kemandirian Penerima Manfaat (PEKA) di Yogyakarta, Selasa (18/8/2026).
Bambang menyampaikan, tujuan program PEKA ini juga untuk memperkuat perlindungan pekerja dalam jangka panjang, sehingga tidak berhenti ketika santunan dibayarkan, tetapi dilanjutkan dengan upaya agar keluarga penerima manfaat dapat kembali berdaya. Nantinya, pendampingan akan dilakukan secara bertahap dengan melibatkan berbagai pihak, mulai dari pemerintah daerah, Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Bank Indonesia, Kementerian Koperasi hingga Dinas Tenaga Kerja.
Dia menyebut, pelaksanaan PEKA saat ini telah menjangkau sekitar 1.900 penerima manfaat secara nasional. "PEKA ini baru mulai di awal Juli. Sekarang sudah hampir 1.900-an (penerima manfaat)," ujarnya.
"Begitu saudara berganti ke tulang punggung fungsi ekonominya, jangan sampai panjang tetap bisa sustain dan tumbuh. Harapannya uang yang tadi kita berikan itu sekian persen bisa untuk membentuk UMKM atau sumber penghasilan baru," katanya.
Bambang menambahkan, manfaat BPJS Ketenagakerjaan juga tidak hanya diberikan dalam bentuk santunan. Anak peserta yang memenuhi ketentuan juga mendapatkan manfaat beasiswa sebagai bentuk perlindungan jangka panjang bagi keluarga.
Menurutnya, pendidikan anak menjadi bagian penting dari upaya menjaga masa depan keluarga pekerja yang kehilangan tulang punggung. Dengan pendidikan yang lebih tinggi, anak-anak penerima manfaat diharapkan memiliki kesempatan lebih besar untuk membangun kehidupan yang lebih baik.
"Yang kedua, kami tidak hanya memberikan bantuan kepada ahli waris jangka pendek, tetapi kami juga memberikan beasiswa jangka panjang. Mulai dari SD, SMP, SMA sampai perguruan tinggi," ujarnya.
Kepala Kantor Wilayah BPJS Ketenagakerjaan Jawa Tengah dan DIY Cahyaning Indriasari mengatakan dalam peluncuran PEKA di Yogyakarta kali ini, sebanyak 30 peserta yang hadir merupakan penerima beasiswa BPJS Ketenagakerjaan. Mereka adalah anak ahli waris peserta yang sebelumnya menjadi tulang punggung keluarga.
"Kami ingin menyampaikan kepada adik-adik ini bahwa mereka adalah penerima beasiswa dari BPJS Ketenagakerjaan. Nanti kalau mereka punya usaha, mereka juga tahu bahwa mereka harus terlindungi seperti orang tua mereka," ujarnya.
Terkait pemberdayaan ekonomi, pelatihan yang diberikan dalam program PEKA saat ini lebih banyak bersifat praktis. Salah satu persoalan yang ditemukan adalah penerima manfaat sebenarnya telah memiliki usaha, tetapi belum mengetahui cara mengembangkan dan memasarkannya secara digital.
"Untuk pelatihan-pelatihan yang kami berikan saat ini baru pelatihan-pelatihan yang praktis," ucapnya.
BPJS Ketenagakerjaan juga menggandeng sejumlah platform digital untuk memberikan pelatihan pemasaran. Sebelumnya, program serupa di Yogyakarta diikuti 25 penerima manfaat dengan menggandeng TikTok Shop dan Shopee Food. Dari peserta tersebut, sembilan orang telah mampu memasarkan produknya melalui marketplace.
"Harapan kami usaha yang sudah dimiliki oleh mereka ini sudah bisa memasarkan secara digital. Jadi mereka sudah bisa usaha dari rumah karena sewa ruko dan sebagainya kan mahal," katanya.
Sementara itu, Gusti Kanjeng Bendoro Raden Ayu Adipati (GKBRAA) Paku Alam X mengapresiasi peluncuran PEKA. Menurutnya, program tersebut menunjukkan bahwa manfaat BPJS Ketenagakerjaan tidak berhenti pada pemberian uang santunan.
"Saya senang sekali dengan adanya program PEKA ini dari BPJS Ketenagakerjaan karena manfaatnya itu tidak hanya untuk dirinya sendiri, tetapi juga untuk keluarga dan anak-anak yang memang membutuhkan beasiswa," kata GKBRAA Paku Alam X.
Menurutnya, pendampingan penting diberikan karena keluarga yang kehilangan anggota keluarga sekaligus tulang punggung ekonomi belum tentu mengetahui cara mengelola santunan yang diterima. Dengan pendampingan, dana tersebut diharapkan dapat berkembang menjadi modal usaha dan membentuk UMKM yang lebih kuat.
"BPJS Ketenagakerjaan tidak begitu saja memberikan uang, tapi juga didampingi untuk apa uang itu. Kalau memang didampingi akan menjadi lebih baik lagi, uang jaminan itu akan berkembang, malah akan menjadikan mereka UMKM-UMKM yang berkualitas," ujarnya.
Salah satu penerima manfaat, Naila, asal Kota Magelang, merasakan langsung manfaat beasiswa BPJS Ketenagakerjaan sejak duduk di bangku SMA. Beasiswa tersebut kemudian berlanjut hingga dirinya kini menempuh pendidikan di STMIK Bina Patria Magelang.
"Kalau saya sebagai penerima santunan dari BPJS Ketenagakerjaan, saya dapat dari SMA. Waktu saya masih sekolah SMA, beasiswa. Sampai saat ini saya sudah lanjut di perguruan tinggi," kata Naila.
Beasiswa tersebut, lanjut Naila, sangat membantu biaya pendidikannya. Saat duduk di perguruan tinggi, manfaat yang diterimanya dapat digunakan untuk membayar Uang Kuliah Tunggal (UKT) serta berbagai kebutuhan penunjang pembelajaran.
Naila menyebut pada Januari lalu dirinya menerima beasiswa sekitar Rp12 juta. Dana tersebut sangat membantu dirinya dan sang ibu dalam memenuhi kebutuhan pendidikan.
"Nominalnya sebesar Rp 12 juta. Sangat bermanfaat, membantu saya untuk membantu ibu saya terutama untuk membayar UKT," katanya.
Penerima manfaat lainnya, Sofya, mahasiswa Universitas Negeri Yogyakarta (UNY), juga tengah merasakan manfaat program tersebut. Dia baru mengajukan beasiswa BPJS Ketenagakerjaan untuk membantu kebutuhan kuliah, termasuk membayar UKT.
"Sejak kuliah ini kemarin baru mengajukan," kata Sofya.