REPUBLIKA.CO.ID, YOGYAKARTA - Wali Kota Yogyakarta, Hasto Wardoyo menegaskan tidak boleh ada pungutan liar (pungli) maupun praktik premanisme di Kota Yogyakarta. Penegasan tersebut disampaikan merespons kasus dugaan pungli yang dialami pelaku usaha Bolosego saat hendak membuka food truck di kawasan Alun-Alun Selatan (Alkid) Yogyakarta.
Hasto menegaskan praktik pungli tidak boleh terjadi lagi di Kota Yogyakarta. "Pada prinsipnya kalau saya ya, di Kota Yogyakarta ini jangan sampai ada pungli itu penting ya. Jangan ada pungutan liar, jangan ada ya, kalau ada orang (pasti langsung berpikir) wah ada premanisme," kata Hasto saat diwawancara di Kompleks Balai Kota Yogyakarta, Senin (21/9/2026).
Pemkot Yogyakarta, lanjutnya, berkewajiban menjaga Kota Yogyakarta agar tetap sehat, tertib, dan aman. Karena itu, Hasto menegaskan persoalan pungli dan premanisme akan menjadi perhatian pemerintah.
"Kami harus menjaga Kota Yogyakarta ini sehat, tertib, aman. Itu yang harus kita lakukan, kita jaga terus," ujarnya.
Hasto juga mengatakan, masyarakat tidak perlu ragu melaporkan apabila menemukan pungutan liar maupun tindakan yang dirasa sebagai pemerasan. Ia menyebut masyarakat dapat menyampaikan laporan melalui berbagai kanal yang tersedia.
"Saya kira dengan saya membuka open house, kita juga membuat curhat setiap saat bisa lewat JSS, lewat mana saja, kalau seandainya ada yang kurang kanal untuk menyampaikan ya, ditemuilah ke saya, tiap hari Rabu kan juga saya bisa ditemui," katanya.
"Dengan cara begitu laporan-laporan kalau seandainya terjadi ada pungutan liar, ada hal-hal lain yang dirasa pemerasan ya lebih baik dilaporkan," ujar Hasto.
@republikajogja Video pengakuan pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) Bolosego soal dugaan pungutan liar (pungli) saat berjualan menggunakan food truck di Alun-Alun Selatan, Kota Yogyakarta, viral di media sosial. Pemilik Bolosego, Dyah Laily Fardisa, menceritakan pengalaman tersebut melalui video yang diunggah di akun TikTok @dyahfardisa pada 17 September 2026. Dalam video tersebut, Dyah mengatakan pihaknya baru satu hari berjualan di Alun-Alun Selatan sebelum akhirnya memutuskan untuk menarik food truck tersebut. Padahal aktivitas berjualan semula direncanakan berlangsung selama lima hari, 16-20 September 2026. Dyah menyebut, salah satu persoalan yang dihadapinya adalah permintaan uang parkir dari 'oknum' juru parkir. Menurut pengakuannya, awalnya pihaknya diminta membayar Rp2,5 juta per hari. Setelah negosiasi, nominal tersebut disebut turun menjadi Rp1 juta per hari atau total Rp5 juta untuk lima hari. "Punglinya banyak, apa disebut le ora pungli, kita bayar parkir 1 juta per hari, total 5 juta itu aja sudah proses nego. Tadinya tukang parkir minta berapa? 2,5 juta per hari, jadinya 12,5 juta 5 hari," paparnya. Menanggapi viralnya video tersebut, Wali Kota Yogyakarta Hasto Wardoyo mengaku prihatin. Ia mengatakan Pemkot Yogyakarta akan menindaklanjuti dugaan pungli tersebut dan mencari pihak yang melakukan permintaan uang kepada pelaku usaha. "Saya ikut prihatin. Karena selama ini, kami juga berusaha untuk menertibkan hal-hal seperti itu, tapi selama ini juga masih ada muncul di beberapa titik," ujarnya, Jumat (18/9/2026). Menurut Hasto, kejadian dugaan pungli di Alun-Alun Selatan tersebut bukan kali pertama. Hasto mengatakan persoalan serupa sebelumnya juga pernah terjadi ketika Pemkot Yogyakarta menggelar kegiatan UMKM dalam rangka Mustika Rasa di Alun-Alun Selatan. Saat itu, pihaknya juga mendapat permintaan pembayaran parkir dengan nominal yang dinilai tidak masuk akal. Reporter: Wulan Intandari Video editor: Susilawati #Pungli #Alkid #Parkir1Juta #AlunAlunKidul #PungliParkirAlkid ♬ original sound - Republika Jogja