Kamis 03 Sep 2026 10:37 WIB

Kemendiktisaintek Dorong Tempe Tembus Pasar Global

Riset ini mempertimbangkan pengaruh suhu dan kelembapan terhadap fermentasi tempe.

Tempe (ilustrasi)
Foto: Wikipedia
Tempe (ilustrasi)

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Tempe yang selama ini dikenal sebagai pangan rakyat memiliki potensi dikembangkan menjadi produk bernilai ekonomi tinggi dan menembus pasar global. Pengembangannya membutuhkan dukungan riset, inovasi, industri, serta pemanfaatan biodiversitas Indonesia.

"Tempe yang selama ini dikenal sebagai makanan rakyat dapat dikembangkan menjadi produk bernilai ekonomi tinggi melalui riset, inovasi pengemasan, serta pengembangan industri. Kita tinggal mencari off-taker industri yang mampu memproduksi tempe kelas ekspor," kata Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Fauzan dalam diskusi publik 'Ragi Nusantara: Dari Sepotong Tempe untuk Ketahanan Pangan' di Antara Heritage Center, Jakarta, Rabu (2/9).

Pengembangan tempe tersebut sejalan dengan konsep Dikti Saintek Berdampak, yang mendorong hasil riset perguruan tinggi tidak berhenti di laboratorium, tetapi dapat dimanfaatkan masyarakat dan memberikan dampak ekonomi.

Tim periset Universitas Indonesia melalui Program Bestari Saintek dengan pendanaan LPDP mengembangkan inovasi ragi tempe menggunakan kombinasi beberapa spesies Rhizopus. Riset dilakukan melalui pendekatan living lab, dengan pengujian dalam kondisi nyata dan memanfaatkan umpan balik pengguna.

Periset Bestari Saintek sekaligus akademisi UI, Prof Wellyzar Sjamsuridzal, mengatakan riset ragi juga menjadi bagian dari upaya memahami dan menjaga biodiversitas mikroba Indonesia.

"Ragi tempe merupakan bagian penting dari upaya memanfaatkan biodiversitas Indonesia untuk memperkuat ketahanan pangan. Melalui riset dan kolaborasi, keragaman mikroorganisme dapat dikembangkan secara bertanggung jawab menjadi inovasi yang bermanfaat bagi masyarakat," ujarnya.

Riset ini juga mempertimbangkan pengaruh suhu dan kelembapan terhadap fermentasi tempe sehingga diperlukan pengembangan ragi yang lebih adaptif terhadap kondisi lingkungan.

Sementara itu, FKS Group menjadi mitra dalam pengembangan dan scale-up inovasi dari laboratorium menuju skala pilot dan industri. VP Commercial FKS Group Danar Samron mengatakan proses hilirisasi membutuhkan pengujian, standardisasi, kesiapan produksi, keamanan pangan, serta keberlanjutan pasokan.

Pakar gastronomi dan chef Wira Hardiyansyah menambahkan, keragaman ragi dan praktik fermentasi merupakan bagian dari identitas kuliner Indonesia yang perlu dijaga sekaligus dikembangkan untuk memperkenalkan kekayaan rasa Nusantara ke dunia.

Diskusi yang digelar Direktorat Diseminasi dan Pemanfaatan Sains dan Teknologi bersama FKS Group dan LKBN ANTARA ini mempertemukan akademisi, industri, pemerintah, dan pakar pangan untuk membahas pengembangan ragi Nusantara sebagai bagian dari penguatan ketahanan pangan.

Melalui kolaborasi tersebut, tempe diharapkan tidak hanya menjadi pangan sehari-hari, tetapi juga menjadi contoh bagaimana biodiversitas, sains, teknologi, dan industri dapat menghasilkan inovasi pangan bernilai tambah serta berpotensi menembus pasar global.

sumber : Antara
Berita Lainnya

Rekomendasi