REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Kementerian Kehutanan mengumumkan titik kebakaran (hotspot) dengan kepercayaan tinggi (high confidence) di seluruh negeri turun menjadi 567 titik atau berkurang 121 titik dibanding sehari sebelumnya. Kementerian menegaskan akan melanjutkan berbagai operasi untuk menurunkan hotspot nasional.
Dikutip dari pernyataannya, Ahad (13/9/2026) Kementerian Kehutanan mengungkapkan catat hotspot high confidence diambil dari data SiPongi yang bersumber dari satelit NASA Terra/Aqua, SNPP dan NOAA-20.
Hingga, Sabtu (12/9/2026) tercatat jumlah hotspot high confidence di Kalimatan Tengah dan Kalimatan Selatan mengalami penurunan. Hotspot di Kalimatan Tengah turun dari 217 titik menjadi 197 sementara Kalimatan Selatan turun dari 47 titik menjadi tujuh titik.
Namun hotspot di Kalimatan Barat dan Sumatera Selatan mengalami kenaikan. Kalimatan Barat naik dari 51 titik menjadi 91 titik, Sumatera Selatan naik dari 11 titik menjadi 62 titik. Sementara sudah tidak ada hotspot high confidence di Riau dan Jambi.
Kementerian Kehutanan menegaskan hotspot merupakan indikasi anomali suhu permukaan yang terdeteksi satelit. Hotspot tidak pasti berarti adanya kejadian kebakaran.
Satu kejadian kebakaran dapat terdeteksi sebagai beberapa hotspot. Sehingga setiap indikasi anomalisi suhu permukaan tetap harus melalui pengecekan langsung di lapangan.
Kementerian mengatakan akan memperkuat patroli dan pengecekan lapangan serta operasi pemadaman di Kalimatan Barat dan Sumatera Selatan yang mengalami peningkatan hotspot. Kementerian menegaskan perkembangan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) sangat dinamis, tergantung pada kondisi cuaca maupun bahan bakar yang memicu kebakaran.
Untuk menjaga dan menekan angka hotspot di Kalimatan Barat dan Kalimatan Tengah, Kementerian Kehutanan menggelar Operasi Modifikasi Cuaca (OMC). Kementerian sudah menggelar 9 sortie penerbangan dengan menggunakan bahan semai sebanyak 7.200 kilogram NaCl di Kalimatan Barat, dalam operasi yang digelar dari 5 sampai 14 September.
Penyemaian dilakukan pada wilayah sasaran di Mempawah, Singkawang, Bengkayang, Landak, Kubu Raya, Sanggau, Sekadau, Sintang, Ketapang, dan Kayong Utara. Kementerian mengatakan OMC tersebut menghasilkan estimasi volume air hujan sekitar 87,9 juta meter kubik. Perhitungan peningkatan curah hujan secara keseluruhan akan dilakukan setelah operasi berakhir.