Rabu 09 Sep 2026 14:28 WIB

Ketika Ilmu Bertemu Persoalan, dari Kampus untuk Kemanfaatan

Bagaimana ilmu dan kepakaran perguruan tinggi dapat diubah menjadi karya.

Prof Ema Utami dari Amikom Yogyakarta
Foto: Amikom
Prof Ema Utami dari Amikom Yogyakarta

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh: Prof Ema Utami, Direktur Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Universitas Amikom Yogyakarta

Pekan lalu di kolom ini saya menulis tentang ilmu yang menjadi karya, berangkat dari sebuah pertanyaan yang disampaikan Rektor ITB kepada para wisudawan: “Apa yang akan Saudara lakukan dengan ilmu yang telah Saudara miliki?” Ilmu memang tidak seharusnya berhenti sebagai pengetahuan yang tersimpan dalam diri, tetapi sudah seharusnya menemukan jalan untuk menjadi karya yang memberi manfaat.

Baca Juga

Hari ini, Rabu, 9 September 2026, saya kembali bertemu dengan gagasan yang serupa, tetapi dalam konteks yang lebih luas, yakni pada acara Sarasehan Sains dan Teknologi Yogyakarta (SSTY) 2026 di The Rich Jogja Hotel yang diselenggarakan oleh LLDIKTI Wilayah V. Sebuah forum tahunan yang mempertemukan akademisi dengan berbagai persoalan pembangunan di Daerah Istimewa Yogyakarta dan tahun ini mengusung tema “Akselerasi Inovasi, Mendedikasikan Sains, dan Teknologi untuk Kemajuan Yogyakarta.”

Forum ini terbuka bagi dosen aktif di Perguruan Tinggi Swasta (PTS) maupun Perguruan Tinggi Negeri (PTN) se-DIY yang minimal berpendidikan S3 atau menyandang jabatan Guru Besar. Dalam grup percakapan yang dibentuk sebagai wadah koordinasi, tercatat lebih dari 1.000 dosen yang memenuhi kriteria tersebut. Sebuah angka yang menggambarkan betapa besarnya kekuatan intelektual yang dimiliki DIY jika seluruhnya dapat digerakkan menuju satu arah yang sama.

Mereka kemudian memilih kelompok atau klaster berdasarkan berbagai persoalan yang dihadapi di DIY, seperti klaster pariwisata dan budaya, lingkungan dan tata ruang, sumber daya manusia dan pendidikan, ketahanan pangan, persampahan, ketahanan iklim, kesehatan, UMKM dan ekonomi kreatif, kemiskinan dan layanan dasar, serta berbagai persoalan lainnya. Dari Universitas Amikom Yogyakarta saja, dua puluh delapan dosen tercatat mengambil bagian dalam berbagai klaster tersebut.

Pemilihan kelompok klaster oleh para dosen ini menarik karena menunjukkan bahwa kontribusi perguruan tinggi tidak selalu harus dimaknai secara sempit berdasarkan identitas program studinya. Keahlian teknologi dan informasi dapat bersinggungan dengan kesehatan, pendidikan, pariwisata, lingkungan, pangan, UMKM, hingga persoalan sosial lainnya.

Setiap klaster kemudian dipertemukan dengan isu strategis yang berbeda di masing-masing kabupaten dan kota. Sebagai gambaran, Kabupaten Sleman menetapkan tema pembangunan 2027 berupa “Peningkatan Daya Saing Ekonomi Melalui Transformasi Digital Didukung Tata Kelola Pemerintahan yang Berintegritas”, dengan isu strategis yang membentang dari penguatan ketahanan pangan lokal, kualitas pendidikan dan kesehatan masyarakat, internalisasi budaya lokal, pemerataan infrastruktur, ketangguhan terhadap bencana, hingga transformasi tata kelola pemerintahan berbasis teknologi informasi.

Rincian semacam ini membuat kontribusi akademisi menjadi jauh lebih terarah. Setiap dosen dapat melihat persoalan konkret apa yang sedang dihadapi daerah yang akan mereka bantu selesaikan. Persoalan pembangunan daerah kemudian menjadi titik awal untuk mempertemukan kebutuhan dengan kepakaran yang dimiliki perguruan tinggi.

Sebenarnya, konsep ini bukan sesuatu yang baru bagi mahasiswa Universitas Amikom Yogyakarta yang dalam perkuliahan, khususnya pada mata kuliah Metodologi Penelitian, sudah diperkenalkan pada cara berpikir bahwa penelitian sebaiknya berangkat dari sebuah permasalahan nyata yang dihadapi masyarakat atau lingkungan sekitar. Persoalan nyata itu kemudian direformulasikan menjadi persoalan akademik yang dapat diteliti secara ilmiah, sekaligus dicari aspek kebaruannya (novelty) sebagai kontribusi penelitian.

Prinsip tersebut kembali saya rasakan ketika melihat perjalanan akademik putri saya, Najwa Rashika, yang baru saja menyelesaikan studi S1 Teknik Dirgantara di ITB. Salah satu paper penelitian saat S1 yang berjudul Design and Characterization of A Student-Developed Solid Rocket Motor baru-baru ini telah terbit dan terindeks di IEEE Xplore, juga berawal dari persoalan yang sangat konkret, yaitu bagaimana merancang dan menguji solid rocket motor yang dikembangkan mahasiswa dengan memanfaatkan sumber daya yang tersedia secara lokal untuk mendukung pembelajaran propulsi roket.

Persoalan yang dibawa dalam forum SSTY 2026 pun harapannya tidak menjadi sekadar daftar kebutuhan pemerintah daerah, tetapi dapat menjadi pintu masuk bagi perguruan tinggi untuk bertanya kembali: “Sejauh mana ilmu yang dipelajari benar-benar dapat menjawab persoalan di sekitar kita?” Bagi perguruan tinggi yang kuat di bidang teknologi informasi seperti Universitas Amikom Yogyakarta, ruang kontribusinya sebenarnya bisa sangat luas. Transformasi digital, misalnya, dapat menjadi enabler lintas sektor. Di sinilah peran dosen dan peneliti menjadi sangat penting. Pendidikan tinggi tidak hanya menghasilkan orang yang mampu memahami ilmu, tetapi juga orang yang mampu menggunakan ilmu tersebut untuk membaca persoalan dan mencari jalan keluarnya.

Pertanyaan tersebut juga membawa saya kembali pada tulisan di kolom Lentera pekan lalu. Ilmu yang dimiliki seseorang baru akan menemukan makna ketika ia bersedia mengubahnya menjadi karya. Dan pada tingkat perguruan tinggi, karya itu tidak selalu harus berupa produk yang dapat langsung dilihat. Ia bisa berupa penelitian yang memberikan bukti, model yang membantu pengambilan keputusan, teknologi yang menyelesaikan persoalan, atau rekomendasi kebijakan yang membuat kehidupan masyarakat menjadi lebih baik.

Karena itu, saya melihat SSTY 2026 bukan hanya sebagai sebuah forum pertemuan para akademisi. Forum ini adalah kesempatan untuk mempertemukan ilmu dengan persoalan, kepakaran dengan kebutuhan, dan penelitian dengan kemanfaatan. Mungkin inilah salah satu bentuk jawaban dari pertanyaan yang saya tuliskan pekan lalu: “Apa yang akan kita lakukan dengan ilmu yang kita miliki?” Kita dapat menjadikannya karya dan lebih dari itu, kita dapat membawa karya tersebut untuk menjawab persoalan yang nyata dan memberi manfaat bagi sesama.

Allah SWT berfirman, “Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan permusuhan.” (QS. Al-Ma’idah: 2).

Ilmu akan menemukan maknanya ketika bertemu dengan persoalan. Dan persoalan akan menemukan jalan keluarnya ketika ilmu, kepedulian, dan kolaborasi dipertemukan. Wallāhu a'lam. 

Berita Lainnya

Rekomendasi