
Oleh: Prof Ema Utami (Direktur Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Universitas Amikom Yogyakarta)
REPUBLIKA.CO.ID, Hari ini, Rabu, 7 Oktober 2026, saya kembali ke Fakultas MIPA Universitas Gadjah Mada. Tentu bukan untuk mengikuti kuliah, menghadapi ujian, atau mengejar tenggat penyelesaian disertasi seperti 20 tahun lalu. Kali ini saya datang untuk menghadiri Reuni Akbar Alumni S3 Ilmu Komputer DIKE FMIPA UGM.
Sebuah reuni ternyata tidak selalu sekadar menjadi pertemuan dengan teman-teman lama. Ada kalanya ia seolah menjadi cermin diri kita sendiri di masa lalu. Saya mengenal kampus ini sejak menjadi mahasiswa S1.
Tahun 1993 saya memulai pendidikan tinggi di Program Studi Ilmu Komputer, Fakultas MIPA UGM melalui jalur Pemilihan Bibit Unggul Daerah (PBUD). Empat tahun kemudian, pada 1997, saya menyelesaikan pendidikan S1 tersebut.
Saya kembali menjadi mahasiswa S2 di program studi dan fakultas yang sama pada tahun 2000 dan menyelesaikannya pada 2002. Perjalanan akademik tersebut kemudian berlanjut ke jenjang doktoral di tempat yang sama pada tahun 2006 hingga akhirnya saya menyelesaikan S3 Ilmu Komputer pada 2010.
Di balik tahun 1993 ada seorang mahasiswi muda yang mungkin belum memahami ke mana perjalanan pendidikan itu akan membawanya. Di balik tahun 2002 ada pengalaman menyelesaikan pendidikan magister sambil mulai membangun kehidupan sebagai dosen. Dan di balik tahun 2010 ada seorang doktor yang ternyata justru memasuki fase baru dalam perjalanan akademiknya.
Saat masih menjadi mahasiswa, menyelesaikan studi sering kali menjadi target dan tujuan utama. Menghitung semester, mengikuti kuliah, menyelesaikan tugas, menghadapi ujian, hingga menyusun penelitian dan kemudian mempertahankan skripsi, tesis, atau disertasi menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari perjalanan tersebut.
Tetapi setelah semuanya selesai, kita tersadar bahwa pendidikan sebenarnya tidak pernah berhenti pada ijazah. Di kampus, kita memang memperoleh pengetahuan. Tetapi di balik itu, kita juga belajar cara berpikir, cara bertanya, cara mencari jawaban, cara menerima kritik, bahkan cara menghadapi ketidakpastian. Semakin tinggi jenjang pendidikan, semakin terasa bahwa tidak semua pertanyaan memiliki jawaban yang sudah tersedia.
Saya masih mengingat masa S3 yang saya jalani mulai 2006 hingga selesai pada 2010. Pada masa itu, suasananya tentu sangat berbeda dengan pendidikan doktoral hari ini. Teknologi belum seperti sekarang. Akses terhadap publikasi ilmiah belum semudah saat ini. Berbagai pekerjaan yang sekarang dapat dilakukan dalam hitungan menit dahulu membutuhkan waktu dan kesabaran yang jauh lebih panjang.
Teknologi boleh berubah, cara kita mengakses ilmu boleh berubah, tetapi ada satu hal yang tidak banyak berubah, yaitu proses menjadi seorang pembelajar tetap membutuhkan ketekunan. Dan mungkin justru itulah salah satu pelajaran terbesar dari perjalanan akademik.
Karena itu, ketika hari ini saya kembali ke FMIPA UGM, saya tidak lagi melihat ruang-ruang akademik hanya sebagai tempat berlangsungnya perkuliahan. Saya melihatnya sebagai tempat yang pernah membentuk sebagian dari diri saya. Reuni hari ini juga membuat saya semakin menyadari betapa cepatnya waktu berjalan. Dari mahasiswa S1 pada 1993 hingga kembali sebagai alumni S3 pada 2026, ternyata lebih dari tiga puluh tiga tahun telah berlalu.
Jika perjalanan itu dilihat dari titik akhirnya, mungkin tampak panjang. Tetapi ketika dijalani, semuanya berlangsung melalui langkah-langkah kecil, satu mata kuliah, satu tugas, satu penelitian, satu ujian, satu diskusi, satu keputusan, dan kadang-kadang sebuah kegagalan yang memaksa kita untuk terus belajar lagi.
Pengalaman itu membuat saya kembali memikirkan mahasiswa yang saat ini saya dampingi di Universitas Amikom Yogyakarta. Mereka sedang berada di titik awal perjalanan yang dulu juga saya jalani. Bedanya, mereka menghadapi dunia yang jauh lebih cepat berubah, dengan teknologi yang berkembang begitu pesat, termasuk kehadiran kecerdasan artifisial yang mengubah cara orang belajar dan bekerja.
Bagi mahasiswa Universitas Amikom Yogyakarta, saya ingin berpesan: tidak perlu terlalu sibuk membandingkan perjalanan diri dengan orang lain. Setiap orang memiliki titik awal, kesempatan, tantangan, dan waktunya sendiri. Yang penting adalah memastikan bahwa setiap semester memberikan sesuatu yang bertambah: ilmu yang bertambah, kemampuan yang bertambah, pengalaman yang bertambah, dan kematangan yang bertambah.
Suatu hari nanti, tanpa terasa, mahasiswa yang sekarang sedang duduk di ruang kuliah akan kembali ke kampus sebagai alumni. Mungkin saat itu mereka akan melihat kembali perjalanan yang sedang mereka jalani hari ini dan menyadari bahwa tahun-tahun sebagai mahasiswa ternyata bukan sekadar masa untuk mendapatkan gelar. Ia adalah masa ketika seseorang sedang membentuk dirinya sendiri.
Dan ketika hari itu tiba, semoga mereka tidak hanya dapat mengatakan, "Saya pernah kuliah di Universitas Amikom Yogyakarta," tetapi juga dapat menjawab pertanyaan yang jauh lebih penting: "Apa yang telah saya lakukan dengan ilmu yang saya peroleh dari sana?"
Allah SWT berfirman: "Dan katakanlah: Ya Tuhanku, tambahkanlah kepadaku ilmu pengetahuan." (QS. Taha: 114). Mungkin itulah pesan yang paling saya rasakan dari reuni hari ini. Kita boleh menyelesaikan satu jenjang pendidikan, tetapi perjalanan belajar tidak pernah benar-benar selesai.
Bagi mahasiswa Universitas Amikom Yogyakarta yang sedang memulai perjalanan, nikmatilah prosesnya. Tidak perlu takut jika belum mengetahui seluruh arah. Yang penting, terus bergerak, terus belajar, dan jangan menyia-nyiakan kesempatan yang ada. Sebab, suatu hari nanti, kampus yang hari ini terasa begitu biasa bisa menjadi tempat yang paling banyak mengingatkan kita tentang siapa diri kita dahulu dan sejauh apa kita telah berjalan. Wallāhu a'lam.