
Oleh: Prof Ema Utami (Direktur Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Universitas Amikom Yogyakarta)
Ada satu pemandangan menarik di kampus Institut Teknologi Bandung (ITB) pada 1 November 2026, yakni para wisudawan yang diarak berkeliling kampus oleh adik tingkat dan teman-teman satu himpunan. Tradisi itu dikenal sebagai arak-arakan atau Parade Wisuda. Tahun ini, saya berkesempatan menyaksikannya bersama keluarga, mengikuti perayaan yang disiapkan oleh Keluarga Mahasiswa Penerbangan (KMPN), himpunan mahasiswa penerbangan yang diikuti Najwa Rashika selama kuliah S1 di ITB.
Tahun ini ITB menyelenggarakan wisuda sebanyak tiga kali. Namun, tidak setiap periode disertai tradisi arak-arakan oleh himpunan mahasiswa. Parade Wisuda berlangsung pada dua periode, yakni April dan Oktober. Najwa yang telah diwisuda pada Agustus lalu berkesempatan mengikuti arak-arakan bersama para wisudawan periode Oktober 2026.
Arak-arakan KMPN dilaksanakan pada Ahad, 1 November 2026. Kegiatan dimulai sejak pagi dari sekretariat himpunan. KMPN mendapat giliran kelima untuk memasuki tunnel dan Sunken Court. Kedua lokasi inilah yang menjadi bagian paling menarik perhatian dalam prosesi arak-arakan. Video penampilan di dua lokasi tersebut juga banyak beredar di media sosial dan masuk dalam berbagai unggahan yang ramai ditonton. Di sana, para wisudawan disambut oleh massa himpunan dengan sorakan, yel-yel, dan lagu-lagu kebanggaan. Setelah itu, rombongan melanjutkan perjalanan berkeliling sejumlah lokasi kampus, termasuk Plaza Widya Nusantara.
Lagu-lagu mars dan chant himpunan dinyanyikan sepanjang arak-arakan. Ada 'Angkat Tanganmu' yang membangkitkan semangat kebersamaan, 'Wanabakti' yang menyuarakan kebanggaan terhadap dunia penerbangan, hingga lagu-lagu jenaka tentang kehidupan mahasiswa. Liriknya kadang menggambarkan pengalaman yang hanya dipahami oleh mereka yang pernah menjadi bagian dari himpunan tersebut. Bagi orang tua yang menyaksikan, mungkin ada banyak bagian lagu yang tidak sepenuhnya dipahami. Namun, satu hal terasa jelas, yakni para mahasiswa itu sedang merayakan sesuatu yang lebih besar daripada sekadar kelulusan seorang teman.
Di tengah keramaian itu, ada beberapa hal kecil yang menarik perhatian. Bagaimana seorang adik tingkat memastikan orang tua wisudawan berada di tempat yang tepat. Bagaimana teman-teman satu angkatan menyambut rekannya. Arak-arakan di ITB ini seolah menjadi cara sebuah komunitas mengatakan kepada anggotanya bahwa perjalananmu kami saksikan, perjuanganmu kami hargai, dan keberhasilanmu juga menjadi kebahagiaan kami.
Pengalaman menyaksikan arak-arakan ini mengingatkan saya pada kehidupan kampus di Universitas Amikom Yogyakarta. Di lingkungan kampus, hubungan mahasiswa dan dosen juga tidak semestinya hanya dibangun melalui pertemuan di ruang kuliah, kegiatan praktikum, atau bimbingan akademik. Ada ruang-ruang interaksi lain yang tidak kalah penting, yakni percakapan setelah perkuliahan, kegiatan kemahasiswaan, diskusi informal, keterlibatan dalam penelitian, hingga kebersamaan dalam berbagai aktivitas kampus.
Hubungan non akademik seperti ini bukan sesuatu yang perlu dijauhkan dari kehidupan perguruan tinggi. Selama dibangun atas dasar tujuan yang baik, saling menghormati, dan tetap menjaga batas profesional, kedekatan tersebut justru dapat memperkuat proses pendidikan. Dukungan seorang dosen, misalnya, tidak selalu hadir dalam bentuk materi kuliah atau arahan penelitian. Ada kalanya dukungan itu berupa kesediaan mendengarkan, memberi semangat ketika mahasiswa menghadapi kesulitan, atau sekadar menyapa dan menanyakan kabar. Hal-hal sederhana seperti itu dapat membangun rasa percaya dan kedekatan yang bertahan jauh setelah mahasiswa menyelesaikan studinya.
Seseorang boleh saja telah menyelesaikan studinya, tetapi ikatan yang dibangun selama menjadi mahasiswa tidak harus berakhir bersama wisuda. Ikatan itu dapat menjadi jejaring persahabatan, ruang berbagi pengalaman, bahkan tempat saling menguatkan ketika menghadapi tantangan setelah meninggalkan kampus. Pengalaman tumbuh bersama di kampus menjadi bekal yang dapat mempertemukan mereka kembali.
Allah SWT berfirman: "Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan permusuhan." (QS Al-Mā’idah: 2). Ayat ini mengingatkan bahwa kebersamaan bukan sekadar soal kedekatan atau seringnya kita berinteraksi, yang lebih penting adalah ke mana hubungan itu diarahkan. Di kampus, hubungan antarmahasiswa maupun antara mahasiswa dan dosen semestinya menjadi ruang untuk saling mendukung dalam kebaikan, mengembangkan potensi, dan menumbuhkan kepedulian. Ikatan yang dibangun dengan niat baik tidak semestinya berakhir ketika seseorang meninggalkan kampus.
Selamat melanjutkan perjalanan, Najwa dan seluruh wisudawan ITB Oktober 2026. Terima kasih kepada adik-adik KMPN yang telah menghadirkan perayaan penuh kehangatan. Semoga kebersamaan yang tumbuh di kampus tetap terawat, bahkan ketika setiap orang telah menempuh jalan yang berbeda. Wallāhu a’lam.